Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home global news detail berita

Beragama dan Berbangsa Merupakan Satu Kesatuan

redaksi Senin, 15 Agustus 2022 - 17:22 WIB
Beragama dan Berbangsa Merupakan Satu Kesatuan
Pimpinan redaksi Langit7.id, Djaka Susila. Foto: Dok Pribadi.
LANGIT7.ID, Jakarta - Pada 2022 ini, bangsa Indonesia memeringati hari kemerdekaan yang ke-77 tahun. Tema yang diusung pemerintah Indonesia adalah Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat. Tema ini berkaitan dengan kondisi dua tahun terakhir.

Oleh: Djaka Susila

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, membuat hampir semua sendi kehidupan Bangsa Indonesia terdampak. Guncangan kesehatan masyarakat ini berimbas pada sektor ekonomi, sosial dan yang lain. Meski pandemi Covid-19 belum dinyatakan selesai, sektor ekonomi mulai menggeliat. Kehidupan sosial pun kembali berangsur normal. Pada hari kemerdekaan ke-77 ini, pemerintah berharap Indonesia bisa pulih lebih cepat.

Tidak hanya itu, momentum ini juga harus dijadikan kebangkitan yang lebih kuat lagi. Semangat pulih dan bangkit tentu seperti perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Tentu dengan tantangan yang berbeda.

Melihat ke belakang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dengan perjuangan para tokoh-tokoh muslim. Sultan Agung dari Mataram Islam, Pangeran Diponegoro, Cut Nya Dien, Imam Bonjol, Kapitan Pattimura hingga KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Ashari dan masih banyak lagi. Pancasila dan UUD 1945 pun memiliki nafas Islam yang penuh kasih sayang dan toleransi. Islam mempunyai peran kuat terhadap kemerdekaan Bangsa Indonesia. Islam tidak bisa dilepaskan dari Bangsa Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki pengaruh besar di dunia internasional.

Baca Juga: Menyatukan Kenegaraan dan Keagamaan, Kunci Persatuan Indonesia

Namun, ada fenomena berkaitan hubungan antara beragama dan berbangsa atau bernegara. Ini tidak lepas dengan kondisi politik belakangan ini. Perbedaan pandangan politik seolah memecah pandangan bahwa yang beragama tidak berbangsa atau bernegara. Pun yang yang berbangsa atau bernegara dianggap kurang beragama. Dikotomi ini lebih mudah diterjemhakan dengan kelompok Islamis dan Nasionalis. Ada benturan antara keduanya. Meski tidak semua terjadi di kelompok masyarakat. Ini memang lebih pada stigma daripada realitas di kalangan masyarakat. Namun ini cukup meresahkan.

Langit7.id, portal muslim modern pertama di Indonesia, pada peringatana ke-77 tahun kemerdekaan Bangsa Indonesia ini mengangkat tema Bangga Beragama, Bangga Berbangsa. Apa kaitan dengan tema Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat? Residu dikotomi tentang Islamis dan Nasionalis masih ada. Dengan mengusung tema di atas, Langit7.id berharap Bangsa Indonesia bisa pulih dari dikotomi Islamis dan Nasionalis. Selanjutnya, Bangsa Indonesia bangkit, bersatu lebih kuat. Karena memang Islamis dan Nasionalis adalah satu kesatuan.

Banyak referensi yang menyebutkan, dikotomi itu muncul bukan sekarang atau beberapa tahun yang lalu. Pada era kolonialisme, upaya memecah bangsa Indonesia sudah terjadi. Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis) Ustaz Jeje Zaenuddin pun mengatakan upaya kolonial memecah istilah Islam abangan dan santri. Begitu juga dengan istilah mulimin dan nasionalis. Ini semacam perang proxy. Kenapa itu dilakukan oleh penjajah? Karena saat itu penjajah secara materi sudah tidak kuat menghadapi perlawann fisik para pejuang. Sendi yang dilemahkan adalah memacah Bangsa dengan istilah abangan dan santri di Jawa dan muslimin dengan nasionalis secara lebih luas.

Baca Juga: Waketum Persis soal Islamofobia: Harus Ada Perlawanan Nyata

Pada Perang Pangeran Diponegoro pada 1825-1830, membuat keuangan Hindia Belanda defisif. Belum lagi beberapa perang di beberapa daerah lainnya. Melawan secara fisik sudah sangat sulit. Cara yang lebih murah dan efektif adalah dengan perang proxy. Keyakinan Islam yang begitu kuat di zaman itu justru menumbuhkan jiwa nasionalis yang besar. Kekuatan agama Islam dan nasionalis inilah yang dikawatirkan Belanda. Kekuatan masyarakat Jawa yang teguh dengan Islam pun dipecah dengan abangan dan santri. Di kalangan tertentu, upaya pemecahan dengan istilah kaum muslimin dan nasionalis. Upaya memecah ini lebih banyak melalui buku-buku yang diterbitkan atas inisiasi penjajah dengan menggunakan tangan oknum bangsa Indonesia sendiri. Atau bahkan memutarbalik fakta-fakta sejarah kekuatan Bangsa Indonesia.

Islam dan nasionalisme tidak bisa dipisahkan. Karena ketika ber-Islam, kita juga dituntut untuk berbangsa. Kekuatan ini yang dikhatirkan banyak pihak, termasuk asing. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, kekuatan Islam dan Nasionalisme yang dimiliki Indonesia akan memiliki peran sentral bagi dunia. Bahkan memungkinkan, peradaban Islam yang besar dan memengaruhi dunia pada era Andalusia, bisa bangkit kembali dari Indonesia.

Baca Juga: Kemegahan Masjid Sultan Ahmed, Simbol Ikonik Kota Istanbul

Jadi bangsa Indonesia akan semakin kuat jika tidak ada dikotomi Islam dan Nasional atau beragama dengan berbangsa. Ketika kita beragama tentu kita seorang nasionalis yang berbangsa. Inilah kekuatan yang harus kembali bangkit agar Bangsa Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang besar. Langit7.id mengajak semua sahabat untuk Bangga Beragama, Bangga Berbangsa. Karena dengan ini, Bangsa Indonesia ini akan semakin kuat dan besar.

Pimpinan Redaksi Langit7.id

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)