LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Dr Ustaz Adian Husaini mengatakan, guru merupakan seorang pejuang atau mujahid yang mengemban profesi mulia. Karena itu, jasa guru sangatlah besar terhadap generasi penerus bangsa.
"Bahwa guru adalah mujahid atau para pejuang dan mereka lah yang bertanggung jawab terhadap maju atau mundurnya masa depan bangsa ini," kata Ustaz Adian saat di wawancara
Langit7.id, Jumat (25/11/2022).
Ustaz Adian menuturkan bahwa menjadi seorang guru harus memiliki jiwa keikhlasan dan kesungguhan dalam mengajar. Sebab tidak sembarang orang memiliki kapasitas untuk mengemban tugas sebagai guru.
Baca Juga: Kedudukan Guru dalam Islam, Bukan Hanya Pengajar tapi Pewaris Nabi Dia menegaskan, orang tua juga harus memiliki peran sebagai guru di lingkungan keluarga. Karena mereka merupakan tempat belajar seorang anak di dalam kehidupan dan tumbuh kembang buah hati.
"Kalau orang tua tidak mampu mendidik, terutama mendidik akhlak, maka kewajiban orang tua adalah mencarikan guru buat anaknya. Jadi status wajib mendidik sebenarnya bukan hanya guru tapi orang tua," jelasnya.
Dia menegaskan bahwa tugas utama dalam mendidik adalah menghindari peserta didik dari panasnya api neraka. Karena itu, penting bagi para pengajar baik guru ataupun orang tua untuk memberikan ilmu agama sebagai ilmu yang terpenting dalam pendidikan.
Baca Juga: Hukum Membuka Tali Kafan Jenazah saat Proses Pemakaman"Tugas orang tua itu mendidik anaknya, supaya apa? Supaya yang terpenting keluarganya, anaknya semua itu masuk surga," ujar Ustaz Adian.
Penunut ilmu, lanjut dia, juga harus memiliki adab. Di antaranya yakni beradab kepada dirinya sendiri, yang berarti bahwa mencari ilmu itu harus didasarkan dengan rasa ikhlas dan sungguh-sungguh.
Adapun abad kepada guru, yang mana sebagai penuntut ilmu harus memilih guru yang benar. Layaknya dokter, ketika kita berobat kita harus memilih dokter yang bisa dipercaya untuk menangani permasalahan kesehatan diri kita.
"Kemudian adab kepada ilmu, dia harus menempatkan ilmu pada tempatnya yang betul. Mana ilmu yang fardhu ain, mana yang harus di dahulukan, kemudian ilmu yang fardhu kifayah, ilmu yang sunnah, yang mubah," jelasnya.
Baca Juga: Tanah Karo, Saksi Kisah Perjuangan Dai dan Minoritas Muslim(zhd)