Oleh: DR.Siti Nurina HakimLANGIT7.ID-Guru perlu membaca "perilaku di balik perilaku" karena tindakan luar anak hanyalah puncak gunung es dari kebutuhan atau emosi dasar yang belum terpenuhi. Memahami alasan di balik aksi anak didik membantu guru memberikan solusi yang tepat sasaran, bukan sekadar memberikan hukuman
Di ruang kelas pendidikan anak usia dini, perilaku anak sering kali menjadi persoalan yang tidak sederhana. Seorang anak mudah menangis, anak lain suka mengganggu teman, ada yang gemar berkata kasar, memukul atau mencubit, sementara anak lainnya cenderung menarik diri dan tidak mau bergaul. Bagi guru, perilaku tersebut tentu membutuhkan respons. Persoalannya, respons seperti apa yang paling tepat? Selama ini, perilaku anak yang dianggap bermasalah sering kali ditempatkan dalam kerangka disiplin. Anak dinasihati, ditegur, diberi peringatan, bahkan tidak jarang dibiarkan karena guru merasa tidak lagi mampu menghadapinya. Padahal, perilaku anak tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaan. Di balik perilaku terdapat pengalaman, kebutuhan, emosi, serta cara anak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, masa anak usia dini merupakan periode penting bagi perkembangan sosial dan emosional. Anak sedang belajar mengenali dan mengungkapkan emosi, mengendalikan dorongan, membangun hubungan dengan teman sebaya, serta memahami respons orang dewasa terhadap dirinya. Karena itu, kualitas hubungan antara anak dan guru menjadi salah satu unsur penting dalam lingkungan pendidikan.
Hubungan guru-anak yang positif dan suportif dapat memberikan rasa aman secara psikologis sekaligus mendukung perkembangan sosial-emosional dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Dalam konteks inilah konsep bahasa cinta atau love language menarik untuk diperkenalkan kepada guru. Bukan sebagai resep tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan perilaku anak, melainkan sebagai salah satu perspektif untuk membantu guru memahami kebutuhan afeksi anak yang dapat diekspresikan dan diterima dengan cara berbeda.
Ketika Guru Berhadapan dengan Anak yang “Sulit”Persoalan tersebut secara nyata ditemukan pada guru-guru Bustanul Athfal (BA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA). Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, guru mengungkapkan berbagai kesulitan ketika menghadapi peserta didik.
Ada anak yang setelah dipanggil atau ditegur langsung diam, tetapi ada pula yang justru menolak. Ada anak yang tetap berkata kasar meskipun sudah berulang kali dinasihati. Ada yang memukul atau mencubit temannya tanpa alasan yang jelas. Ada pula yang lebih senang menyendiri dan tidak mau bergabung dengan teman-temannya. Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan guru bukan hanya persoalan penguasaan materi pembelajaran. Guru juga membutuhkan kompetensi psikologis untuk memahami perilaku peserta didik.
Anak usia dini belum selalu mampu mengatakan secara verbal, “Saya sedang membutuhkan perhatian”, “Saya merasa tidak diterima”, “Saya ingin ditemani”, atau “Saya sedang kecewa”. Keterbatasan kemampuan verbal dan regulasi emosi membuat kebutuhan tersebut terkadang muncul dalam bentuk perilaku. Karena itu, pendekatan yang hanya berfokus pada perilaku tampak berisiko mengabaikan kebutuhan psikologis yang berada di belakangnya.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata, “Bagaimana menghentikan perilaku anak?”, tetapi juga “Mengapa anak menunjukkan perilaku tersebut dan respons apa yang paling konstruktif untuk membantunya?” Perubahan cara bertanya ini tampak sederhana, tetapi memiliki implikasi psikologis pedagogis yang besar.
Bahasa Cinta sebagai Bahasa AfeksiKonsep Five Love Languages dikenal melalui lima bentuk ekspresi kasih sayang, yaitu words of affirmation, quality time, physical touch, receiving gifts, dan acts of service. Dalam konteks anak, kelima kategori tersebut dapat dipahami sebagai bentuk-bentuk perhatian dan kasih sayang yang mungkin dirasakan berbeda oleh setiap anak. Kelima kategori ini digunakan sebagai kerangka psikoedukasi dalam kegiatan kepada guru IGABA.
