LANGIT7.ID, Jakarta - Prof Sardjito merupakan salah satu sosok pejuang ilmuan yang fokus dan aktif di bidang pendidikan dan kesehatan. Lahir pada 13 Agustus 1889 di Magetan, Jawa Timur, Sardjito memperdalam ilmu kedokteran hingga meraih gelar doktor pada 1923 di Universitas Leiden, Belanda.
Dilansir dari akun YouTube JITV Pemda DIY, Sabtu (15/10/2022), saat aktif di kedokteran, Prof Sardjito berhasil menemukan obat penyakit batu ginjal, obat menurun kolestrol serta menciptakan beberapa vaksin mulai dari tipes, kolera, disentri, staflokoken, hingga strepkokoken. Dia juga membangun pos kesehatan bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) di daerah Yogyakarta.
Baca Juga: Perjalanan Hidup Koh Steven, Pembimbing Mualaf yang Tak Henti BerdermaPembangunan pos kesehatan tersebut bertujuan untuk bisa mengobati para pejuang kemerdekaan. Salah satunya dengan menyediakan obat-obatan, serta vitamin untuk para TNI yang berjuang kala itu.
Tak hanya itu, dia juga mendirikan sebuah Rumah Sakit sederhana dengan memanfaatkan bekas kandang kuda Keraton Yogyakarta. Keterbatasan fasilitas menjadi alasan hal tersebut dilakukan, dan untuk mendukung kekuatan angkatan perang serta masyarakat. Prof Sardjito juga menyedikan vaksin dan obat dari rumah sakit UGM.
Selain menjadi dokter, Prof Sardjito juga dikenal sebagai salah satu pelopor pembuat biskuit bagi para TNI di masa perang, biskuit ini dikenal sebagai Biskuit Sardjito. Kemudian, di tahun 1949 Prof Sardjito merupakan perintis serta menjadi rektor pertama Universitas Gadjah Mada dari tahun 1950 sampai 1991.
Selanjutnya, di tahun 1964 sampai 1970 Prof Sardjito menjabat sebagai rektor ketiga di Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Prof Sardjito juga berperan penting lahirnya perguruan tinggi di Indonesia lainnya, seperti Universitas Airlangga Universitas, Universitas Hasanuddin dan juga Universitas Andalas.
Baca Juga: Tak Hanya Dirikan NU dan Tebuireng, Ini Jasa KH Hasyim Asy’ari untuk IndonesiaProf Sardjito juga menjadi salah satu sosok peletak Pancasila sebagai dasar perguruan tingg di Indonesia. Dia memiliki gagasan untuk membangun rumah sakit pendidikan yang dikelola bersama Departemen Kesehatan dan Pendidik Republik Indonesia. Akan tetapi, sebelum gagasan itu terwujud, Prof Sardjito sudah tutup usia pada 5 Mei 1970 di Yogyakarta.
Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, namanya digunakan sebagai nama rumah sakit pusat atau dikenal dengan RSUP Dr Sardjito pada tahun 1982. Dan pada tahun 2011, UGM telah memperjuangkan Prof Sardjito sebagai pahlawan nasional.
Prof Sardjito kemudian dianugerahi sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam salah satu upacara di Istana Negara pada 8 November 2019 lalu. Saat itu, proses diwakili oleh cucu Prof Sardjito, Dyani Poedjiotomo.
Baca Juga:
Jalaluddin Rumi, Penyair Sufi dengan Karya Abadi di Timur dan Barat
Sulaiman Al-Rajhi, Miliarder Arab Saudi Kuras Kekayaannya untuk Beramal(asf)