LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama memiliki jasa besar terhadap kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itu fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Salah satu peran paling krusial terjadi pada Jumat, 17 Agustus 1945 sekitar pukul 10.00 WIB.
Bertempat di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, rumah seorang saudagar muslim dari Yaman, Syekh Faradj Martak. Tak banyak yang tahu soal fakta ini, sebab mayoritas buku sejarah hanya menyebutkan nama jalan saja.
“Kenapa tidak pernah dijelaskan dalam buku sejarah siapa yang punya rumah Nomor 56 itu? Ternyata itu adalah rumah seorang pengusaha muslim keturunan Yaman, yang sangat cinta terhadap Indonesia ini. Beliau mewakafkan rumahnya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, namanya Syekh Faradj bin Martak,” kata Ustadz Adi Hidayat (UAH) di Akhyar TV, dikutip Senin (8/8/2022).
Baca Juga: Syekh Faradj Martak, Pewakaf Rumah untuk Proklamasi Kemerdekaan RI
Sebelum kemerdekaan, tepat pada 1323 H/1905 M, ada empat ulama yang berkumpul di daerah Krukut, Jakarta Barat. Mereka adalah Sayyid Al-Fakhir, Sayyid Abdurrahman, Sayyid Muhammad, dan Sekhan. Mereka membahas tentang penjajahan yang sudah berlangsung 300 tahun lebih di Tanah Air.
Hasil pertemuan mereka menghasilkan beberapa poin kesimpulan yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia. Di antaranya kekurangan dalam ekonomi, pendidikan, dan juga persatuan. Mereka lalu sepakat untuk mendirikan Perhimpunan Jamiatul Khair.
Beberapa tahun kemudian, mereka mengkonsolidasikan semua bidang yang diperlukan. Pada 1911, mereka mengundang Syaikh Ahmad As-Surkati untuk membantu mengembangkan pendidikan.
Banyak tokoh besar yang bergabung dalam gerakan itu. Ada ahli perdagangan yakni KH Samanhudi dari Solo yang mendirikan Sarekat Dagang Islam. Segi keilmuan pun berkembang di Yogyakarta di bawah KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah. Ada pula pakar politik di Surabaya di bawah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.
Baca Juga: Habib Ali Kwitang, Ulama Penentu Tanggal Proklamasi Kemerdekaan
“Perhatikan 300 tahun tidak terwujud kemerdekaan itu, cuma dalam kisaran 30 tahun, hilang nol satu. 30 tahun berkumpul mereka semua. Linknya disatukan,”ucap UAH.
Terhitung sejak 1911 sampai 1945, akhirnya kemerdekaan Indonesia tercapai. Ir Soekarno sebagai salah satu murid HOS Tjokroaminoto membacakan teks proklamasi.
(jqf)