LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII),
Ustadz Adian Husaini, mengaskan bahwa lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik.
Konsep semacam ini sudah digagas Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, dengan mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Ki Hajar menggunakan kata taman, bukan sekolah, yang mengindikasikan pendidikan itu menyenangkan.
“Ilmu itu seperti hidangan yang lezat yang dinikmati oleh peserta didik. Kita sudah punya model kok, dari dulu, pada masa nabi, sahabat,” kata Adian webinar yang digelar Forum Zakat (FOZ), Kamis (6/10/2022).
Baca Juga: Adian Husaini: Sekolah Bukan Pabrik, Murid Bukan Produk
Adian juga telah merumuskan satu konsep pendidikan yang menggembirakan. Dia menamai rumusan itu dengan TUP yakni pertama, Tanamkan adab dan akhlakul karimah sebelum ilmu. Kedua, Utamakan ilmu yang
fardhu ain. Dan terakhir, Pilih ilmu
fardhu kifayah yang tepat.
Maka itu, kata Adian, seharusnya konsep pendidikan nasional diarahkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat. Bukan malah menitikberatkan pada materialisme.
“Pendidikan itu apa yang paling dibutuhkan umat. Sekarang nabi sudah tidak ada, dilanjutkan para ulama. Ulama itu pewaris nabi. Ulama itu tidak diturunkan dari langit. Ulama itu produk pendidikan. Jadi ulama itu harus dikader,” kata Pengasuh Pondok Pesantren At-Taqwa Depok itu.
Poin ini yang tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud-Ristek. Dia menilai tujuan pendidikan di Indonesia masih jauh dari amanah konstitusi.
Baca Juga: Kritik Cak Nun ke Sistem Pendidikan Modern: Singkirkan Perdagangan dari Pendidikan
Dalam UUD 1945 disebutkan, kata Adian, tujuan pendidikan nasional adalah melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun, tujuan ini seolah hilang dari roadmap tujuan pendidikan saat ini yang cenderung ke arah materialistik.
Role model pendidikan sesuai konstitusi itu bisa didapatkan pada masa Rasulullah di Madinah. Peradaban Madinah pada masa nabi adalah peradaban akhlak. Itulah puncak peradaban dunia.
“Karena Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Jadi, bukan yang terpenting itu dia hafal, tapi akhlaknya adalah akhlak Al-Qur’an. Ini pendidikan jadi rancu kalau konsep Indonesia Emas kita tidak rumuskan,” ungkap Adian Husaini.
Baca Juga: Pendidikan di Indonesia Tak Seindah Amanat Konstitusi
Model negara terbaik yang bisa dirujuk adalah negara Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Itu adalah negara dengan manusia paling beriman dan bertakwa.
“Negara yang dengan tingkat literasinya sangat tinggi. Piagam Madinah itu kan merupakan konstitusi negara tertulis pertama di dunia. Ini harus diubah dulu,” kata Adian.
(jqf)