Namun, konsep bahasa cinta perlu ditempatkan secara proporsional. Ia bukan alat diagnosis psikologis dan tidak seharusnya digunakan untuk memberi label permanen kepada anak. Seorang anak juga tidak selalu hanya memiliki satu bentuk kebutuhan afeksi. Cara anak menerima perhatian dapat berubah sesuai usia, situasi, pengalaman, dan kualitas hubungan dengan orang dewasa. Karena itu, yang lebih penting bagi guru bukan menentukan secara kaku bahwa “anak ini tipe kata-kata” atau “anak itu tipe hadiah”, yang lebih penting adalah meningkatkan kepekaan terhadap respons anak ketika menerima bentuk perhatian tertentu.
Bahasa cinta dapat menjadi alat bantu refleksi bagi guru. Guru belajar mengamati: perhatian seperti apa yang membuat anak lebih tenang? Respons seperti apa yang membuatnya lebih terbuka? Kapan anak membutuhkan waktu bersama? Kapan ia membutuhkan afirmasi? Kapan ia membutuhkan bantuan konkret? Dengan demikian, bahasa cinta tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi perspektif untuk membaca dinamika interaksi guru dan peserta didik.
Dari Memberi Nasihat Menuju Memahami KebutuhanSalah satu persoalan dalam mendidik anak adalah kecenderungan orang dewasa untuk segera memberikan nasihat. Anak melakukan kesalahan, kemudian dinasihati. Anak mengulangi kesalahan, nasihat diulang. Jika belum berhasil, suara dinaikkan. Ketika tetap tidak berubah, anak kemudian diberi label sebagai anak “nakal” atau “sulit”. Padahal, nasihat hanya akan efektif apabila anak berada dalam kondisi psikologis yang memungkinkan dirinya menerima pesan tersebut. Anak yang sedang marah, kecewa, takut, atau merasa tidak diterima mungkin tidak berada dalam kondisi optimal untuk menerima penjelasan panjang dari guru. Karena itu, sebelum mengoreksi perilaku, guru perlu membangun kembali hubungan emosional dengan anak. Guru bukan sekadar pengontrol perilaku, tetapi membantu anak memahami dan mengelola pengalaman emosionalnya. Kasih sayang tentu bukan berarti menghilangkan aturan. Justru kasih sayang dapat menjadi dasar untuk menerapkan aturan secara lebih manusiawi.
Anak tetap perlu belajar bahwa memukul teman adalah perilaku yang salah. Namun, cara menyampaikan koreksi dapat berbeda. Guru dapat mengatakan, “Ibu tahu kamu marah, tetapi memukul teman tidak boleh.” Pesan yang diterima anak adalah bahwa dirinya tetap diterima, tetapi perilaku yang salah tetap harus diperbaiki.
Psikoedukasi untuk Meningkatkan Kompetensi Psikologis GuruPsikoedukasi untuk meningkatkan kompetensi psikologi guru merupakan program intervensi strategis yang membekali pendidik dengan pemahaman psikologis mendalam untuk mengoptimalkan performa mengajar dan menjaga kesejahteraan mental mereka. Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya diajarkan teori pedagogi, tetapi juga dilatih untuk mengenali dinamika perkembangan emosi anak, mengidentifikasi kebutuhan belajar yang beragam, serta menerapkan manajemen kelas yang berbasis empati. Program ini memposisikan guru sebagai fasilitator yang peka terhadap kondisi psikis siswa, sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik.
Pada implementasinya, psikoedukasi fokus membangun ketahanan mental (resilience) dan keterampilan koping guru dalam menghadapi stres kerja harian. Beban administrasi yang tinggi dan tuntutan menghadapi berbagai karakter siswa sering kali memicu kejenuhan emosional atau burnout. Melalui pelatihan regulasi emosi, teknik relaksasi, dan penyelesaian konflik, guru diajarkan cara mengelola frustrasi dan emosi negatif secara sehat. Guru yang memiliki kecerdasan emosional yang baik akan lebih objektif, sabar, dan tidak reaktif saat menghadapi perilaku menantang dari peserta didik di kelas.
