Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Nasionalisme vs Pan-Islamisme: Pandangan Ulama dan Realitas

miftah yusufpati Sabtu, 30 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Nasionalisme vs Pan-Islamisme: Pandangan Ulama dan Realitas
Pan-Islamisme dan nasionalisme tidak harus berhadapan. Keduanya bisa berjalan seiring. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Gagasan Pan-Islamisme pertama kali mengemuka pada abad ke-19, dipelopori Jamaluddin Al-Afghani. Ia mendorong persatuan umat Islam menghadapi imperialisme Barat. Namun, menurut buku The Middle East: A History karya William L. Cleveland dan Martin Bunton (2016), Afghani tidak menuntut penyatuan seluruh umat Islam di bawah satu negara. Ia lebih menekankan solidaritas politik dan intelektual untuk melawan kolonialisme (Cleveland & Bunton, 2016).

Dengan kata lain, Pan-Islamisme bukan blueprint negara tunggal. Ide ini bersifat moral dan strategis, bukan kewajiban syar’i yang mengharuskan penghapusan negara-bangsa.

Sejarah mencatat Khilafah Utsmaniyah sering dijadikan simbol kesatuan umat. Namun, menurut Rashid Rida dalam Al-Khilafah aw al-Imamah al-‘Uzma (1922), Khilafah adalah bentuk ijtihad politik, bukan syariat yang baku. Bahkan, dalam sejarah awal Islam, setelah wafatnya Nabi Muhammad, terjadi perbedaan pandangan soal suksesi kepemimpinan.

Prof. Muhammad Hamidullah dalam The Muslim Conduct of State juga menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak menetapkan bentuk negara tertentu. Yang diwajibkan hanyalah tegaknya prinsip keadilan dan persaudaraan (QS An-Nisa:58).

Baca juga: Dari Seruan Afghani ke Diplomasi Erdogan: Evolusi Pan-Islamisme

Apa Kata Al-Qur’an?

Al-Qur’an berbicara soal persatuan nilai, bukan keseragaman politik. QS Ali Imran:105 memperingatkan: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas.”

Ayat ini, menurut Mahmud Hamdi Zaqzuq dalam Al-Tafsir wa al-Mufassirun (2001), menekankan persatuan dalam akidah dan etika, bukan pembentukan negara global tunggal.

Setelah runtuhnya Khilafah 1924, umat Islam memasuki era negara-bangsa. Banyak ulama menerima realitas ini. Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam Fiqh al-Daulah fi al-Islam (1997) menulis: “Tidak ada nash yang mengharuskan umat berada dalam satu negara. Yang penting adalah menegakkan syariat dalam setiap wilayah dan bekerja sama antarnegara Islam.”

Dengan demikian, nasionalisme tidak otomatis bertentangan dengan Islam. Selama ia tidak melahirkan chauvinisme atau menolak persaudaraan umat, negara-bangsa sah-sah saja.

Baca juga: Kapan Islam Mengenal Nasionalisme? Dari Napoleon ke Al-Qur’an

Kesimpulannya, Pan-Islamisme dan nasionalisme tidak harus berhadapan. Keduanya bisa berjalan seiring: persatuan umat dalam visi, kerja sama politik, dan solidaritas kemanusiaan, tanpa harus memaksakan bentuk tunggal. Dalam bahasa al-Qardhawi, “Islam memerintahkan persatuan, bukan penyatuan yang menghapus realitas sosial dan politik.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)