LANGIT7.ID-, Yogyakarta - - Dalam upaya pembangunan manusia Indonesia, istilah "
ekonomi inklusif" sering kali terdengar sebagai jargon teknis. Namun, menurut Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI),
Adiwarman Karim, konsep tersebut diterjemahkan sebagai sebuah laku spiritual yang mendalam.
Dalam tausyiahnya dalam
Ramadhan Public Lecture di
Masjid Kampus UGM, Adiwarman menegaskan bahwa
ekonomi inklusif sejatinya berpijak pada tiga pilar utama, yakni pertumbuhan ekonomi, pemerataan, serta akses dan kesempatan yang sama bagi setiap individu.
Baca juga: Membangun Pendidikan Karakter, Meneladani Akhlakul Karimah untuk Masa Depan Indonesia"Ekonomi inklusif itu punya tiga pilar, yaitu
pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan akses dan kesempatan yang sama semua orang," kata Adiwarman Karim dala rangkaian acara "
Ramadhan Di Kampus UGM" di Yogyakarya, Sabtu (21/2/2026).
Adiwarman mengatakan, esensi dari ekonomi inklusif adalah terciptanya mobilitas sosial, sebuah kondisi di mana mereka yang kurang mampu dapat memperbaiki taraf hidupnya.
Namun, kata Adiwarman, mobilitas ini tidak datang cuma-cuma. Ia membutuhkan
ikhtiar untuk mengubah nasib. Menariknya, ia menekankan bahwa motivasi bekerja bukan semata-mata untuk menumpuk harta.
"Kita bekerja bukan untuk menjadi kaya raya, tapi untuk menggugurkan dosa dan menjemput berkah," ujarnya.
Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa ada dosa-dosa tertentu yang tidak bisa gugur hanya dengan shalat, sedekah, atau haji, melainkan hanya bisa ditebus melalui kelelahan dalam mencari rezeki yang halal.
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat,
sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.”(HR. Ath-Thabrani)
Agar ikhtiar berbuah berkah, keikhlasan menjadi syarat mutlak. Mengutip Syekh Nawawi Al-Bantani, beliau membagi ikhlas ke dalam tiga tingkatan:
"Ikhlas tingkat pertama yaitu ikhlas duniawi yaitu melakukan kebaikan untuk kelapangan hidup di dunia. Misalnya seperti
shalat Dhuha agar rezeki lancar," terang Adiwarman.
Baca juga: Ramadhan: Jembatan Menuju Perdamaian Antariman dan Reinterpretasi Relasi Muslim-Non MuslimKemudian di tingkatan kedua yaitu ikhlas ukhrawi, yakni berbuat kebaikan demi balasan di akhirat.
Sementara ikhlas tingkat tertinggi, yaitu saat seseorang beramal tanpa mengharap balasan apa pun selain ridha Allah.
"Jika ridha Allah sudah didapat, maka dunia dan akhirat akan mengikuti," ucapnya.
Sejalan dengan itu, rezeki pun memiliki derajatnya sendiri. Tingkatan terendah adalah harta, yang baru menjadi rezeki jika sudah kita gunakan atau infakkan.
Di atasnya ada kesehatan, diikuti oleh anak-anak yang saleh, dan puncaknya adalah ridha Allah SWT.
Kekuatan Doa dan Prasangka BaikSelain ikhtiar lahiriah, mobilitas sosial harus dibarengi dengan ikhtiar batin melalui doa dan prasangka baik (husnuzan).
Dalam tausiyahnya Adiwarman mengatakan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan pernyataan ketidakmampuan kita di hadapan Sang Pencipta.
Berdasarkan pemikiran Syekh Abdul Qadir Jaelani, doa terbagi menjadi doa yang diucapkan atau
lisanul maqal,
lisanul hal yaitu doa dengan perbuatan, dan
lisanul isti'dad, tahap kerinduan total dan ridha pada ketetapan-Nya.
Adiwarman juga menyoroti pentingnya bersyukur atas apa yang "tidak" diberikan Allah.
Mengutip kitab Al-Hikam, Adiwarman menjelaskan bahwa prasangka baik tertinggi adalah mensyukuri segala nikmat, baik yang tampak maupun yang tertahan.
Baca juga: Menilik Peluang Menjadi Muslim Negarawan di Era ModernIa menceritakan kisah dramatis tentang seorang pria yang namanya tercatat sebagai penghuni neraka dalam Lauhul Mahfudz, namun karena ketulusannya mengucap "Alhamdulillah ala kulli hal" (Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan), Allah mengubah takdirnya menjadi penghuni surga.
Dalam penutup tausiyahnya, Adiwarman mengatakan, bahwa dalam konsep ekonomi inklusif, pembangunan manusia Indonesia tidak akan mencapai titik optimal jika hanya mengejar indikator angka.
Mobilitas sosial yang sejati lahir dari kombinasi antara ikhtiar, doa yang rendah hati, dan prasangka baik kepada Allah SWT.
"Yang penting dalam hidup itu ridha," pungkas Adiwarman. (Kerjasama RDK UGM dan LANGIT7.ID)
(est)