LANGIT7.ID- Bulan Ramadhan sering kali dicitrakan sebagai fase pengasingan diri dalam ketenangan masjid atau momen melambatnya produktivitas demi menahan lapar. Namun, lembaran sejarah Islam justru mencatat narasi yang kontras.
Di bawah panji kepemimpinan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Ramadhan bertransformasi menjadi bulan perjuangan fisik yang paling menentukan. Salah satu noktah paling krusial dalam manasik jihad beliau adalah keputusan radikal untuk memerintahkan para sahabat membatalkan puasa demi menjaga kekuatan di hadapan musuh.
Dalam perspektif interpretatif, kebijakan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional dalam memandang realitas fisik. Rasulullah tidak membiarkan spiritualitas membutakan nalar strategi.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah adalah kunci kebahagiaan tertinggi. Ilmu yang bermanfaat dalam hal ini adalah memahami bahwa ketaatan kepada perintah Rasulullah untuk berbuka saat jihad justru merupakan amalan saleh yang lebih utama daripada memaksakan puasa dalam keadaan lemah.
Catatan sejarah yang paling menonjol mengenai hal ini terjadi pada peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Makkah). Saat itu, pasukan muslim bergerak di bawah terik matahari Ramadhan. Rasulullah menyadari bahwa beban perjalanan dan persiapan tempur memerlukan energi yang besar. Dalam sebuah riwayat yang sahih, beliau bersabda kepada para sahabatnya:
إِنَّكُمْ قَدْ دَنَوْتُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ، وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْSesungguhnya kalian telah mendekati musuh kalian, dan berbuka itu lebih menguatkan bagi kalian. (Diriwayatkan oleh Muslim).
Perintah ini tidak sekadar bersifat opsional. Rasulullah menekankan pentingnya stamina fisik sebagai sarana untuk meraih kemenangan agama. Bagi beliau, menjaga kekuatan pasukan untuk menegakkan kalimatullah adalah bentuk ibadah yang tidak kalah suci dengan puasa itu sendiri.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Zadul Maad menjelaskan bahwa Rasulullah senantiasa menimbang maslahat yang lebih besar. Beliau tidak ingin umatnya terlihat lunglai atau tidak berdaya saat berhadapan dengan lawan, karena kehormatan Islam juga terletak pada kegigihan para pembelanya.
Logika kenabian ini meruntuhkan sikap ekstrem yang sering muncul dalam beragama. Sering kali, seseorang merasa lebih saleh jika tetap berpuasa meski kondisi tubuh sudah melampaui batas. Namun, Rasulullah justru memberikan teladan sebaliknya. Beliau membatalkan puasanya dan memerintahkan para sahabat melakukan hal serupa agar mereka memiliki kekuatan (quwwah). Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam sangat menghargai hak-hak tubuh dan urgensi sebuah misi besar.
Ulama dunia seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menambahkan bahwa keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa bagi pejuang di medan laga merupakan bentuk rahmah atau kasih sayang Allah.
Jika ketaatan kepada Allah dalam bentuk puasa justru menghalangi ketaatan kepada-Nya dalam bentuk jihad yang memerlukan kekuatan fisik, maka menjaga kekuatan fisik tersebut menjadi prioritas utama. Inilah yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat yang harus diiringi dengan amalan saleh; yaitu menempatkan setiap ibadah pada ruang dan waktu yang tepat sesuai arahan kenabian.
Kisah jihad di bulan Ramadhan ini mengajarkan umat Islam untuk tidak menjadi hamba yang kaku. Meneladani perilaku Rasulullah di dunia berarti memahami fleksibilitas syariat yang tujuannya adalah kejayaan Islam dan keselamatan penganutnya.
Seseorang yang memaksakan puasa hingga jatuh pingsan di medan perang, padahal Nabi telah memerintahkannya berbuka, justru dianggap tidak berada di atas petunjuk beliau. Kebahagiaan tertinggi akan diraih ketika seseorang mampu menekan ego pribadinya untuk tunduk pada perintah Rasulullah, sekalipun perintah itu berupa membatalkan puasa yang sangat ia cintai.
Ramadhan, dengan demikian, tetap menjadi bulan kemenangan. Kemenangan bukan hanya atas nafsu makan, tetapi juga kemenangan atas pemikiran yang sempit. Melalui perintah berbuka saat jihad, Rasulullah mewariskan pesan abadi bahwa kekuatan mukmin adalah modal utama bagi tegaknya keadilan. Siapa pun yang mengikuti jejak langkah beliau dalam memahami prioritas amal, niscaya ia akan meraih janji untuk bersama sang Nabi di akhirat kelak.
(mif)