Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 06 Maret 2026
home masjid detail berita

Jihad Ramadhan: Saat Puasa Menjadi Bahan Bakar Perjuangan Fisik dan Diplomatik Rasulullah

miftah yusufpati Sabtu, 28 Februari 2026 - 02:16 WIB
Jihad Ramadhan: Saat Puasa Menjadi Bahan Bakar Perjuangan Fisik dan Diplomatik Rasulullah
Meneladani perilaku Rasulullah sebagai mujahid di bulan Ramadhan adalah amalan saleh yang lahir dari pemahaman ilmu yang lurus. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Bulan Ramadhan bagi sebagian besar kaum Muslimin modern sering kali dicitrakan sebagai fase melambatnya denyut nadi kehidupan. Jalanan yang lengang di siang hari, produktivitas kantor yang menurun, hingga narasi mengenai puasa sebagai alasan untuk memperbanyak tidur, telah menjadi realitas yang lumrah.

Namun, jika kita menyingkap tirai sejarah ke masa kenabian, kita akan menemukan sebuah anomali yang mencengangkan. Bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, Ramadhan bukanlah bulan menganggur, melainkan musim pertempuran, keseriusan, dan pengorbanan yang tiada tara.

Rasulullah adalah seorang mujahid sejati dalam makna yang paling literal. Ibadah puasa yang sedang beliau jalankan sama sekali tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan besar yang menentukan kelangsungan dakwah Islam.

Dalam rentang waktu sembilan tahun sejak puasa Ramadhan disyariatkan, sejarah mencatat beliau mengikuti enam pertempuran besar, yang semuanya terjadi pada bulan suci ini. Peristiwa ini meruntuhkan stereotip bahwa perut yang kosong adalah halangan bagi fisik yang tangguh.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah kunci kebahagiaan sejati. Ilmu yang bermanfaat dalam konteks ini adalah memahami bahwa ketaatan kepada Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk melemahkan diri di hadapan tantangan duniawi.

Beliau menegaskan bahwa puasa seharusnya menjadi bahan bakar spiritual yang melipatgandakan kekuatan, bukan justru menjadi dalih untuk bermalas-malasan.

Catatan sejarah menunjukkan betapa padatnya agenda fisik Rasulullah selama Ramadhan. Selain peperangan, beliau melakukan berbagai aksi strategis seperti penghancuran Masjid Dhirar yang menjadi sarang kaum munafik, serta meruntuhkan berhala-berhala milik orang Arab sebagai simbol pembebasan akidah.

Beliau juga disibukkan dengan urusan diplomatik melalui penyambutan duta-duta dari berbagai kabilah. Puncaknya, penaklukan kota Makkah atau Fathu Makkah, yang mengubah peta sejarah dunia, dilakukan saat para sahabat sedang berada dalam nuansa Ramadhan. Bahkan, sisi kemanusiaan beliau tetap berjalan normal dengan berlangsungnya pernikahan beliau dengan Hafshah radhiyallahu anha pada bulan ini.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad menjelaskan bahwa pola hidup Nabi selama Ramadhan adalah perpaduan antara ketaatan vertikal yang intens dan aksi horizontal yang masif.

Beliau tidak memisahkan antara kesalehan ritual dan tanggung jawab sosial-politik. Rasulullah membuktikan bahwa seorang mukmin harus tetap berdaya di tengah keterbatasan asupan nutrisi.

Semangat ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang menekankan bahwa Allah menghendaki kemudahan dan bukan kesukaran, namun kemudahan itu dicapai melalui kesungguhan dalam beramal.

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Kontras dengan potret kenabian tersebut, realitas sebagian Muslim saat ini sangat memprihatinkan. Ramadhan sering kali dianggap sebagai beban fisik yang menuntut kompensasi berupa tidur yang berlebihan atau istirahat total dari pekerjaan. Padahal, petunjuk Nabi mengajarkan bahwa setiap detik di bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk berkorban.

Seseorang tidak akan bisa mengikuti jejak Rasulullah jika ia menjadikan puasa sebagai tameng untuk lari dari tanggung jawab kehidupan.

Meneladani perilaku Rasulullah sebagai mujahid di bulan Ramadhan adalah amalan saleh yang lahir dari pemahaman ilmu yang lurus. Kita perlu melakukan alibrasi batin: apakah puasa kita menjadikan kita lebih produktif atau justru membuat kita menjadi beban bagi orang lain? Kebahagiaan tertinggi akan diraih ketika kita mampu menjalani hidup di atas sunah beliau, baik dalam hal ibadah maupun dalam semangat perjuangan fisik.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasulullah. Kita berharap hidup kita senantiasa tegak di atas sunah, dan semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan memegang teguh petunjuk beliau. Dengan demikian, Ramadhan tidak lagi menjadi bulan menganggur, melainkan bulan di mana kita membuktikan keseriusan kita sebagai hamba yang bertakwa sekaligus pejuang yang tangguh.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 06 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:07
Ashar
15:08
Maghrib
18:13
Isya
19:22
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)