Ramadhan bagi Rasulullah bukan fase istirahat, melainkan puncak aktivitas fisik dan politik. Sejarah mencatat enam palagan besar dan penghancuran berhala terjadi saat beliau dalam kondisi berpuasa.
Rasulullah mengajarkan bahwa puasa bukan alasan untuk lemah. Dalam palagan jihad, beliau memerintahkan sahabat membatalkan puasa demi menjaga stamina fisik sebagai bentuk ketaatan yang lebih tinggi.
Bagi Quraish Shihab, jihad tak lagi sekadar mengangkat senjata. Ia adalah perjuangan menjaga kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan memelihara martabat hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Dalam tafsirnya, Quraish Shihab mengingatkan: jihad tak selalu di medan perang. Musuh terbesar manusia justru bersemayam di dalam dirisetan, nafsu, dan ambisi yang menyesatkan.
Di tengah hiruk dunia yang menyanjung ambisi, tafsir Quraish Shihab mengingatkan: jihad sejati bukan perang dan pamrih, melainkan perjuangan sunyi menundukkan nafsu, menegakkan nurani, dan menebar kebaikan.
Islam menempatkan pendidikan dan pembentukan pribadi sebagai fondasi sebelum jihad bersenjata. Dari Makkah hingga pemikiran modern, jihad awal adalah perang melawan diri sendiri.
Dari surau ke medan laga, jihad menyeruak di tengah konflik adat dan ulama. Ketika Belanda datang, perang berubah jadi perlawanan kolonial. Gema tauhid tak padam meski Bonjol tumbang.
Berbakti kepada kedua orangtua memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan lebih utama dan tinggi daripada jihad fi sabilillah dalam situasi tertentu.