LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir
Soekarno alias Bung Karno, merupakan sosok yang sangat mengagumi Nabi Muhammad SAW. Dia menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai sosok pemimpin yang diberi tugas kenabian mengajarkan nilai-nilai Islam kepada umat Islam.
Bung Karno menyampaikan hal itu dalam pidatonya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 1963 di Jakarta. Menurut dia, membaca sejarah Rasulullah bukan sekadar mengingat hari lahir Nabi terakhir tersebut. Akan tetapi, perayaan maulid Nabi mengingatkan umat Islam untuk meneladani Rasulullah.
“Kita Sekarang ini merayakan maulud nabi. Apa yang sebenarnya kita rayakan, bukan sekadar “Muhammad”-nya. Bukan sekadar dia itu dulu nabi. Tidak! Yang kita rayakan sebenarnya adalah ajaran, konsesi agama yang dia berikan kepada umat,” kata
Bung Karno dalam pidatonya, seperti dikutip di kanal YouTube Rumah Kebangsaan Pancasila, Senin (15/8/2022).
Baca Juga: Soekarno Ternyata Seorang Santri, Belajar dari Minang hingga Cianjur
Selain itu, Bapak Proklamator itu mengingatkan umat Islam untuk mengikuti semua ajaran Islam yang telah dibawa Nabi Muhammad. Termasuk dalam berjuang menjadikan Indonesia sebagai bangsa besar.
“Saudara-saudara, mari berjalan terus di atas dasar-dasar kenegaraan kita. Berjalan terus sebagai umat Islam, di atas dasar-dasar ajaran agama Islam. Berjalan terus, dan memang telah dijanjikan oleh Tuhan,” tutur
Bung Karno.
Berikut kutipan teks pidato
Bung Karno dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jakarta pada 1963:
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saudara-saudara, dulu di sini pernah saya uraikan. Seluruh sejarah manusia itu penuh dengan orang-orang besar. Tapi tidak ada satu bangsa yang besar yang tidak mempunyai orang besar. Seluruh sejarah manusia, telisik sejarah manusia itu. Kurun ribuan tahun sebelum kita, di perjalanan sejarah umat manusia itu, kita selalu menjumpai orang-orang besar.
Baca Juga: AR Sutan Mansur, Imam Muhammadiyah Guru Bung Karno
Tapi orang-orang besar satu persatu tidak luput dari salah, oleh karena sekadar manusia biasa. Islam adalah agama yang menuju kepada otak. Islam adalah agama yang menuju kepada hati dari otak.
Segala ajaran Islam bisa diterima oleh hati kita dan bisa diterima oleh otak kita. Di dalam sejarah umat manusia selalu ada yang memimpin, yakni rasul-rasul. Pasti selalu ada. Perantara di antara ajaran dengan manusia yang diberi ajaran itu, yaitu pemimpin.
Masuk akal bahwa kita harus percaya kepada rasul-rasul, padahal kita tidak pernah melihat Muhammad. Tidak pernah kita melihat Musa. Tidak pernah kita melihat Sulaiman. Tidak pernah kita melihat Isa.
Kita sekarang ini merayakan maulud nabi. Apa yang sebenarnya kita rayakan, bukan sekadar “Muhammad”-nya. Bukan sekadar dia itu dulu nabi. Tidak! Yang kita rayakan sebenarnya adalah ajaran, konsensi agama yang dia berikan kepada umat.
Diberi oleh Tuhan via Malaikat Jibril, kepada Rasul. Rasul meneruskan lagi kepada umatnya yaitu kita. Itu yang kita rayakan. Oleh karena itu, kita berkata: jika engkau benar-benar cinta Muhammad, jikalau engkau benar-benar merayakan maulud Muhammad bin Abdullah.
Baca Juga: Saat Bung Karno Merangkak ke Makam Rasulullah
Jika engkau benar-benar merayakan Rasulullah yang punya hari maulid, kerjakanlah yang ia perintahkan. Kerjakanlah apa agama yang ia bawa. Kerjakan sama sekali. Agar supaya benar-benar kita bisa berkata, kita telah menerima api dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Saudara-saudara, mari berjalan terus di atas dasar-dasar kenegaraan kita. Berjalan terus sebagai umat Islam, di atas dasar-dasar ajaran agama Islam. Berjalan terus, dan memang telah dijanjikan oleh Tuhan.
Janji. Janji! Janji oleh Tuhan kepada kita. Jikalau kita berjuang benar-benar di atas dasar agama, kita akan menang. Janji Tuhan. Bukan sekadar apa yang kita dengarkan dari orang klenik. Tidak saudara-saudara.
Kita ingin menjadi bangsa yang seperti tiap hari digembleng oleh keadaan. Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali. Hanya dengan jalan demikianlah kita bisa menjadi suatu bangsa yang benar-benar bangsa
otot kawat balung wesi (otot kawat tulang besi),
ora tedas tapak paluning pandhe (tidak mempang ditusuk dan dipukul)
Hanya jikalau kita mengerti dialektik daripada perjuangan. Jika engkau umat Islam yang sejati, engkau harus senang, senang, senang selalu digembleng. Senang selalu up and down. Senang bahwa engkau tidak selalu mengalami senang saja, tetapi harus merebut-memperjuangkan kesenangan itu.
Baca Juga: A Hassan, Tempat Curhat dan Kawan Debat Bung Karno
Sebagaimana diucapkan oleh firman Tuhan:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Hasyr: 5-6)
Pahit dulu, nanti senang. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Jikalau kita mengerti dialektika ini, barulah saudara-saudara, kita bisa menjadi bangsa yang besar.
(jqf)