LANGIT7.ID, Jakarta -
Guru memiliki definisi yang sangat luas. Guru merupakan sosok yang diberi anugerah oleh Allah keahlian dalam satu bidang ilmu. Dari keahlian tersebut, guru memiliki amanah atau tanggungjawab mengajarkan kepada siapapun.
Pakar Filsafat Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
Dr Fahruddin Faiz, mencontohkan seorang ibu dalam rumah tangga. Seorang ibu diberi ilmu pengasuhan oleh Allah. Maka, dia memiliki peran sebagai ibu sekaligus guru bagi anak-anaknya.
“Bentuk ilmu apapun seperti ilmu seorang ibu yakni ilmu kepengasuhan anak, maka dia bertanggung jawab di balik anugerah itu ada amanat untuk mengajarkannya,” kata Fahruddin dalam webinar yang digelar Pandi Institute, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Fahruddin Faiz: Guru Tak Sekadar Informan tapi Harus Jadi Teladan
Konsep tersebut berlaku bagi siapa saja. Jika mendapat anugerah ilmu, maka tidak boleh digunakan untuk kesenangan diri sendiri. Di balik anugerah ilmu ada amanah untuk mengajar. Tak mesti ilmu yang didapat melalui lembaga pendidikan formal, bisa juga dari pengalaman hidup.
“Berarti siapapun yang dapat anugerah ilmu, entah lewat pendidikan formal atau pengalaman hidup, dia punya amanah atau tanggungjawab untuk mengajar. Begitu dia dianugerahi ilmu, sebenarnya statusnya guru. Di level apapun,” kata Fahruddin.
Fahruddin membeberkan satu prinsip yang harus dipegang setiap guru, yakni guru yang tidak murid bukan guru yang baik. Artinya, guru yang tidak murid berarti sudah tidak mau belajar lagi.
“Dia memosisikan dirinya harus ngajar saja. Dia menganggap ilmunya sudah tuntas, tidak terbuka lagi untuk mendapat masukan-masukan baru,” ucap Fahruddin.
Baca Juga: 5 Tips untuk Guru Tingkatkan Spiritualitas agar Berhasil Didik Murid
Guru yang seperti itu, kata dia, sebenarnya sudah tidak pantas lagi untuk mengajar. Itu karena ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan. Ilmu pengetahuan tahun 90-an berbeda dengan ilmu pengetahuan pada 2022.
“Murid yang tidak guru juga tidak efektif. Murid itu kan sedang belajar, mencari ilmu. Ada cara efektif untuk bisa menguasai ilmu lebih dalam, yakni dengan cara mengajar. Belajar yang paling efektif itu yang mengajar,” kata Fahruddin.
Murid harus bisa menjadi guru agar ilmu yang didapatkan bermanfaat. Guru harus mau memposisikan diri sebagai murid agar tidak macet.
Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, jadikan setiap orang sebagai guru, setiap tempat jadi sekolah, dan setiap peristiwa jadi pelajaran. Konsep dari Ki Hajar Dewantara itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari. Dalam bahasa agama dikenal istilah ibrah atau hikmah dari setiap peristiwa.
Baca Juga: Falsafah Pendidikan Ki Hajar: Memanusiakan Manusia, Selamat dan Bahagia
“Bahkan terhadap Sambo sekalipun, kita bisa mengambil pelajaran, wah saya tidak boleh jadi dia. Dalam bahasa agama disebut ibrah. Kita mengalami apa saja itu adalah pelajaran. Setiap tempat adalah sekolah, meskipun hanya sekadar ngobrol di kantin, restoran, itu kan jadi ruang sekolah karena di situ ada banyak ibrah,” ujar Fahruddin.
(jqf)