LANGIT7.ID, Jakarta - Teks Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dibacakan di sebuah rumah No.56 di Jalan Pegangsaan Timur, Cikini, Jakarta. Namun, tak banyak yang tahu jika mewakafkan rumah untuk peristiwa penting itu adalah Syekh Faradj bin Martak.
![Syekh Faradj Martak, Pewakaf Rumah untuk Proklamasi Kemerdekaan RI]()
Mengutip laman Arab Indonesia, muslim dermawan itu bernama lengkap Syekh Faradj bin Said Awadh Martak. Pria yang lahir pada 1897 itu merupakan saudagar terkemuka di Batavia (sekarang Jakarta) sejak zaman kolonial Belanda hingga era kemerdekaan.
Syekh Faradj merupakan ulama yang lahir di Hadramaut, Yaman Selatan. Anaknya yang meneruskan bisnisnya, Ali bin Faradj Martak, dikenal dekat dengan Ir Soekarno. Beberapa aset Syekh Farjad juga tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia.
Baca Juga: Mengenang KHR Asad Syamsul Arifin, Ulama Pejuang yang Gemar Menulis Syair
Salah satunya Hotel Garuda di Yogyakarta. Gedung MARBA di kota lama Semarang juga merupakan salah satu jejak Syekh Faradj. MARBA merupakan singkatan dari Martak Badjened (Marta Badjunet), perusahaan yang dirintis bersama keluarga fam Badjened yang sama-sama berasal dari Hadramaut.
Dia merintis Marba setelah hijrah dan menetap di Indonesia pada 1940. Pada 1945, tanpa pikir panjang, Syekh Faradj mewakafkan rumahnya untuk menjadi tempat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di rumah itu juga Fatmawati menjahit bendera Merah Putih pada malam sebelum proklamasi.
Tak sampai di situ, rumah tersebut juga diberikan kepada Ir Soekarno. Atas jasanya, pemerintah RI pernah memberikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada Syekh Faradj. Ucapan itu disampaikan secara tertulis atas nama Pemerintah Indonesia pada 14 Agustus 1950, yang ditandatangani oleh Ir. HM Sitompul selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia.
Baca Juga: AR Baswedan, Mubaligh Keturunan Arab Yakinkan Mesir Akui Kemerdekaan Indonesia
Dalam upacara ucapan terimakasih itu disebutkan juga Syekh Faradj telah memberikan beberapa gedung lain di Jakarta yang sangat berharga bagi kelahiran Republik Indonesia.
Namun sayang, rumah bersejarah itu kini sudah musnah tanpa jejak karena dirobohkan atas permintaan Bung Karno pada 1962. di atas tanah itu dibangun Gedung Pola, lalu tempat Bung Karno berdiri bersama Bung Hatta dibangun Monumen Tugu Proklamasi. Sejak saat itu, jalan Pegangsaan Timur berubah menjadi Jalan Proklamasi.
(jqf)