Selain aspek personal, psikoedukasi berperan besar dalam memperkuat kompetensi sosial guru, terutama dalam menjalin komunikasi interpersonal yang efektif. Guru dilatih untuk menggunakan teknik mendengarkan aktif (active listening) dan komunikasi asertif, baik saat berinteraksi dengan siswa, berkolaborasi dengan sesama rekan guru, maupun saat berdiskusi dengan orang tua murid. Sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan keluarga yang terbangun lewat komunikasi yang baik ini akan mempermudah penyelesaian masalah belajar atau perilaku.
Psikoedukasi merupakan investasi krusial yang secara simultan meningkatkan kompetensi profesional, kepribadian, dan sosial guru. Dengan mengintegrasikan prinsip psikologi ke dalam praktik kepengajaran, program ini berhasil melahirkan pendidik yang tangguh secara mental, adaptif terhadap kebutuhan siswa, dan mampu membangun komunikasi yang kolaboratif di lingkungan sekolah. Dalam Program ini orang tua mutlak tidak boleh ditinggalkan karena mereka adalah mitra strategis utama sekolah dalam ekosistem pendidikan anak. Jika program psikoedukasi hanya menyasar guru tanpa melibatkan orang tua, efektivitasnya akan timpang. Ketika guru menerapkan pendekatan psikologis yang positif di sekolah namun anak menghadapi pola asuh yang kontradiktif di rumah, anak akan mengalami kebingungan peran dan menghambat perkembangan kompetensinya.
Memahami Anak Sebelum Mengubah PerilakunyaPada akhirnya, persoalan perilaku anak tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan nasihat, teguran, atau aturan. Perilaku yang tampak sering kali merupakan bagian terluar dari kebutuhan emosional yang belum mampu diungkapkan anak secara verbal. Karena itu, guru perlu belajar membaca “perilaku di balik perilaku”: memahami apa yang mungkin dirasakan, dibutuhkan, dan ingin disampaikan anak melalui tindakannya. Temuan dari kegiatan pengabdian ini memberikan dasar bahwa peningkatan kapasitas psikologis guru merupakan bagian penting dalam membangun interaksi pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak. Namun, peningkatan pengetahuan saja belum cukup. Ia perlu diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari melalui refleksi, latihan, komunikasi positif, empati, serta kerja sama yang berkelanjutan antara guru dan orang tua.
Memahami bahasa cinta juga bukan berarti membiarkan semua perilaku anak atau menghilangkan disiplin. Anak tetap membutuhkan batasan yang jelas. Yang perlu diubah adalah cara kita memberikan batasan tersebut: tegas terhadap perilaku yang salah, tetapi tetap menghargai pribadi anak; mengoreksi kesalahan tanpa merendahkan; dan memahami emosi tanpa membenarkan perilaku yang menyakiti.
Dengan demikian, pendidikan yang baik bukan hanya pendidikan yang berhasil membuat anak patuh, tetapi pendidikan yang membantu anak memahami dirinya, mengelola emosinya, menghargai orang lain, dan merasa aman untuk berkembang. Di sinilah guru memiliki peran yang sangat strategis. Sebab sebelum anak belajar tentang angka, huruf, atau berbagai pengetahuan tentang dunia, ia terlebih dahulu belajar dari hubungan yang dibangun orang dewasa di sekitarnya: apakah dirinya diterima, apakah dirinya berharga, dan apakah ada orang yang bersedia memahaminya.
Maka, pertanyaan terpenting dalam mendidik anak bukanlah “Bagaimana membuat anak menurut?”, melainkan “Apa yang sedang ingin disampaikan anak melalui perilakunya, bagaimana anak mampu mengeksrepsikannya dalam perilaku yang baik dan benar?, dan bagaimana saya dapat membantunya tumbuh menjadi lebih baik?”. Ketika guru mampu mengubah cara melihat anak dari sekadar “anak yang bermasalah” menjadi “anak yang sedang membutuhkan pemahaman”, di situlah pendidikan bergerak dari sekadar mengendalikan perilaku menuju proses memanusiakan manusia.
(Penulis adalah Dosen Fak Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta)(lam)