Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 11 Juli 2026
home masjid detail berita
Ramadhan Bercahaya

Puasa, Integritas, dan Masa Depan Perguruan Tinggi

esti setiyowati Senin, 16 Maret 2026 - 06:00 WIB
Puasa, Integritas, dan Masa Depan Perguruan Tinggi
Puasa, Integritas, dan Masa Depan Perguruan Tinggi. Foto: RDK UGM.
LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Noorhaidi Hasan, menyampaikan refleksi mendalam tentang hubungan antara spiritualitas Ramadhan, etika pribadi, dan tantangan dunia akademik Indonesia di Masjid Kampus UGM, Yogyakarta.

Ceramah bertajuk “Etika, Integritas, dan Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia” itu disampaikan di mimbar Ramadan Public Lecture pada Ahad (15/3/2026).

Di hadapan jamaah dan sivitas akademika, ia mengawali ceramah dengan sebuah pertanyaan sederhana namun mendasar, "Mengapa umat Islam perlu mensyukuri kewajiban berpuasa?"

Menurutnya, ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Baca juga: Menghidupkan Spirit Al-Badi, Jalan Umat Menuju Ekosistem Riset yang Berkemajuan

Ramadhan, kata dia, adalah “kawah candradimuka spiritual”, sebuah ruang pendidikan batin yang melatih manusia agar mencapai derajat takwa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, la‘allakum tattaqun, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.

“Puasa bukan hanya soal lapar dan dahaga. Sia-sialah orang yang berpuasa jika yang ia rasakan hanya itu,” ujarnya.

Secara bahasa, jelasnya, takwa berarti takut kepada Allah, kesadaran bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah dan napas manusia. Kesadaran itu mendorong seseorang untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Namun dalam pemaknaan filosofis, takwa memiliki dimensi yang lebih luas.

“Takwa pada hakikatnya berarti memiliki integritas dan akuntabilitas, kejujuran dan tanggung jawab,” kata Noorhaidi.

Bagi dia, dua nilai tersebut merupakan pilar utama dalam kehidupan manusia. Sikap jujur dan bertanggung jawab berujung bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga orang lain.

Ia menegaskan bahwa banyak peradaban besar dalam sejarah runtuh bukan semata karena kemiskinan atau kekurangan sumber daya, melainkan karena hilangnya integritas dan akuntabilitas di dalam masyarakatnya.

Pandangan ini, menurutnya, sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, yakni akhlak yang bertumpu pada nilai kejujuran dan tanggung jawab.

Baca juga: Irfan Afifi: Islam di Tanah Jawa Dibangun dari Marifat, Bukan Sekadar Fiqih

“Jika dalam kehidupan pribadi kita tidak jujur, akan muncul banyak masalah. Begitu juga jika kita tidak akuntabel,” katanya.

Kisah Kejujuran yang Mengubah Perampok

Untuk menggambarkan kekuatan nilai kejujuran, Noorhaidi menceritakan kisah klasik dari tradisi tasawuf tentang ulama besar Abdul Qadir Jailani.

Ketika masih kecil, Abdul Qadir meninggalkan kampung halamannya menuju Baghdad untuk menuntut ilmu. Ibunya membekali dia dengan 40 dirham emas yang dijahitkan di bagian dalam bajunya. Sebelum berangkat, sang ibu berpesan agar ia selalu jujur dalam kondisi apa pun.

Di tengah perjalanan, kafilah yang ditumpanginya disergap oleh perampok. Harta para pelajar dirampas satu per satu. Karena masih kecil, Abdul Qadir tidak digeledah.

Namun seorang perampok tetap menghampirinya dan bertanya apakah ia membawa sesuatu. Tanpa ragu, ia menjawab bahwa dirinya memiliki 40 dirham emas yang dijahit di dalam bajunya.

Jawaban itu membuat sang perampok terkejut.

Ketika kisah tersebut sampai kepada kepala perampok, ia tersentuh oleh kejujuran seorang anak kecil yang tetap memegang teguh pesan ibunya meskipun berada dalam situasi berbahaya. Konon, peristiwa itu membuat para perampok bertobat dan mengembalikan seluruh harta rampasan kepada para pelajar.

“Ini kisah kecil, tetapi penuh makna. Kejujuran dapat menyelamatkan orang lain,” kata Noorhaidi.

Baca juga: Salim A Fillah: Islam di Tanah Jawa Tumbuh Lewat Resonansi Budaya, Bukan Dominasi

Dari refleksi spiritual tersebut, Noorhaidi kemudian mengaitkannya dengan situasi pendidikan tinggi di Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan publikasi karya ilmiah. Dorongan itu muncul karena jumlah publikasi akademik Indonesia dianggap tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang besar.

Upaya tersebut ternyata membuahkan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas publikasi ilmiah Indonesia meningkat pesat.

Berdasarkan data periode 2024–2026, Indonesia bahkan menempati peringkat ke-19 dari 234 negara dalam produktivitas publikasi jurnal ilmiah. Di tingkat Asia, Indonesia berada di posisi kelima, dan di kawasan ASEAN menempati peringkat kedua.

“Ini tentu membanggakan,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa lonjakan kuantitas tidak selalu sejalan dengan kualitas dan integritas.

Indonesia, katanya, juga tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah publikasi tinggi di jurnal predator atau jurnal abal-abal. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di posisi kedua di antara Kazakhstan dan Irak.

Fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan sebagian akademisi mengambil jalan pintas demi terlihat produktif atau mengejar target publikasi.

“Padahal karya ilmiah tidak mungkin lahir tanpa riset yang mendalam,” tegasnya.

Tantangan Baru di Era AI

Tantangan integritas itu, menurut Noorhaidi, kini semakin kompleks dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan.

Baca juga: Riset dan Inovasi Harus Jadi Rahmat bagi Semesta

Jika sebelumnya mahasiswa mencari data melalui mesin pencari, kini berbagai aplikasi AI mampu menyajikan analisis dengan sangat cepat. Kemudahan ini dapat membantu proses akademik, tetapi juga berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis jika digunakan secara tidak bijak.

“Dunia berubah dengan menghadirkan AI. Kita tidak bisa menghindarinya,” katanya.

Namun ia mengingatkan bahwa AI seharusnya ditempatkan sebagai asisten, bukan sebagai pemain utama dalam proses akademik.

Menurutnya, fondasi utama dari karya ilmiah tetap terletak pada tiga kemampuan dasar: critical thinking, logical thinking, dan creative thinking.

Jika ketiga kemampuan tersebut berhenti berkembang karena ketergantungan pada teknologi, ia mengingatkan bahwa masa depan perguruan tinggi bisa berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.

Menutup ceramahnya, Noorhaidi kembali menegaskan bahwa Ramadhan sejatinya adalah sekolah etika bagi umat Islam.

Melalui puasa, manusia dilatih menahan diri, menjaga kejujuran, dan membangun tanggung jawab moral, nilai-nilai yang seharusnya juga menjadi fondasi dunia akademik.

“Jika kita benar-benar memaknai puasa sebagai latihan takwa, maka integritas, kejujuran, dan tanggung jawab akan menjadi karakter kita, termasuk dalam kehidupan akademik,” ujarnya.

Dalam pandangannya, masa depan pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau jumlah publikasi ilmiah, tetapi oleh kekuatan moral sivitas akademika yang menjunjung tinggi integritas.

Dan bagi Noorhaidi, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meneguhkan kembali nilai-nilai tersebut. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID).

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 11 Juli 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:55
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan