LANGIT7.ID, Jakarta - Peran dan kontribusi pondok pesantren sudah dirasakan bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka. Sebelum penjajah datang ke Indonesia, pesantren menjadi pusat perubahan masyarakat Melalui kegiatan penyebaran agama.
Hal itu tercermin dalam berbagai pengaruh pesantren terhadap kegiatan politik di antara raja dan pangeran Jawa. Saat Belanda mendarat di Nusantara, pesantren menjadi pusat perlawanan dan pertahanan. Pada masa revolusi, pesantren selalu memainkan peran penting hingga saat ini.
Baca juga: Kemenag Buka Pendaftaran Bantuan Bisnis Pesantren, Bisa Dapat Ratusan Juta RupiahPenulis buku
Celoteh Santri, Kholid Ma’mun, menerangkan, dalam sejarah Islam di Indonesia, pesantren memiliki peranan besar dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban.
“Budaya pendidikan berbasis pondok pesantren merupakan salah satu karunia Allah Ta’ala,” kata Kholid melalui laman resmi
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, dikutip Kamis (10/2/2022).
Dalam kondisi sosial masyarakat yang mengalami degradasi keteladanan, kemanusiaan, serta keilmuan, pesantren tampil sebagai solusi untuk menjawab tantangan itu.
Kerusakan multidimensi di tengah masyarakat, tidak mungkin diatasi hanya melalui dimensi transformasi ilmu (
ta'lim) saja, tapi harus dibarengi transformasi akhlak (
ta’dib) melalui keteladanan, serta mujahadah dalam upaya menjemput hidayah.
Baca juga: UAS Paparkan Kelebihan Jadi Santri di Pondok PesantrenKurikulum pesantren tidak terbatas pengajar di kelas saja, tapi mencakup hampir seluruh aspek kehidupan. Itu menjadikan santri menjaga akal pikir, tingkah laku, dan hati sekaligus baik di dalam dan di luar kelas.
Kholid menjelaskan, pengajaran hanya bagian dari kehidupan, maka pendidikan harus lebih luas dari itu. Ini cara pesantren memahami dan menerapkan pendidikan berbasis karakter.
“Totalitas pendidikan inilah yang menjadikan pendidikan pesantren berpeluang lebih besar dalam kesuksesan pendidikan bangsa dan negara,” kata Kholil.
Dia lalu menjelaskan lima alasan pesantren sebagai pendidikan ideal. Pertama, santri di pesantren diajarkan disiplin yang ketat, dalam segala hal. Bukan hanya disiplin dalam shalat berjamaah, tapi juga disiplin tinggi dalam semua aspek kehidupan.
Kedua, pesantren mengajarkan kemandirian. Kemandirian diajarkan bertujuan agar para santri mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri. Itu diharapkan ketika mereka nanti terjun di masyarakat bisa menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan lingkungan dalam keadaan serta situasi apapun yang dihadapi.
Ketiga, selain
tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama), pesantren juga mengajarkan kreativitas. Di pesantren, santri diberikan banyak ruang untuk melakukan aktivitas dan menyalurkan hobi.
“Bermacam-macam fasilitas olahraga, kursus-kursus kesenian dan keterampilan serta bidang lain sebagai sarana untuk memfasilitasi santri dalam menyalurkan bakat dan kreativitasnya,” kata Kholil.
Keempat, pesantren mengajarkan tanggung jawab. Pesantren mengajarkan apapun aktivitas dan pekerjaan yang dilakukan santri, maka ia harus berani bertanggung jawab.
Baca juga: 7 Kitab Dasar yang Diajarkan di Pesantren IndonesiaJika melakukan kebaikan, maka akan mendapat apresiasi. Namun sebaliknya, jika melakukan kesalahan dan pelanggaran, maka akan mendapatkan sanksi. Sanksi itu merupakan bentuk pendidikan kepada santri.
Kelima, pesantren mengajarkan keikhlasan. Santri di pesantren diajarkan keikhlasan, karena ikhlas adalah ruh utama pesantren. Ikhlas adalah energi, ikhlas adalah sumber kekuatan, dan syarat amal seseorang diterima di sisi Allah.
(jqf)