Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 03 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil

ahmad jilul qurani farid Senin, 27 September 2021 - 08:31 WIB
Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil
Figur Semar dalam wayang kulit, kerap kali memiliki makna yang mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya sebagai manusia sejati (foto: langit7.id/istock))
LANGIT7.ID, Yogyakarta - Budaya seringkali dipahami hanya sebagai lagu daerah hingga tarian tradisional. Kebudayaan telah identik bahkan disamakan total dengan tradisi pertunjukkan. Berbudaya dimaknai hanya melestarikan berbagai kesenian dan tradisi warisan nenek moyang.

Budayawan Muda Irfan Afifi, dalam pidato kebudayaannya yang digelar oleh Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara pada Ahad (26) malam di Yogyakarta, menegaskan pemaknaan budaya yang lebih komprehensif. Menurutnya, budaya tak semata kesenian atau pertunjukan, tapi lebih dari itu, ia adalah sarana untuk mengolah dan mengasah segala potensi kemanusiaan untuk bisa mencapai kualitas manusia terbaik.

Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil

“Sejauh lacakan saya terkait term budaya dalam khasanah tradisi, kata atau istilah ini sering atau bahkan selalu tampil dalam bentuk kata kerjanya: 'ambudi daya' atau dalam kata “budya” yang sebenarnya berkembang, dalam kasus Jawa, di era Jawa masa pertengahan (abad 16-19), alias kita tidak menemukan kata kerjanya di masa Jawa Kuno dimana pada kamus Jawa Kuna-nya Zoetmoelder kita hanya menemukaan kata Buddhi sebagai kata benda. Sementara dalam referensi lain, ia merupakan term yang telah dipercanggih oleh kedatangan sistem pandangan dunia baru Islam untuk menyorongkankan sebuah gagasan baru yang telah diperkembangkan,” tutur penulis buku Saya, Jawa dan Islam ini.

Menurut Irfan, berbicara kebudayaan, tak bisa lepas dari pandangan Islam. Sebab Islam telah memperkaya khazanah kebudayaan di nusantara. Irfan mencontohkan pengertian budaya yang tercantum dalam Serat Wedhatama. Ia menemukan kata ‘budya’ atau ‘amasah mesu budi’ yang intinya usaha untuk ‘men-daya-kan budi’ kemanusian kita.

Budhi atau ‘Budi’, terang Irfan, bukan hanya merujuk akal pikiran semata, alih-alih semata otak fisik, melainkan justru menunjuk keseluruhan kesatuan fakultas jasadi-ruhani manusia yang berjumlah empat, yakni (1) Raga atau Karsa alias kehendak dan keinginan, (2) Cipta atau Kalbu, fakultas pikiran, imajinasi dan daya ciptanya, (3) Jiwa, tempatnya niat, tekad, dan dorongan terdalam, dan yang ke-(4) Rasa, fakultas estetik dan dorongan empati moral yang terdalam.

Baca Juga: Komunitas Pegon, Sejarawan Milenial Nahdlatul Ulama dari Ujung Timur Jawa

“Oleh karenanya secara singkat dikatakan, proses berbudaya atau proses berkebudayaan adalah juga secara serentak sekaligus proses berkemanusiaan; Sebuah proses untuk mengutuhkan dan mengaktualkan seluruh potensi yang dimiliki manusia, yang memang secara fitrah kemanusiaannya, selain di satu sisi pada realitas terdalam kemanusiaannya tersambung dengan realitas ketuhanan, maupun di sisi yang lain secara fitrah kemanusiaannya memang berkecenderungan menuruti dorongan terberi dalam diri terdalamnya bernama keindahan, kebaikan, kebenaran, dan kesempurnaan, bahkan sebelum ia memiliki dan menganut agama tertentu.” terang alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada ini.

Irfan menyebut, tahapan mengolah potensi kemanusiaan alias berbudaya seperti digariskan dalam tradisi, dimulai dari mengolah potensi dorongan kehendak & raga, serta pendisiplinan dorongan naturalnya, dalam memperkembangkan skill dan kecakapan dalam berbahasa, berjalan, beradaptasi dengan peradaban material dan nilai yang terwarisi.

Pengaruh Islam dalam proses berbudaya itu, kata Irfan, yakni melalui pandu awal terkait baik-buruk dan hitam-putih yang menuntun perkembangan kedewasaan seseorang yang biasa disebut syari’at.

Lalu dilanjutkan dengan mengasah daya cipta untuk memperkembangkan temuan, inovasi, ilmu, teknik, serta pendalaman lanjut akan nilai-nilai kebenaran yang lambat laun akan terpahami rasionalisasinya atau disebut tariqat. Serta olah meluruskan niat, menebalkan tekad, dan keyakinan serta kesesuaiannya dengan tindakannya pada hakikat terdalam hidup dengan visi jangka panjangnya ini hingga alam akhirat atau disebut hakikat. Hingga melatih dan memperkembangkan kepekaan estetika dan empati moral, hingga hakikat rahasia hidup yang mengantarkan pada nilai sublim hidup hingga puncak yang menyibakkan misterinya secara bertahap dalam perjalanan kemanusiaannya atau disebut ma’rifat.

