LANGIT7.ID, Jakarta - Dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) memaparkan keuntungan anak-anak yang menjadi santri di pondok pesantren. Kelebihan tersebut hanya salah satu aspek di antara kelebihan-kelebihan lain.
Salah satu kelebihan paling mencolok adalah kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan bahasa Arab. Bahasa tak hanya dipakai untuk bercakap-cakap saja, tapi juga untuk mendalami kitab-kitab ulama terdahulu, atau kitab kuning.
"Itu salah satu kelebihan santri, diajak bahasa Arab oke, karena setiap hari baca Kitab Kuning, (berbicara) bahasa Inggris, oke. Mau pakai bahasa daerah, bisa. (Pakai) bahasa Indonesia, memang dia paling cinta NKRI," kata UAS saat menyapa santri di salah satu pondok pesantren yang ditayangkan kanal YouTube
Ustadz Abdul Somad, dikutip Selasa (1/3/2022).
Baca juga: DMI: Pondok Pesantren Harus Jadi Lokomotif PerubahanUAS menjelaskan, salah satu penyebab utama santri mampu menguasai bahasa asing dengan baik adalah karena faktor lingkungan. Santri berada di lingkungan pondok selama 24 jam. Mereka juga mendapat pendidikan non-stop.
"Bagaimana mungkin kita bisa paham bahasa orang lain, kalau kita cuma sekolah dari jam 08.00 masuk pulang jam 01.00, cabutnya tiga jam. Bertemannya hanya di sekitar lingkungan dekat rumahnya saja. Kalau tinggal di pesantren, mondoknya enam tahun, tujuh tahun," ucap UAS.
Kondisi itu yang membuat santri memiliki karakter kuat. Karakter itu terus dibawa meski sudah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren. Maka itu, UAS menganggap pesantren menjadi lembaga pendidikan terbaik di Tanah Air.
"Pulangnya cuman liburan semester, bahkan mungkin hanya idul fitri saja, atau mungkin tak pulang-pulang karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Maka pergaulannya adalah dari Sabang bukan sampai Merauke, tapi Sabang sampai Maroko, karena tanpa ada batasan," kata UAS.
Baca juga: Ustaz Abdul Somad Paparkan 3 Manfaat Datang ke Majelis IlmuSaat berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Firdaus, Kemiling Permai, Lampung, UAS juga menyampaikan hal serupa. Dia memaparkan, pendidikan pesantren sangat penting untuk anak.
Dia menganalogikan pesantren sebagai tembok yang kokoh yang dapat membentengi anak-anak dari pergaulan negatif. Santri di pondok pesantren sudah pasti terhindari narkoba dan efek pergaulan bebas lainnya.
"Mereka dididik dari mulai tidur sampai tidur. Sanggup orang tua kontrol anaknya 24 jam? Di pesantren, anak diajarkan sejak tidur harus miring ke kanan,.baca doa. Sampai cara makan tangan kanan. Yang bisa itu kiai di pesantren," ucap UAS.
Dia menyebut Pesantren merupakan benteng terakhir umat Islam. Otak para santri bisa bersih karena tidak merokok dan tidak main game online. Hati mereka bersih karena diajari agar tidak hasad (dengki) setelah diisi dengan tawakal dan tawadhu.
"Masyarakat, bersyukurlah ada pesantren. Kalau pesantren kekurangan, bantulah, datang bawa beras. Saudaraku, kalau di dompetmu ada Rp1 juta, kau sedekahkan Rp100 ribu. Kau pulang ke rumah, mati, yang mau kau bawa mati Rp900 ribu sisa di dompet tadi apa Rp100 ribu yang dikasih? Rp100 ribu itulah yang kau berikan untuk menerangi kuburmu. Hari ini kau boleh tertawa, nanti kau mati sedekah-sedekahmu itu di pesantren itu yang kau bawa," tutur UAS.
(jqf)