LANGIT7.ID, Jakarta - Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) merayakan milad ke 55 tahun. Kementerian Agama mendorong Dewan Dakwah merevitalisasi, menghidupkan kembali, serta mereaktualisasi gagasan-gagasan besar para pendiri dan pendahulu organisasinya.
Dewan Dakwah berdiri pada 26 Februari 1967. Pendiri dan pembangun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia terdiri dari ulama pejuang, negarawan, dan tokoh masyarakat muslim yang matang dalam perjuangan dan berpandangan jauh ke depan dengan komitmen keislaman dan keindonesiaan
Para pencetus Dewan Dakwah di antaranya Mohammad Natsir (Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia), Mr. Mohammad Roem (Menteri Luar Negeri RI), Mr. Sjafroedin Prawiranegara (Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia), dan Prof. Dr. HM Rasjidi (Menteri Agama pertama RI).
Baca Juga: Ketum Dewan Dakwah Ingatkan Kembali Dua Warisan Mohammad Natsir“Segenap jajaran Dewan Dakwah perlu merevitalisasi dan mereaktualisasi gagasan-gagasan besar para pendiri dan pendahulu organisasinya sebagai energi intelektual dalam menghadapi realitas masa kini dan masa depan,” kata Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, Fuad Nasar dalam pernyataan pers yang diterima redaksi, Ahad (27/2/2022).
Fuad menggaris-bawahi pesan Mohammad Natsir pada 1969 dalam suatu acara di Kementerian Agama, Menurut dia, pesan ini penting dan relevan dengan cara umat Islam menghadapi tantangan dakwah dewasa ini.
“Beliau waktu itu mensinyalir hal-hal yang menjadi kelemahan dakwah Islam di negara kita, seperti kurangnya riset dan analisa serta konsultasi dalam kegiatan dakwah,” kata Fuad.
Baca Juga: Menparekraf Apresiasi Rumah Mohammad Natsir sebagai Destinasi SejarahMenurut Natsir, lanjut Fuad, banyak organsiasi Islam yang mendirikan madrasah, universitas-universitas, tetapi upaya itu dirasa masih jauh dari cukup. Natsir sering kali menekankan bahwa titik berat dakwah bukan semata-mata pada ilmu, tetapi yang lebih penting ialah kepribadian mubaligh atau da’i itu sendiri.
Menurut Fuad, dalam perubahan masyarakat yang dinamis, umat Islam tidak cukup hanya berdakwah dari mimbar masjid saja. Para da’i perlu mengembangkan metode baru yang dilukiskan oleh para pemimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, yaitu “dakwah tanpa suara”.
“Dakwah melalui tulisan dan perbuatan nyata atau da’wah bilhal. Dakwah melalui multimedia, termasuk media digital, perlu dikembangkan oleh semua organisasi dakwah di Tanah Air,” tutur Fuad.
Baca Juga: Sandiaga Uno: Dewan Dakwah Harus Tangkap Peluang Ekonomi Kreatif(zhd)