Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mahfud MD: Nasionalisme Bagi Warga Pesantren Bagian dari Cabang Iman

Muhajirin Sabtu, 19 Agustus 2023 - 23:00 WIB
Mahfud MD: Nasionalisme Bagi Warga Pesantren Bagian dari Cabang Iman
Menko Polhukam, Prof H Mohammad Mahfud Mahmodin (MD), menilai nasionalisme warga pesantren tidak perlu diragukan lagi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof H Mohammad Mahfud Mahmodin (MD), menilai nasionalisme warga pesantren tidak perlu diragukan lagi. Bagi warga pesantren, nasionalisme bagian dari cabang iman.

Dia mencontohkan semangat nasionalisme warga pesantren melalui syair-syair yang diciptakan para tokoh pesantren. Misalnya lirik syair Syubbanul Wathan atau populer dengan sebutan Ya Lal Wathan yang dugubah oleh KH Abdu Wahab Chasbullah.

Mahfud MD mengatakan, lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan pada setiap acara seremonial di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama sangat terasa 'nyambung' jika dilanjut dengan Ya Lal Wathan.

Hal itu dikarenakan kedua lagu tersebut merupakan tanda kecintaan kepada Tanah Air. Dia kemudian memaknai secara bebas lirik Ya Lal Wathan mempunyai semangat nasionalisme yang lahir dari pesantren.

"Ya Lal Wathan, Ya Lal Wathan. Hubbul wathan minal iman. Kalau diterjemahkan bebas: aduhai tanah airku, aduhai tanah airku, mencintai tanah air itu bagian dari iman. Itu nasionalisme yang paling tinggi, yang lahir dari semangat kepesantrenan," jelas Mahfud dalam Resepsi Puncak Haul Almaruhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, dikutip Sabtu (19/8/2023).

Dia menegaskan, nasionalisme bagi warga pesantren bukan termasuk rukun iman. Itu karena rukun iman sudah ditetapkan ada enam. Tetapi, nasionalisme kepesantrenan itu merupakan bagian dari cabang-cabang iman.

"Karena saya ingin beribadah harus punya Tanah Air, Tanah Air ini harus dicintai. Maka disebut Indonesia biladi anta unwanul fakhama: Indonesia negeriku, engkau adalah tanda kehormatanku. Kemudian kullu man ya'tika yauman thamihan yalqa himama: barangsiapa yang datang mengganggumu akan kusikat habis, kujatuhkan di bawah dulimu," ujar Mahfud.

Mahfud juga mencontohkan lagu rakyat Aceh berbahasa Arab. Syair ini muncul pada 1930 atau beberapa tahun setelah momentum Sumpah Pemuda.

Ya abna anaa jimsana Indonesia
Kummina minkum wandzur ilaa wadlnikum
Wathani anta abun li
Tsalitsun min abawaini
Wathani anta hayati
Wa munaa nafsi wa aini

"Wahai anak-anakku, kebangsaan kita ini adalah Indonesia. Wahai tanah airku, engkau adalah gantungan hidupku. Wahai tanah airku, engkau adalah orang tuaku. Orang tua yang ketiga sesudah ayah dan ibuku. Engkau adalah gantungan hidupku dan engkau adalah cita-citaku di dalam perjuangan hidup ini," jelas Mahfud.

Menurut Mahfud, lagu tersebut merupakan refleksi kecintaan kepada Tanah Air yang lahir dari pesantren ke pesantren, sehingga jasa umat Islam di Indonesia tak diragukan lagi. Umat Islam memiliki peran besar dalam membangun negara Indonesia.

"Jangan diragukan, umat Islam ini ikut punya andil sangat besar untuk membangun negara ini dan tidak boleh ada umat Islam yang mau merusak negara ini dengan secara ideologi dan bentuk negara kesatuannya. Itulah tanda kecintaan kepada tanah air," katanya.

Maka itu, setelah para santri dan kiai di pesantren berjuang habis-habisan untuk membuat Indonesia merdeka menjadi NKRI, lalu negeri ini memberikan tempat terbaik kepada para santri untuk ikut mengurus negara.

"Ada (santri) yang jadi tentara, polisi, guru, hakim, dokter, menteri. Itulah hasil perjuangan para pendiri negara kita yang kemudian bergabung di dalam sebuah nasionalisme," jelasnya.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)