LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, KH Reza Ahmad Zahid (Gus Reza), menyampaikan, pondok pesantren merupakan muara intelektual. Semua komponen yang ada di pondok pesantren adalah orang-orang intelektual.
"Jangan dilihat dari casing-nya saja, tetapi isinya yang harus kita resapi," kata Gus Reza dalam Sarasehan Pesantren Nasional yang digelar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, dikutip laman
UINSA, Jumat (11/3/2022).
Baca juga: Pesantren, Wadah Pendidikan Ideal untuk AnakDia mengatakan, para kiai, ustadz, dan santri di pondok pesantren sudah memenuhi syarat dan rukun seorang intelektual. Sebab, seorang intelektual adalah orang yang selalu berpikir kritis, melakukan penelitian, peka dengan problematika sosial masyarakat dan turut mencari solusi.
"Jadi, syarat-syarat imi sudah ada dalam diri seorang santri. Santri memiliki pemikiran kritis, karena sudah terbiasa dihadapkan dengan berbagai kitab yang harus dihafal. Karena terbiasa dengan hafalan akhirnya menjadi santri yang cerdas dan kreatif," ucapnya.
Menurut Gus Reza, pondok pesantren saat ini sudah waktunya go internasional. Khazanah yang ada di pesantren harus mulai diperkenalkan di ranah internasional. Hal terpenting, ciri pesantren yang harus dibawa dari pesantren adalah akhlak atau budi pekerti.
Baca juga: Rektor UINSA: Kemandirian Adalah Nafas dan Karakter Pesantren"Santri harus selalu dapat memberikan kedamaian di lingkungan masing-masing. Ini yang mungkin bisa diperkenalkan ke kancah internasional," kata Gus Reza.
Dia berpesan agar santri tidak membedakan antara kiai, ustadz, guru, ataupun dosen. Dikotomi terkait hal itu terkadang menjurus pada perbedaan perlakuan terhadap mereka.
"Jika dibeda-bedakan, kadangkala menjurus pada perbedaan perlakuan terhadap guru yang mengajar ilmu umum dan guru yang mengajar ilmu agama," ucap Gus Reza.
(jqf)