LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarawan dari Persatuan Islam (Persis), Dr. Tiar Anwar Bachtiar, nasionalisme yang berkembang di Indonesia sangat berbeda dengan nasionalisme ala Barat. Inti nasionalisme Indonesia adalah gerakan jihad yang digerakkan para ulama dari kalangan pesantren.
Sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20, gerakan melawan Belanda sudah dikendalikan oleh kaum santri. Saat kaum terpelajar sekuler dari Barat pulang ke Tanah Air, mereka ingin membuat gerakan nasionalisme.
“Tapi nasionalisme yang mereka bawa ini belum ada isinya, karena mereka belum punya referensi, kekuatan apa yang mereka bisa gunakan untuk membebaskan atau memerdekakan Indonesia,” terang Tiar.
Dia menjelaskan, gagasan nasionalisme itu lahir dari kulturalisme di tengah masyarakat, seperti negara-negara Barat. Tiar mencontohkan Belanda dan Jerman. Belanda membuat negara sendiri karena merasa memiliki komunitas kultur yang berbeda dari Jerman.
Baca Juga: Kerajaan Dikooptasi Belanda, Pesantren Jadi Basis Massa Melawan Penjajah
“Walaupun ada latar belakang kerajaan, tetapi kekuatan budaya yang dijadikan sebagai landasan untuk berpisahnya satu negara dengan negara yang lain. Begitupun dengan negara-negara kecil di Eropa. Karena ada komunitas kultural tertentu, akhirnya mereka memisahkan diri,” jelas Tiar.
Pola itu tentu saja tidak bisa dikembangkan di Indonesia. Itu karena, para ulama sudah membuat satu konsolidasi yang menyatukan seluruh etnis dari ragam pulau. Ketika kaum sekuler ingin membuat gerakan nasionalisme, mereka tidak menemukan satu kekuatan kebangsaan.
“(Nasionalisme) Itu kan masih kosong, tidak ada isinya. Belum ada satu kekuatan yang mereka pikirkan, ini akan menjadi satu alat untuk menghadapi kolonialisme Belanda,” kata Tiar.
Dari situ, mereka menemukan gagasan yang sudah jadi yakni hasil konsolidasi para ulama. Gerakan itu sudah lintas etnis. Tidak ada lagi pikiran terkait Jawa, Sunda, atau pun etnis lain. Semua bersatu atas satu gerakan Jihad Fisabilillah melawan kolonialisme Belanda.
Baca Juga: Beragama dan Berbangsa Merupakan Satu Kesatuan
“Semangatnya, mau ga mau harus kembali kepada apa sih yang mendorong mereka mau menghadapi Belanda, ternyata Jihad Fisabilillah yang dikobarkan sejak masa Perang Diponegoro, masa Imam Bonjol, Jihjad fisabilillah orang Aceh. Idelologi itu kan menyebar di mana-mana,” ungkap Tiar.
Gerakan Jihad Fisabilillah itu sudah berkembang sejak abad ke-19, ketika kerajaan-kerajaan di Nusantara dihapus dan dilemahkan oleh Belanda. Ideologi berdiri kuat dan menjadi landasan masyarakat melawan Belanda.
“Bahkan, ketika Indonesia sudah merdeka kemudian menghadapi agresi militer dari Belanda, ideologi yang muncul itu tetap Jihad Fisabilillah. Jadi, perang-perang kolonialisme adalah jihad,” ujar Tiar.
Baca Juga: Pidato Bung Karno: Jika Kita Berjuang di Atas Dasar Agama, Kita Akan Menang
Artinya, jihad fisabilillah sudah mengakar dan menggerakkan masyarakat lintas etnis di Tanah untuk melawan penjajah Belanda. Itulah yang diteruskan oleh kaum nasionalis. Mereka hanya melanjutkan hasil konsolidasi umat Islam.
“Apa kekuatannya? kekuatan islam. Ini kadang-kadang kalau analisisnya sambil lewat saja, kita tidak ketemu dengan itu. Sebetulnya kan esensinya itu,” pungkas Tiar.
(jqf)