Di tengah menguatnya isu persatuan umat Islam global, muncul pertanyaan lama: haruskah umat berada dalam satu negara? Atau cukup dengan nilai persatuan tanpa bentuk politik tunggal?
Persatuan, bahasa, dan keturunan kerap disebut sebagai pilar kebangsaan. Tapi, apakah ketiganya sejalan dengan ajaran Al-Quran? Sebuah tinjauan dari tafsir klasik hingga pemikir kontemporer.
Paham kebangsaan bukanlah konsep yang lahir bersama teks-teks suci. Ia datang belakangan, hasil pergulatan politik modern. Lantas, bagaimana Islam menanggapi konsep yang berakar di Eropa ini?
Islam tidak mengenal nasionalisme dalam arti sempit yang mengagungkan satu bangsa di atas yang lain karena umat Islam disatukan oleh aqidah, bukan ras atau wilayah.
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur berupaya menumbuhkan rasa nasionalisme kepada generasi Z, dengan memberikan wawasan tentang perjalanan sejarah
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof H Mohammad Mahfud Mahmodin (MD), menilai nasionalisme warga pesantren tidak perlu diragukan
Lirik syair Syubbanul Wathan atau populer dengan sebutan Ya Lal Wathan yang digubah KH Abdul Wahab Chasbullah mempunyai makna nasionalisme dari semangat kepesantrenan.
Arwani menyebut KH Hasyim Asyari telah memberi peninggalan yang besar, seperti tidak adanya pertentangan antara nasionalisme dan Islam dalam praktik berbangsa dan bernegara Indonesia.
Cendekiawan Muslim Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, mengungkapkan, menjadi bangsa Indonesia merupakan perintah dari Allah Ta'ala. Itu berdasarkan Surah Al Hujurat ayat 13 yang menyebut Allah Ta'ala menciptakan manusia bersuku-suku atau berbangsa-bangsa.
Ustadz Wijayanto menepis anggapan bahwa orang religius tidak nasionalis. Pola pikir itu dinilai salah besar, karena beragama dan bernegara saling beririsan.
Sejarawan dari Persatuan Islam (Persis), Dr. Tiar Anwar Bachtiar, nasionalisme yang berkembang di Indonesia sangat berbeda dengan nasionalisme ala Barat. Inti nasionalisme Indonesia adalah gerakan jihad yang digerakkan para ulama dari kalangan pesantren.
Secara fundamental, pendirian NU dilatarbelakangi motif tradisionalisme, yakni mempertahankan Ahlussunnah waljamaah dan motif nasionalisme, di samping motif internasionalisme.