Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Kerajaan Dikooptasi Belanda, Pesantren Jadi Basis Massa Melawan Penjajah

Muhajirin Rabu, 17 Agustus 2022 - 13:00 WIB
Kerajaan Dikooptasi Belanda, Pesantren Jadi Basis Massa Melawan Penjajah
Pesantren Tegalsari jadi basis munculnya pemimpin Islam yang melawan penjajah (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam terlebih kalangan santri memiliki andil yang besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pesantren pun jadi basis konsolidasi massa melawan penjajah.

Sejarawan Muslim Dr. Tiar Anwar Bachtiar, menjelaskan, sejarah gerakan melawan kolonialisme penjajah di Nusantara lahir dari gerakan masyarakat. Berbeda dengan negara lain yang muncul dari elit.

“Kemerdekaan Indonesia itu kan inisiatif dari bawahnya (rakyat). Tidak seperti kemerdekaan suatu negara lain, seperti Malaysia. Malaysia itu kan, Inggris memberikan kemerdekaan kepada raja-raja. Artinya, itu hasil negosiasi para raja dengan Inggris, sampai lahirlah Malaysia,” kata Tiar kepada LANGIT7.ID, Selasa (16/8/2022).

Proses kemerdekaan Indonesia sekitar abad ke-19 unik dan berbeda dari negara-negara lain. Saat Indonesia berproses menuju kemerdekaan, peran elit yakni raja-raja sudah hilang. Tiar menyebut sekitar 80 persen peran raja sudah dari pergerakan nasional.

Baca Juga: Rektor INAIFAS: Pesantren Melawan Penjajah Sebab Tak Mau Budaya Sekuler Barat Hadir di Nusantara

Itu dikarenakan para elit politik kerajaan sudah dibawah kontrol kolonial Belanda. Memang masa itu masih ada kerajaan yang berdiri, seperti Mataram dan Yogyakarta. Tapi wilayah kekuasaan mereka diperkecil. Sementara, kerajaan-kerajaan kecil dihapuskan.

“Para raja itu kalau masih mau berkuasa dipersiapkan untuk bergabung dengan kolonial, dijadikan bupati-bupati. Sampai akhirnya, praktis masyarakat tidak lagi punya raja, punya pemimpin yang formal. Pemimpin mereka sudah Belanda,” jelas Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI itu.

Hal itu menyebabkan masyarakat kecewa. Kekecewaan itu lahir karena Belanda tidak mendatangkan efek kesejahteraan kepada masyarakat. Justru sebaliknya, kolonialisme menyebabkan masyarakat semakin miskin dan terpuruk.

“Pada sekitar abad ke-19, raja-raja sudah tidak bisa diandalkan. Maka dari sinilah muncul pola baru dalam pembelaan terhadap masyarakat,” kata Tiar.

Pola baru itu mengalami perubahan signifikan. Tadinya raja yang memimpin pergerakan beralih ke tokoh-tokoh masyarakat. Pergeseran itu dimulai oleh kelompok pesantren yakni para kiai dan ulama.

Baca Juga: Sejarawan: Kemerdekaan Indonesia Digagas Aktivis dan Inteligensia Muslim

“Jadi, pesantren-pesantren inilah yang memulai adanya konsolidasi massa untuk melakukan perlawanan kepada tirani. Datanya banyak sekali. Misalnya dalam perang Diponegoro. Diponegoro meskipun dari keluarga kerajaan, tapi penggerak dan massanya berasal dari kalangan kiai-kiai dan santri-santrinya,” jelas Intelektual dari Persatuan Islam (Persis) tersebut.

Dari situ, para ulama dan santri membuat satu gebrakan baru yakni gerakan sosial seperti di Ciomas, Bogor, dan Banten. Gerakan itu dipelopori para kiai dan haji.

“Jadi, sepanjang abad ke-19 itu meletusnya perlawanan masyarakat itu penggeraknya bukan lagi elit, tapi pemimpin masyarakat itu sendiri. Siapa mereka? Mereka ini adalah ulama, kiai, dan tokoh-tokoh dari pesantren,” ungkap Tiar.

Sepanjang abad ke-19, pola gerakan itu terfokus ke gerakan sosial dan militer dalam melawan penjajah. Lalu, memasuki awal abad ke-20, para ulama sudah melebarkan sayap membuat pola gerakan politik.

“Sebelumnya, hanya gerakan militer, itu pun sudah berhasil mengubah persepsi masyarakat tentang pemimpin mereka, yang tadinya elit sekarang ulama. Abad ke-20 ini, kaum santri Sudah mulai mengenal pola-pola gerakan modern, seperti organisasi,” ucap Tiar.

Pada waktu itu, kaum santri sudah mulai mendirikan organisasi agar gerakan lebih terstruktur. Beberapa berdirilah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persis, Nahdlatul Ulama, dan Al-Irsyad. Itu menjadi satu kemajuan baru.

Gerakan organisasi itu dijadikan alat oleh para ulama dan kaum santri untuk melawan penjajah Belanda. Ada beberapa sosok yang menjadi tokoh penggerak di antaranya HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, hingga A Hassan.

Baca Juga: Jasa Ulama terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

“Itu adalah tokoh-tokoh yang lahir dari tengah masyarakat. Mereka lahir dari kalangan pesantren, nah dari sinilah kemudian masyarakat semakin paham bahwa jalan mereka untuk melepaskan diri dari ketidakadilan sudah,” kata Tiar.

Dari tokoh-tokoh itu memiliki santri yang menjadi tokoh sentral pergerakan seperti Agus Salim sampai Ir Soekarno dan Mohammad Hatta.

“Jadi, artinya peran dari Cokroaminoto yang dia adalah kaum santri mematangkan gerakan sosial, sebagai kekuatan yang mendobrak kekuatan kolonial. Makanya, kita lihat dari sini agak susah memisahkan dari kemerdekaan Indonesia dari peran ulama dan umat Islam,” pungkas Tiar.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)