LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, mengungkapkan pandangannya terkait kesalahan yang dilakukan para pemimpin umat Islam dalam berdakwah saat ini. Para tokoh umat Islam harus belajar dari cara yang ditempuh oleh Rasulullah dan
Wali Songo dalam membaur dengan masyarakat kecil.
Para tokoh umat Islam seharusnya lebih membumi dan tidak berjarak dengan masyarakat kecil. Itu dilakukan untuk merebut hati masyarat secara keseluruhan. Para tokoh umat Islam harus memahami budaya yang beragam di Indonesia, yang tidak bisa diseragamkan.
“Kalau mau merebut hati umat secara keseluruhan, maka tokoh-tokoh umat Islam harusnya pakai cara Wali Songo yang mau membau dengan masyarakat kecil. Jangan sampai ikannya banyak, tapi yang kita tebar jaring yang besar-besar matanya, maka tidak akan kena. Tetapi, kalau kita pakai jaring kecil, pasti akan ketangkap,” kata Marsudi Syuhud dalam webinar Gelora TV, dikutip Jumat (24/2/2023).
Baca Juga: Jokowi Minta Warga Nahdliyin Teladani Dakwah dan Syiar Wali SongoSituasi tersebut harus dipahami partai politik di Indonesia yang memiliki basis nilai-nilai Islam. itu harus dilakukan jika ingin memenangi Pemilu 2024. Indonesia memiliki masyarakat beragam.
“Budaya di Indonesia ini tidak dipunyai negara lain, karena itu budaya ini harus dibina, sehingga kepemimpinan nanti ini di 2024, tentang pilihan presiden itu prinsip dasarnya harus sepakat semua atau mendapatkan rida dari seluruh rakyat,” ucap Marsudi.
Selain itu, Marsudi berharap tokoh umat Islam mencontoh Rasulullah SAW dalam membangun Madinah. Saat membangun, Rasulullah tidak membeda-bedakan agama karena sudah bersepakat membangun negara secara bersama-sama.
Baca Juga: Sunan Giri, Paus Van Java Rujukan Umat Islam se-Nusantara“Mau dia Islam, Nasrani atau Yahudi, mereka semua adalah Ummatan Wahidah, merupakan satu kesatuan umat berbangsa, karena sudah bersepakat bersama-sama dalam bernegara,” katanya.
Tokoh Nadhlatul Ulama (NU) itu mengatakan, semua masyarakat menjadi satu kesatuan umat berbangsa. Oleh karena itu, tidak ada istilah politik identitas di Negara Madinah. Politik identitas, kata dia, justru terjadi di Indonesia, karena adanya permainan politik.
“Istilah politik identitas itu muncul, karena adana hoaks kebohongan, fitnah-fitnah serangan antarumat. Ini yang terjadi di negara kita,” ujar Marsudi.
Politik identitas, kata dia membuat umat Islam terbelah. Hal itu karena umat Islam dengan identitas keislaman tertentu menyerang umat Islam yang lain.
Baca Juga: Alasan Walisongo Dakwahkan Islam di Jawa Lewat Budaya“Harapan kami ini tidak boleh terjadi lagi, karena sesuatu yang tidak tepat. Kita tidak boleh lagii saling mencaci-maki, berkata kotor terhadap sesama umat. Mereka punya pilihan rasional dalam demokrasi dan tidak mungkin pandangan serta pilihannya disatukan atau disamakan,” ungkap Marsudi.
(jqf)