LANGIT7.ID-Gowa; Suasana di Kantor Kemenhajumrah Gowa pagi itu terlihat berbeda. Di antara kerumunan pendaftar, sebuah rombongan besar yang terdiri dari 36 orang, dari anak-anak hingga lansia, menarik perhatian. Mereka bukan delegasi instansi atau kelompok berpengaruh, melainkan satu keluarga besar yang dipimpin oleh seorang pria berusia 61 tahun, Haji Ali, seorang penjual es kelapa yang sudah dua kali menunaikan ibadah haji.
Ali bukan sekadar mendaftarkan diri. Dengan tekad yang terpancar jelas, dia secara resmi memasukkan nama 24 anggota keluarganya—mulai dari anak, keponakan, hingga cucu—ke dalam daftar tunggu perjalanan spiritual terbesar dalam Islam. Sebuah langkah strategis yang diambilnya dengan kesadaran penuh akan antrean panjang yang bisa mencapai puluhan tahun.
"Kami datang agar mereka dapat porsi haji," ujarnya, sederhana namun penuh keyakinan. Perhitungannya matang. Dengan mendaftar sekarang, perjalanan mereka diproyeksikan baru akan terealisasi sekitar tahun 2050. Sebuah rentang waktu yang mensyaratkan kesabaran dan doa untuk umur panjang.
Kepala Kantor Kemenhajumrah Gowa, Alim Bahri, membenarkan kejadian yang disebutnya sebagai pemandangan yang "tidak lazim" ini. Biasanya, pendaftaran dilakukan perorangan atau dalam kelompok kecil, bukan sebuah klan besar dengan visi lintas generasi.
Kisah ini, di tengah kerumitan biaya dan polemik antrean haji, justru mengalihkan fokus kepada dimensi lain: perencanaan dan pengorbanan. Haji Ali, dengan lima mobil dan belasan sepeda motor yang dimilikinya, mungkin tidak termasuk dalam kategori ekonomi atas. Namun, dari jerih payah berjualan minuman segar di pinggir jalan, dia membangun aset yang lebih bernilai: jaminan untuk melaksanakan rukun Islam kelima bagi orang-orang tercintanya.
Langkahnya ini adalah manifestasi dari sebuah prinsip: warisan terbaik bukan selalu harta benda, melainkan kesempatan untuk meraih pengalaman spiritual yang tak ternilai. Ia telah merasakan sendiri makna perjalanan ke Tanah Suci pada 1996 dan 2012, dan kini, dengan kesabaran seorang petani menanam benih, dia memastikan benih itu akan tumbuh dan berbuah bagi keturunannya puluhan tahun mendatang.
Dari Gowa, sebuah cerita tentang kesederhanaan, visi jauh ke depan, dan cinta yang diwujudkan dalam antrian panjang haji, mengingatkan kita bahwa terkadang, impian terbesar justru dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh keyakinan.(*/saf/himpuh)
(lam)