Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Hubungan Kaum Santri dan Nasionalis Tak Pernah Terpisahkan

Muhajirin Selasa, 15 Februari 2022 - 12:54 WIB
Hubungan Kaum Santri dan Nasionalis Tak Pernah Terpisahkan
Ilustrasi (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan, secara historis, hubungan kaum santri dan kaum nasionalis seperti dua sisi mata uang tak pernah terpisahkan. Santri dan nasionalis menyatu dalam setiap perjuangan bangsa ini.

Hal itu ia ungkapkan dalam Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-96 yang digelar PDIP secara hibrid di Jakarta pada Sabtu (12/2/2022).

"Di PDI Perjuangan, kami juga diajarkan untuk mengambil tanggung jawab dalam memberdayakan umat melalui program-program kerakyatan yang sasarannya di dalamnya juga ada para nahdliyin," kata Eri dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (14/2/2202).

Hal serupa disampaikan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas. Ia menilai pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama saja, tetapi juga mengajarkan prinsip kebangsaan.

Dia menjelaskan, pesantren merupakan lembaga tradisional yang didirikan para kiai untuk memperkokoh ajaran Islam di Nusantara.

"Pengajaran di pesantren juga tidak terbatas pada pengetahuan agama saja, tapi juga mengajarkan prinsip-prinsip dan paham kebangsaan sebagai semacam bekal atau 'sangu' untuk para santri. Suatu saat, mereka harus berkhidmah dalam ruang publik yang lebih besar di masyarakat bangsa dan negara," kata Yaqut dalam acara yang sama.

Nasionalisme para santri bisa dilacak dari pendirian Nahdlatul Ulama pada 13 Januari 1926 atau 2 pekan sebelum kelahiran NU. Kala itu, ada 15 kiai berkumpul di rumah Abdul Wahab Chasbulloh, salah satu pendiri NU di Kertopaten Jawa Timur.

Mereka berdiskusi merumuskan langkah-langkah strategis mempertahankan Islam tradisional. Lalu, pada saat yang sama turut berikhtiar mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Sehingga secara fundamental, kata Yaqut, pendirian NU dilatarbelakangi motif tradisionalisme, yakni mempertahankan Ahlussunnah waljamaah dan motif nasionalisme, di samping motif internasionalisme.

"Motif nasionalisme lahir karena NU memiliki niat untuk menyatukan ulama dan tokoh bangsa dalam melawan segenap bentuk penjajahan, termasuk penjajahan kolonial yang ada di Indonesia pada waktu itu," ucap Gus Yaqut.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)