LANGIT7.ID-Jakarta; Video pernyataan Ustadz Maulana soal adanya dua pernikahan nabi di surga viral di media sosial dan memicu perdebatan di tengah publik. Dalam video yang ramai beredar, Ustadz Maulana menyebut kelak akan ada dua pernikahan di surga, yakni Nabi Isa AS dengan Asia binti Muzahim serta Nabi Muhammad SAW dengan Siti Maryam.
Setelah ditelusuri Tim Langit7.id, video tersebut berasal dari kanal YouTube C8 Podcast berjudul "Ada 2 Pernikahan Nabi di Surga?! Siapa Saja?! | Butik Haji Igun", yang dipandu Ivan Gunawan.
Pernyataan tersebut kemudian memantik respons dari Ketua MUI Pusat Buya Gusrizal Gazahar yang mengingatkan agar kisah-kisah semacam itu tidak dijadikan rujukan untuk disampaikan kepada umat karena dasar riwayatnya tidak mencapai derajat sahih.
Dalam podcast tersebut, pembahasan bermula ketika Ustadz Maulana menjelaskan bahwa pernikahan merupakan sunnah para nabi. Pada menit 9:12, ia menyebut semua nabi menikah, kecuali beberapa yang belum sempat menikah, termasuk Nabi Yahya AS.
Pada menit 9:26, Ustadz Maulana menyinggung Nabi Isa AS yang menurut penjelasannya belum sempat menikah hingga diangkat ke langit. Dari sana, ia mulai membahas adanya pernikahan di surga.
Pada menit 9:38, Ustadz Maulana mengatakan:
"Ada dua pernikahan."
Ketika ditanya Ivan Gunawan siapa yang dimaksud, Ustadz Maulana pada menit 9:43 menyebut pernikahan pertama adalah Nabi Isa AS dengan Ratu Asia. Saat Ivan Gunawan kembali memastikan kebenaran klaim tersebut, Ustadz Maulana menjawab singkat, "Iya."
Ia kemudian melanjutkan penjelasannya pada menit 9:49 dengan menyebut kisah tentang dua pernikahan di surga, sebelum akhirnya mengungkap pernikahan kedua.
Pada menit 9:53, Ustadz Maulana mengatakan:
"Yang kedua adalah pernikahan Nabi Besar Muhammad SAW. Mau tahu sama siapa? Siti Mariam."
Setelah itu, Ivan Gunawan mempertanyakan dasar informasi tersebut. Ustadz Maulana menjelaskan bahwa kisah itu bersumber dari hadis dan kitab-kitab yang membahas kisah-kisah yang akan datang.
Saat Ivan Gunawan mempertanyakan apakah hal itu bukan sekadar ramalan, Ustadz Maulana menegaskan informasi tersebut berasal dari hadis Nabi yang dicatat para sahabat. Menurutnya, kisah-kisah tersebut tersebar dalam sejumlah hadis yang diriwayatkan banyak sahabat.
Percakapan kemudian berlanjut ketika Ivan Gunawan menyinggung adanya kemungkinan sebagian orang menganggap cerita semacam itu sebagai tahayul.
Pada menit 11:15, Ustadz Maulana mengatakan:
"Sebenarnya tahayul itu karena tidak berdasar. Tapi ini kan semua ada dasarnya. Kenapa orang berkata, ‘Ah, kok ah, enggak ada,’ karena dia malas membaca. Kitab kita itu banyak. Jadi sebenarnya ada."
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Ketua MUI Pusat Buya Gusrizal Gazahar.
Dalam pernyataannya, Buya Gusrizal menegaskan pihaknya memahami ada sejumlah da’i yang merujuk pada riwayat tertentu terkait kisah pernikahan Nabi SAW di surga, termasuk yang mengaitkannya dengan Asia binti Muzahim, Maryam binti Imran, hingga saudari Nabi Musa.
Namun setelah penelusuran terhadap sanad riwayat-riwayat tersebut, MUI menilai dasar hadisnya tidak kuat.
"Dari sanad-sanad yang kita telusuri, jelas bahwa sanad dari riwayat-riwayat itu tidak sampai ke peringkat sahih. Bahkan, tidak sedikit dari riwayat-riwayat yang bertebaran itu jatuh kepada dhaif jiddan, munkar, bahkan palsu," ujar dia dalam keterangannya.
Buya Gusrizal menjelaskan riwayat-riwayat yang beredar itu merujuk kepada Ibnu Sunni dan juga muncul dalam sejumlah kitab yang dinukil ulama seperti Al-Imam As-Suyuti. Namun, menurutnya, hal itu tidak otomatis menjadikan riwayat tersebut layak dijadikan pegangan dakwah.
Ia mengingatkan para penceramah agar selektif dalam menyampaikan kisah-kisah yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW, terutama yang berkaitan dengan persoalan akhirat.
Menurutnya, meskipun niat para da’i kemungkinan untuk mengangkat kemuliaan Rasulullah SAW, kehati-hatian tetap harus diutamakan agar tidak memunculkan kesalahpahaman di tengah umat.
"Jadi, sebaiknya cerita seperti itu tidak dijadikan sebagai rujukan untuk disampaikan kepada umat," ujar dia.
Buya Gusrizal juga menegaskan bahwa segala hal yang dikaitkan dengan Rasulullah SAW, baik mengenai keutamaan maupun perkara akhirat, seharusnya merujuk pada dalil yang sahih.
(lam)