LANGIT7.ID, Yogyakarta - Sejarawan Persis, Tiar Anwar Bachtiar, menjelaskan, proses kemerdekaan Indonesia dikawal oleh kaum inteligensia dan aktivis. Hal itu tidak seperti banyak negara di dunia yang berdiri karena peran para bangsawan atau politisi lama.
Tiar mencontohkan negara-negara Timur Tengah yang didirikan oleh para bangsawan. Indonesia pernah memiliki potensi ke arah situ. Ketika Soekarno dan Mohammad Hatta mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ada ketegangan yang terjadi.
Belanda berusaha kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan para bangsawan yang masih ingin berkuasa. Namun, tak semua bangsawan mengikuti kemauan Belanda. Hanya segelintir saja.
“Maka sejak saat itu ada semacam ketegangan antara dua kelompok, antara politisi lama akan kembali lagi atau Indonesia dibina oleh satu generasi baru, yang nanti akan membawa Indonesia yang tentu saja berbeda sama sekali,” kata Tiar saat menyampaikan tausiah tarawih di Masjid Kampus UGM, dikutip Sabtu (16/4/2022).
Baca juga: Masjid Agung Banten: Persilangan Arsitektur Jawa, China, dan BelandaNamun pada akhirnya sejarah Indonesia berpihak kepada para inteligensia dan aktivis. Itu bisa dilihat dari para pemimpin Indonesia di awal-awal. Para pemimpin atau pun penggerak pemerintahan adalah orang-orang yang berwacana paling depan.
“Ketika Indonesia lahir, yang muncul menjadi pemimpin itu adalah para pemikir nomor satu Indonesia,” kata Tiar.
Para pemikir itu sudah aktivis menyampaikan konsep negara Indonesia melalui koran-koran pada tahun 20-an dan tahun 30-an. Mereka juga menulis buku-buku untuk menyampaikan gagasan tentang konsep negara Indonesia.
Sebagian besar dari mereka adalah intelegensia muslim. Di antaranya ada Haji Agus Salim dan Cokroaminoto. Sejak tahun 20-an, mereka sudah berwacana tentang bagaimana masa depan Indonesia.
Cokroaminoto menulis buku berjudul Komunisme Islam. Itu bisa pahami, karena tarikan komunisme kala itu sangat kuat. Uni Soviet baru saja Berdiri pada 1917. Komunis berkibar ke seluruh dunia dan daya tariknya sampai ke Indonesia.
“Tapi para inteligensia muslim di Indonesia, yang sudah membaca pemikiran-pemikiran komunisme, liberalisme, mereka mencoba untuk memberikan respons tentang apa yang harus dilakukan oleh Indonesia pada masa yang akan datang,” kata Tiar.
Setelah para inteligensia itu membedah faham komunis, mereka berkesimpulan bahwa komunisme tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kalaupun seandainya Indonesia saat merdeka harus menerapkan sosialisme, itu bukanlah sosialisme sekular.
“Tapi sosialisme yang berbasis pada kepercayaan dasar yang dimiliki oleh orang Indonesia, yaitu Islam. Maka Cokroaminoto menulis buku berjudul Sosialisme Islam pada 1920-an,” kata Tiar.
Banyak tokoh-tokoh muslim yang memberikan gagasan. Ada dalam bentuk wacana dan ada pula bentuk gerakan. Seperti Agus Salim, Moh Natsir, KH Ahmad Dahlan, Abdul Kahar Muzakkir, dan KH Ahmad Mansur.
“Tokoh-tokoh ini yang memfilter gagasan-gagasan tentang masa depan Indonesia yang waktu itu belum berdiri. Waktu itu belum berdiri, baru dicita-citakan, belum diwujudkan,” kata Tiar.
Baca juga: Sejarah Masjid Tua Tempat Penyebaran Islam di PandeglangSemua tokoh-tokoh itu saling beradu wacana dan ide. Semua saling berkontestasi dengan pemikiran-pemikirannya tentang masa depan Indonesia. Itu menjadikan Indonesia memiliki gagasan yang sangat kuat, tidak lahir dari pragmatisme politik yang hanya sekadar ingin mendapatkan keuntungan sesaat saja.
“Tapi justru para aktivis sangat serius, saling mengisi gagasan, pemikiran tentang bagaimana masa depan Indonesia,” kata Tiar.
Hingga pada akhirnya, adu wacana itu semakin mengkristal menjadi lembaga. Di antaranya ada Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUKI). Dalam forum itu, para tokoh bangsa membahas konsep negara dan persiapan kemerdekaan.
“Peran para inteligensia muslim sangat penting dan sangat dominan. Sampai akhirnya lahirnya Piagam Jakarta pada 22 Juni,” tutur Tiar.
(jqf)