LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj RI) melakukan transformasi besar dalam sistem penyiapan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi untuk tahun 1447 H/2026 M. Fokus utama kini dialihkan pada kekuatan fisik dan mental melalui skema pendidikan dan latihan (Diklat) terpadu berbasis barak dengan pendekatan semi-militer.
Transformasi Kurikulum: Fisik Sebagai FondasiBerbeda dengan pola sebelumnya, kurikulum Diklat kali ini menempatkan pembinaan jasmani (Binjas) sebagai pilar utama. Melibatkan instruktur dari TNI, Polri, dan tenaga medis, para calon petugas akan digembleng untuk meningkatkan daya tahan di lapangan yang ekstrem. Materi latihan mencakup jalan sehat, senam kebugaran, hingga baris-berbaris guna menanamkan hierarki dan tanggung jawab.
Letkol Arm Tulus Widodo, Anggota Tim Pokja Diklat PPIH 2026, menjelaskan bahwa skema ini telah dipaparkan langsung di depan Menteri Haji dan Umrah. “Agenda hari ini adalah presentasi di hadapan Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI. Kami menyiapkan pendidikan dan latihan khusus bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M,” ungkap Tulus dalam keterangannya, dikutip Kamis (1/1/2025).
Ia menekankan bahwa kesiapan raga adalah syarat mutlak pelayanan. “Faktor utama dalam mendukung pelaksanaan tugas PPIH adalah kesehatan. Karena itu, kegiatan Binjas kami susun secara terprogram dan terarah sesuai arahan Bapak Menteri,” lanjutnya.
Bukan Militerisasi, Tapi Penguatan KarakterMeski menggunakan metode barak, Kemenhaj menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan untuk mencetak prajurit, melainkan pelayan jemaah yang tangguh dan disiplin. Target akhirnya adalah petugas yang memiliki kombinasi antara sikap (attitude), keahlian (skill), dan wawasan (knowledge).
“Pelatihan ini dapat dikatakan menggunakan pendekatan semi-militer. Namun perlu ditegaskan, ini bukan untuk menjadikan petugas sebagai militer, melainkan membentuk karakter, disiplin, dan rasa bangga dalam menjalankan tugas sebagai pelayan jemaah,” tegas Tulus. Ia berharap standar baru ini dapat mewujudkan pelayanan 3S (Senyum, Salam, Sapa) yang lebih maksimal. “Dengan pelatihan ini, kami bersinergi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan pelayanan maksimal yang dibekali attitude, skill, dan knowledge. Harapannya, petugas mampu melayani jemaah dengan senyum, salam, dan sapa (3S),” tambahnya.
Mitigasi Risiko di LapanganDirektur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menambahkan bahwa stamina petugas adalah kunci dalam menangani berbagai persoalan tak terduga di Arab Saudi. Tanpa fisik yang mumpuni, mitigasi risiko terhadap jemaah dipastikan bakal terhambat.
“Selain mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi masing-masing, petugas haji harus memiliki kesiapan fisik yang memadai. Tanpa fisik yang kuat, petugas akan kesulitan menghadapi berbagai persoalan di lapangan,” jelas Chandra.
Selain fisik, petugas juga dibekali kemampuan teknis untuk mengantisipasi dinamika operasional haji. “Kami lengkapi petugas dengan pengetahuan tambahan untuk mengantisipasi berbagai kondisi di lapangan. Namun yang paling kami tekankan adalah bahwa tugas utama petugas haji adalah melayani jemaah,” tutupnya.
(lam)