Baca Juga: 40 Persen Kosakata Bahasa Indonesia Diserap dari Bahasa Arab

“Sejauh saya mengakrabi tradisi, terutama di Jawa, yang kemudian dibelakang hari memendar dan memproyeksi secara pelan ke wilayah lain di Indonesia, yakni dalam pengertian dengan segenap kompleksitas warisan sejarah, kesusastraan, kearifan, maupun nalar falsafah yang menyangga bangun struktur pandangan dunia lamanya, saya merasakan, bahwa Islam, terutama sufisme, telah memberi kontribusi secara mendasar dan revolusioner bangun struktur pandangan dunia tersebut,” tutur pendiri langgar.co ini.

Gagasan metafisika Islam yang menjadi inti dari kebudayaan, tercantum dalam kesusastraan lama. Dan sebenarnya juga turut terpancar nilainya dalam keberagaman adat, kesenian, dan tradisinya, seolah ingin menegakkan proses dan pengajaran penyempurnaan capaian berkemanusiaan masyarakat Nusantara saat itu. Tokoh semisal Hamzah Fansyuri di Sumatera, Abdurrauf As Singkili di Aceh, Sunan Kalijaga, Ranggawarsita di Jawa, Hasan Mustapa di Sunda, Raja Ali Haji di Riau, menurut Irfan hanya ingin menyorongkan satu gagasan kesempurnaan dan keutuhan terkait proses menjadi manusia, atau terkait proses ‘berkemanusiaan’ dengan idiom-idiom yang beraneka, seperti ‘insan kamil’, ‘janma utama’ hingga ‘manusia budiman’.

Baca Juga: Syekh Abdurrauf As-Sinkili, Pelopor Tafsir Al-Quran di Nusantara

“Dari para tokoh ini, kita diajari, bahwa salah satunya cara yang mengutuhkan proses berkemanusiaan manusia Nusantara ini adalah dengan cara mengenali kenyataan realitas ‘kedirian; kita sendiri yang memang terhubung dengan realitas Ketuhanan, yang merupakan titik segala sumber kenyataan realitas hidup jagad-semesta ini, yang dibahasakan secara beragam dan beraneka dengan istilah ‘mawas diri’ alias mengawasi diri sendiri, atau ‘mulat sarira’ atau melihat diri seperti dikenal dalam istilah ilmu ma’rifat Jawa, atau ‘man arafa nafsah’ yakni mengenali diri dalam kasus Hamzah Fansyuri dan Abdurrauf Singkili, atau juga dalam istilah ‘pangawikan pribadi’-nya Ki Ageng Suryomentaram,” terang Irfan.

Penjelasan Irfan terkait proses berkebudayaan di atas, yakni ketika manusia memperkembangkan potensi jasadi hingga puncak potensi ruhani kemanusiaannya untuk menuruti dorongan fitrahnya ke arah kebaikan, kebenaran, dan keindahan, sebenarnya sungguh merupakan proses beragama itu sendiri sebagaimana dikatakan di dalam Surat Ar-Rum (30):

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Di mana Islam hadir hanya ingin mengafirmasi dan membenarkan kecenderungan fitrah dasar kemanusiaan tersebut, dan bahkan Islam merupakan pandu untuk mewujudkan fitrah kemanusiaan tersebut tergelar dalam realitas hidup, dan oleh karenanya gerak berkemanusiaan seperti itu yang dipandang sebagai ‘agama yang lurus’ atau dinul qayyim. Dalam visi ini, Islam sebenarnya adalah ajaran ihwal proses berkemanusiaan atau bahkan ia merupakan sebentuk ajaran proses berkebudayaan yakni olah potensi jasadi-ruhani kemanusiaan itu sendiri.

Baca Juga: Sanad Ulama Nusantara: Jejaring Intelektual dan Spiritual Penghadang Adu Domba Belanda

Dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya terlebih berskala nasional, menurut Irfan tidak lagi seharusnya diarahkan semata pada ‘pelestarian’ pada tingkat bentuk dan wujud wadah kekayaan kesenian dan tradisi semata yang justru mengarah pada gerak involusi. Melainkan juga harus berusaha menyesap dan mengilmui kembali khasanah kearifan tadi untuk kebutuhan masa depan dalam arus keterbukaan kreatif yang menguatkan fondasi berkemanusiaan kita sebagai sebuah bangsa.

“Strategi kebudayaan oleh karenanya yang paling memungkinkan dilakukan, adalah strategi pematangan diri kemanusiaan manusia Indonesia, dimana kearifan tradisi beserta struktur pandangan dunia agama yang terjalin indah di dalamnya, akan menjadi salah satu alternatif dalam arus pertemuan, keterbukaan, dan dialog dengan arus pemikiran, informasi, bahkan ideologi dunia yang justru, dalam prinsip keterbukaan dan prinsip kebebasan ini, saya yakin warisan akar kearifan tradisi yang sebenarnya masih menyangga bangun ke-Indonesiaan ini akan tampak lebih istimewa justru dikarenakan oleh arus pertemuan dan pengenalannya dengan ‘yang lain’, yang dengan kekuatan tertentu akan menggeret proses berkebudayaan maupun proses berkemanusiaan manusia Indonesia yang tak melepaskan diri dari akar visi ruhani ketuhanannya,” pungkas Irfan.

Baca Juga: K-Pop Makin Marak, Muhammadiyah Minta Pemerintah Perbaiki Pendidikan Budaya

Baca Juga: Pondok Tremas Pacitan dan Jejaring Rantai Intelektual Ulama Nusantara


(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 03 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)