Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home sosok muslim detail berita

Ulama Jadi Tumpuan Harapan dalam Perjuangan Merebut Kemerdekaan

Muhajirin Rabu, 17 Agustus 2022 - 15:40 WIB
Ulama Jadi Tumpuan Harapan dalam Perjuangan Merebut Kemerdekaan
Habib Ali Kwitang (tengah) berdoa bersama para Habaib lain (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Sejarah Islam, Dr Tiar Anwar Bachtiar, mengatakan, pesantren menjadi basis pergerakan masyarakat melawan penjajah. Dan ulama menjadi tumpuan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Pada abad ke-19, kerajaan di Nusantara Berhasil dikontrol kolonial Belanda. Kerajaan besar seperti Mataram ditekan sampai wilayah kekuasaan mereka menyempit. Sementara, kerajaan kecil dihapus secara total.

Belanda masih memberikan kekuasaan politik kepada raja, asal mau tunduk pada aturan kolonial. Mereka dijadikan pemimpin daerah seperti bupati. Fakta itu membuat masyarakat kecewa. Mereka kehilangan sosok pemimpin melawan kolonial.

“Ini hal yang realistis saja, gerakan itu kan butuh hal mudah. Dulu kenapa yang menjadi pemimpin gerakan itu adalah elit kerajaan, karena raja masih efektif, masih berjalan. Ketika raja tidak efektif, masyarakat itu butuh pemimpin,” kata Tiar kepada LANGIT7.ID, Rabu (17/8/2022).

Baca Juga: Kerajaan Dikooptasi Belanda, Pesantren Jadi Basis Massa Melawan Penjajah

Kekecewaan masyarakat membuat raja tak lagi memiliki pengaruh di akar rumput. Akhirnya, masyarakat mencari pemimpin baru untuk melakukan pergerakan. Tokoh paling dekat adalah masyarakat pesantren yakni ulama, kiai, dan santri.

“Yang setiap hari biasa dijadikan tempat curhat, tempat mendengar, mencari solusi, yang paling dekat adalah pesantren. Itu akhirnya kiai dan santri. Kesadaran itu menjadi kekuatan baru, yakni kekuatan penggerak masyarakat,” jelas Doktor Ilmu Sejarah lulusan Universitas Indonesia ini.

Memang, tidak semua masyarakat adalah santri, tapi menurut Tiar, semua dekat dengan ulama dan kiai. Kiai menjadi tumpuan harapan masyarakat pada waktu. Itu akhirnya melahirkan gerakan baru yang menjadikan kemerdekaan Indonesia direbut oleh masyarakat, bukan hasil negosiasi dengan penjajah.

“Nah, pesantren itu menjadi tempat masyarakat mudah menemukan pemimpin baru. Jadi, positioning pesantren itu jadi berubah, yang tadinya cuma lembaga pendidikan saja, jadi menjadi kekuatan sosial politik baru,” ujar Staf Pengajar di Universitas Padjajaran Bandung ini.

Baca Juga: Sejarawan: Jihad Fisabilillah adalah Nasionalisme Islam Melawan Penjajah

Gerakan itu bermula dari gerakan militer. Lalu saat memasuki awal abad ke-20, ulama dan santri mengubah pola gerakan dengan mendirikan organisasi. Itu agar gerakan lebih terstruktur. Maka berdirilah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persis, Nahdlatul Ulama, dan Al-Irsyad. Itu menjadi satu kemajuan baru.

Gerakan organisasi itu dijadikan alat oleh para ulama dan kaum santri untuk melawan penjajah Belanda. Ada beberapa sosok yang menjadi tokoh penggerak di antaranya HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, hingga A Hassan.

“Itu adalah tokoh-tokoh yang lahir dari tengah masyarakat. Mereka lahir dari kalangan pesantren, nah dari sinilah kemudian masyarakat semakin paham bahwa jalan mereka untuk melepaskan diri dari ketidakadilan sudah,” kata Tiar.

Baca Juga: Habib Ali Kwitang, Ulama Penentu Tanggal Proklamasi Kemerdekaan

Dari tokoh-tokoh itu memiliki santri yang menjadi tokoh sentral pergerakan seperti Agus Salim sampai Ir Soekarno dan Mohammad Hatta.

“Jadi, artinya peran dari Cokroaminoto yang dia adalah kaum santri mematangkan gerakan sosial, sebagai kekuatan yang mendobrak kekuatan kolonial. Makanya, kita lihat dari sini agak susah memisahkan dari kemerdekaan Indonesia dari peran ulama dan umat Islam,” ungkap Tiar.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)