Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sanad Ulama Nusantara: Jejaring Intelektual dan Spiritual Penghadang Adu Domba Belanda

Muhajirin Selasa, 24 Agustus 2021 - 19:00 WIB
Sanad Ulama Nusantara: Jejaring Intelektual dan Spiritual Penghadang Adu Domba Belanda
Ilustrasi Makam Ki Ageng Mohammad Besari, salah satu ulama dengan sanad dan jejaring intelektual yang kuat di Nusantara (foto: harakah.id)
LANGIT7.ID - Snouck Hurgronje, sarjana Belanda, pernah menyarankan agar pemerintah Belanda menyusun kebijakan mengenai Islam yang dimulai sejak 1889 M. Proyek ini merupakan upaya Belanda memisahkan Islam sebagai agama dan Islam sebagai doktrin untuk memecah kekuatan umat Islam. Proyek itu juga bertujuan memperkuat ada yang dipimpin para pemangku adat dan elit pribumi (priyayi).

Belanda berhasil mengadu domba kubu adat dan elit dengan pemuka agama di berbagai daerah. Taktik belah bambu diterapkan, kubu pertama diangkat dan kelompok kedua diinjak. Puncak keberhasilan proyek ini ketika Belanda berhasil menaklukkan ‘jiwa dan raga’ kaum pribumi. Para priyayi semakin kebarat-baratan di berbagai bidang.

Di sektor pendidikan, usai Perang Jawa (1825-1830), para bangsawan yang sebelumnya dididik oleh para pemuka agama tunduk dengan jejalan kurikulum dan pengajaran ala Barat dengan guru-guru bule totok. Aksara lokal (misalnya Jawa) dan Pegon diganti dengan aksara Latin. Ini sejalan dengan pembukaan misi zending (kristenisasi) di kota-kota besar di Jawa dan daerah perkebunan disertai dengan revolusi industri yang mulai merambah sekujur Nusantara.

Setelah Perang Jawa, para bangsawan Jawa yang menyandang gelar keagamaan seperti khalifatullah tak berkutik menuruti larangan bepergian ke Tanah Suci. Mereka dihambat menjadi muslim yang baik dan dijauhkan dari komunitas keagamaan seperti para penghuni kawasan ‘kauman’ dan penghuni tanah perdikan seperti pesantren.

Gelar-gelar feodalistik yang melambangkan kekuasaan dan kedaulatan atas tanah (air) seperti Hamengkubuwono, Pakualam, Pakubuwono, hingga Mangkunegoro justru disematkan kepada penguasa.

Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, menjabarkan, pemerintah Belanda juga meleburkan budaya lokal dengan Belanda (culture associate). Para elit pribumi dididik dengan pendidikan dan pola hidup Belanda. Hanya dengan jalan ini pemerintah kolonial dapat melepaskan anak-anak muslim dari ikatan agama mereka.

Pola peleburan budaya ini kian memuncak saat pemerintah Belanda membuat kebijakan politik etis di bidang edukasi di awal abad XX. Ribuan bangsawan dipersiapkan menjadi calon pegawai rendah kolonial.

“Dari sekian banyak priyayi didikan Belanda, beberapa di antaranya tidak terpengaruh cara pandang Barat, misalnya Pangeran Aria Tjondronegoro V (Bupati Kudus), dan cucunya, seperti RMP. Sosrokartono dan RA Kartini, Soewardi Suryaningrat Ki Hadjar Dewantara), Tjiptomangunkusumo, Tirto Adhi Soerjo, Tjokroaminoto, hingga Soekarno,” kata Gus Rijal Mumazziq Z, dikutip dari akun facebook-nya, Selasa (24/8/2021).

Proyek tersebut merupakan fondasi kolonial dalam membangun ‘Indonesia yang terbaratkan'. Dalam mendukung proyek pecah-belah itu, beberapa cendekiawan lokal direkrut sebagai informan lokal seperti Abu Bakar Djajadiningrat dan Hasan Moestapa, hingga Sayyid Utsman Yahya sebagai kunci mendekati komunitas Hadrami di Nusantara dan menjauhkan mereka dari kelompok pesantren.

“Ini belum lagi proyek numpang rame melalui penggunaan isu-isu khilafiyah yang sukses memubazirkan waktu efektif untuk maju karena kaum muslim hanya sibuk debat, debat, dan debat,” kata Gus Rijal Mumazziq Z.

Proyek tersebut mendapat tantangan berat karena para ulama berpegang teguh pada jejaring sosial-intelektual-spiritual. Jejaring sosial dibina melalui pertautan nasab antara ulama Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang jika dilacak memiliki genealogis ke Jaka Tingkir.

Garis nasab ini ‘pecah’ ke bawah, antara lain melalui Sayyid Abdurrahman Basyaiban alias Mbah Sambu yang menurunkan para ulama besar di wilayah Lasem; Mbah Mutamakkin yang menurunkan ulama besar di wilayah Pati; Mbah Abdussalam yang menurunkan garis nasab Tambakberas, Tebuireng, Denanyar dan Rejoso; serta trah Ki Ageng Mohammad Besari yang menurunkan generasi ulama wilayah Mataraman.

“Di wilayah lain pola pertautan ini juga segendang seirama. Zamakhsyari Dhofier, dalam ‘Tradisi Pesantren’ antara lain menjelaskan rumitnya pohon silsilah antar para ulama Jawa,” ucap Gus Rijal Mumazziq Z.

Jalur nasab ini juga membentuk solidaritas unik antar klan sehingga membuat jejaring sosial (politik) menguat dan melahirkan perta intelektual. Sanad alias mata rantai intelektual dijalin dengan rapi dan mengular dengan unik dan kuat.

Gus Rijal mencontohkan transmisi hadis ulama Nusantara melalui Shahih Bukhari semua melewati jalur Syaikh Mahfudz Attarmisi, sanad al-Qur'an melalui Mbah Munawwir Krapyak, silsilah fiqh melalui titik Syaikh Nawawi, dan jalur tasawuf melalui variasi arus dari Sambas, Jombang, Tasikmalaya, dan Makassar-Banten.

Selain jalur nasab dan intelektual, sanad spiritual, baik melalui ijazah dirayah maupun riwayah (atau keduanya), ijazah tadris wan nasyr (mengajar dan menyebarkan), turut memperkokoh pilinan matarantai ini. Mata rantai terakhir ini dipilin antara lain melalui jejaring tarekat.

“Akar pohon silsilah spiritual ini begitu kuat, sehingga sungguhpun banyak upaya menghancurkan tradisi adiluhung ini namun banyak menemui kegagalan. Setidaknya tiga titik tumpu inilah yang membuat Islam Nusantara tetap tegak hingga hari ini,” kata Gus Rijal Mumazziq Z.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)