LANGIT7.ID-Jakarta; Abdul Somad mengungkap sudut pandang berbeda terkait konflik global yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dalam ceramahnya, ia menilai bahwa banyak perang modern tidak bisa dilepaskan dari perebutan sumber daya strategis, terutama minyak.
Menurutnya, berbagai konflik besar yang terjadi di Timur Tengah hingga Amerika Latin memiliki pola yang serupa, yakni berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan energi.
Ia mencontohkan invasi ke Irak yang dikaitkan dengan isu senjata pemusnah massal, namun hingga kini tidak ditemukan bukti yang dimaksud. Dalam pandangannya, ada kepentingan lain yang lebih besar di balik peristiwa tersebut.
“Masih ingat cerita senjata pemusnah massal Lalu kemudian patung Saddam Husein dijatuhkan, Saddam Husein ditangkap lalu kemudian digantung sampai hari ini tidak ada senjata pemusnah massal. Lalu sebetulnya apa yang mau dicari di Irak itu? Yang mau dicari adalah sumur-sumur minyak Irak," ujar Ustadz Abdul Somad dalam webinar Hijrah Bersama UAS, dengan tema Bagaimana Muslimin Menyikapi Krisis, dikutip Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Ustadz Abdul Somad: Dunia Memang Selalu Diwarnai Perang, Muslim Jangan KagetSelain Irak, ia juga menyinggung kondisi Libya saat kepemimpinan Muammar Gaddafi yang berakhir dengan konflik internal dan intervensi. Ia menyebut, setelah perubahan kekuasaan, sumber daya minyak menjadi lebih mudah dikuasai.
Dalam analisisnya, pola serupa juga terjadi di negara lain seperti Iran dan Venezuela, yang memiliki cadangan minyak besar dan kerap berada dalam tekanan geopolitik.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konflik global saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari pertarungan kekuatan besar dunia. Ia menyebut adanya tarik-menarik antara blok Barat yang diisi Amerika dan Eropa dengan blok Timur seperti Rusia dan China.
“Jadi saya tidak termasuk yang suka mengawang-awang begitu begini begono. Saya rasional. Ini adalah perebutan minyak Andai kita tidak ada minyak, lalu apa yang terjadi? Lumpuh, ekonomi akan lumpuh,” ujar dia.
Ia menegaskan pentingnya memahami konflik secara rasional dan tidak hanya melihat permukaan. Menurutnya, kesadaran geopolitik menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu benar.
Ceramah tersebut juga menjadi pengingat bahwa krisis global tidak hanya berkaitan dengan politik atau ideologi, tetapi juga erat dengan kepentingan ekonomi yang memengaruhi stabilitas dunia.
(lam)