Oleh: Anwar AbbasLANGIT7.ID-Piala Dunia memang belum berakhir. Namun bagi saya, Lionel Messi sudah sangat layak mendapatkan apresiasi yang tinggi. Bukan semata karena hingga semifinal ia memimpin daftar pencetak gol dengan delapan gol dan empat assist, tetapi juga karena kemampuannya membangkitkan semangat tim di saat Argentina berada dalam situasi paling sulit.
Meskipun Piala Dunia belum berakhir, Messi sangat patut diapresiasi. Di samping berpeluang dinobatkan sebagai top scorer Piala Dunia dengan torehan delapan gol dan empat assist hingga pertandingan semifinal, yang lebih penting adalah keberhasilannya memimpin rekan-rekannya bangkit dari keterpurukan.
Lihat saja saat laga hidup-mati melawan Mesir di babak 16 besar. Argentina sempat tertinggal 0-2. Banyak pendukung Argentina sudah berputus asa karena melihat sisa waktu yang sangat sedikit. Rasanya hampir mustahil Argentina mampu mengejar ketertinggalan tersebut. Namun Messi, sebagai seorang sutradara sekaligus aktor di lapangan, mampu mengatur permainan dan menggerakkan rekan-rekannya. Pada akhirnya, Argentina berhasil membalikkan keadaan dan menang 3-2.
Hal serupa juga terjadi pada pertandingan semifinal melawan Inggris. Meskipun serangan-serangan Argentina cukup gencar, justru pada menit ke-55 gawang Argentina dibobol Anthony Gordon sehingga Inggris unggul 1-0.
Para pendukung Argentina benar-benar dibuat ketar-ketir. Hingga menit ke-85, gol penyeimbang yang dinantikan tak kunjung tercipta. Namun, untunglah Messi dengan cerdik mengirimkan bola kepada Enzo Fernandez yang berada beberapa meter di luar kotak penalti. Enzo langsung menyambar umpan tersebut dengan tendangan keras yang tidak mampu ditepis kiper Inggris. Skor pun berubah menjadi 1-1.
Setelah waktu normal 90 menit berakhir, wasit memberikan tambahan waktu sembilan menit. Dalam masa injury time itu, Argentina di bawah komando Messi terus melancarkan serangan. Hasilnya datang pada menit ke-90+2 ketika Lautaro Martinez menerima umpan matang dari Messi di depan gawang Inggris. Dengan mudah Martinez menanduk bola tersebut sehingga skor berubah menjadi 2-1 untuk Argentina.
Stadion pun langsung bergemuruh seolah akan runtuh. Pendukung Argentina bersorak gembira, sementara pendukung Inggris tampak terdiam kaku. Ada yang menggigit bibir dan jarinya, ada pula yang terlihat layu karena sudah membayangkan tim kesayangan mereka akan kalah.
Meski demikian, para pemain Inggris tetap berusaha keras menyamakan kedudukan pada sisa waktu pertandingan. Mereka memberikan tekanan luar biasa ke daerah pertahanan Argentina, bahkan hingga kiper Inggris ikut maju ke tengah lapangan. Namun usaha tersebut tetap gagal karena peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan akhirnya berbunyi.
Demikianlah sepak bola. Ada yang menang dan ada yang kalah. Ada yang bergembira dan ada pula yang bersedih.
Saya adalah salah satu dari jutaan orang yang ikut bergembira karena Messi, pemain yang saya kagumi, berhasil membawa timnya menang.
Seandainya nanti pada laga final Messi karena sesuatu hal tidak bisa tampil melawan Spanyol, mungkin saya tidak akan menonton pertandingan puncak Piala Dunia tersebut. Bagi saya, Messi adalah seniman sepak bola yang memiliki magnet luar biasa.
Hal itu sama seperti Valentino Rossi di MotoGP. Bagi saya, Rossi adalah magnetnya MotoGP. Jika ia terjatuh dari motornya dan tidak bisa melanjutkan balapan, maka televisi pun akan saya matikan.
Begitulah sikap penonton yang bermacam-macam. Salah satu di antaranya adalah saya, karena saya lebih menyukai dimensi seni dalam olahraga.
Saya senang melihat bagaimana indahnya Messi mempermainkan bola, meliuk-liuk di tengah kepungan lawan, hingga dari sudut yang sangat sempit mampu mencetak gol ke gawang lawan.
Begitu pula Valentino Rossi. Saya menikmati bagaimana indahnya ia menyalip lawan-lawannya secara halus dan sangat tipis di tikungan, serta bagaimana hebatnya ia memacu motornya dari belakang hingga akhirnya menjadi juara.
Tidak bisa dimungkiri, keduanya sama-sama luar biasa. Mereka sama-sama diakui dunia sebagai maestro dan megabintang dalam cabang olahraga masing-masing.
Semoga Messi dapat untuk kedua kalinya secara berturut-turut mengangkat Piala Dunia di tribun kehormatan. Itulah impian yang tentu sangat didambakan oleh setiap pemain.
(Pengagum dan Pendukung Messi serta Valentino Rossi, Anwar Abbas)(lam)