LANGIT7.ID, Jakarta - Co-founder of Symbolic.id dan vokalis Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh menilai ada perubahan konsep belajar yang didapati dalam sistem pendidikan formal di sekolah-sekolah. Itu harus diubah agar setiap manusia bisa menentukan potensi dirinya untuk berkontribusi pada masyarakat.
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah manusia merupakan bagian dari alam. Manusia lahir dari proses alam selama jutaan tahun. Jadi, naluri-naluri dasar manusia sudah tertanam sejak bayi. Salah satunya adalah naluri untuk belajar.
Naluri belajar bisa terlihat keinginan atau keinginbisaan anak-anak mencapai sesuatu. Ingin berjalan misalnya setelah merangkak. Itu salah satu prinsip alam yang kadang dilupakan di sekolah-sekolah.
"Keingintahuan itu kemudian membutuhkan dia untuk belajar. Keinginbisaan membutuhkan dia untuk belajar. Jadi, di sini belajar adalah sarana untuk mencapai sesuatu. Nah, itu salah satu prinsip alam yang kadang dilupakan di sekolah," kata Sabrang melalui kanal
Akademi Salam, dikutip Kamis (17/3/2022).
Baca juga: Sistem Pendidikan Menurut Al-Qur'an, Sinergi Proses Ta'lim dan TarbiyahSekolah marak dipahami sebagai wadah mencari pekerjaan. Ada anggapan belajar adalah sesuatu yang dipaksakan kepada murid. Padahal itu adalah naluri dasar manusia. Sehingga, tujuan dan anggapan seperti itu hanya membunuh kreativitas manusia.
"Saya sangat jarang mendengar ada anak yang sangat semangat ke sekolah karena ingin belajar. Biasanya kalau ada yang semangat ke sekolah itu pengen main sama temannya, ngerjain gurunya, kegiatan-kegiatan yang dianggap sebagai tidak belajar itu tadi," kata Sabrang.
Sekolah seharusnya menjadi wadah untuk mengembalikan naluri itu. Bukan justru membuat sistem pendidikan yang memisahkan arus alam dalam diri manusia sehingga keingintahuan menjadi terhambat.
Sekolah harus menerapkan konsep
contextual learning. Jadi anak belajar dari konteks apa yang diinginkan. Manusia jika ingin berjalan maju harus melalui jalan yang dia inginkan. Jika berjalan maju karena didorong, dia akan berhenti ketika dorongan itu hilang.
"Jadi, proses belajar memang paling efektif dicantolkan kepada keinginan untuk maju si anak atau manusia ini tadi. Karena semua manusia tidak pernah puas pada posisinya, pasti selalu ingin bergerak," tutur Sabrang.
Baca juga: Kebahagiaan Seorang Ayah, Anak-anaknya Bangga Jadi MuslimSabrang mengatakan, akuisisi ilmu yang diformalkan menjadi sekolah menjadi metode objektif pembelajaran saat ini. Pada satu sisi justru meredam keingintahuan manusia atau meredam arus alam yang ada dalam dirinya.
Naluri dasar manusia sebagai bagian dari alam yang terbentuk dari proses evolusi alam 6 juta tahun lebih merupakan arus yang sangat besar. Jika arus seorang anak tidak dihambat, maka maksimal dia akan menjadi diri dia sendiri.
"Mungkin tidak seperti yang dikonsepkan oleh orang tuanya atau manusia lain, tapi justru esensi yang terbaik dari manusia karena dia bisa menemukan dirinya sendiri, menemukan keunikannya, sehingga dia bisa memberi kontribusi yang tidak bisa diberikan oleh manusia lain pada
society," ucap Sabrang.
Ketika setiap manusia memiliki keunikan masing-masing memberi kontribusi yang berbeda pada masyarakat. Masyarakat menjadi sebuah kumpulan manusia dengan keunikannya saling bekerja sama. Itu menjadikan masyarakat lebih besar daripada anggota-anggotanya itu.
Hal itu harus diluruskan, agar sekolah tidak menghalangi arus yang ada dalam diri manusia, tapi juga menghubungkan antara proses subjektif belajar manusia dengan konteks keadaan saat ini.
Pendidikan formal yang kita alami selama ini berasal dari kebutuhan pekerja secara masal. Sehingga metode pendidikan pun rumit, satu guru mengajar banyak murid. Jadi, yang diajarkan seragam.
"Targetnya bukan untuk menumbuhkan manusia, walaupun berefek ke situ, tapi target utamanya adalah menyediakan manusia yang siap untuk berkontribusi di society, dengan kata lain menyiapkan pekerja," kata Sabrang.
Dalam ledakan revolusi industri dibutuhkan banyak pekerja yang bisa mengoperasikan mesin. Itu terbawa sampai sekarang, walaupun keadaanya sudah berubah. Semua yang dilakukan mesin sebentar lagi akan digantikan oleh automasi, karena mesin learning (AI) sudah sangat pandai.
Baca juga: Pesantren Muara Intelektual, Harus Go InternasionalJadi, kalau mau bersaing dengan mesin, manusia tidak akan bisa. Kalkulator saja jauh lebih pintar untuk urusan menghitung daripada otak manusia. Berlomba dengan mesin bukan seperti itu, tapi beradaptasi dengan keadaan sekarang dengan menemukan arus utama yang diciptakan alam pada diri manusia.
"Jadi menemukan keunikan manusianya, menemukan potensi terbaiknya, yang mungkin tidak dipahami oleh orang lain, yang membuat manusia luar biasa seperti ini adalah hipotesis yang berbeda yang lahir dari manusia justru dari keunikan pengalaman hidupnya," kata Sabrang.
(jqf)