Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mengenang Jasa Ulama Memerdekakan Indonesia dari Penjajahan

Muhajirin Senin, 15 Agustus 2022 - 11:35 WIB
Mengenang Jasa Ulama Memerdekakan Indonesia dari Penjajahan
Soekarno bersama dua gurunya pendiri Perguruan Darul Funun el Abbasiyah, dua bersaudara yakni Syekh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Surabaya - Direktur Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Dr. Ahmad Kholili Hasib, menegaskan, umat Islam memiliki jasa besar dalam kemerdekaan Indonesia. Pada masa kolonialisasi, raja-raja Islam mengangkat senjata melawan penjajah.

Saat kolonialisasi memasuki era modern, ulama dan santri membentuk angkatan bersenjata. Ada laskar Hizbullah dari kalangan santri serta Sabilillah dari ulama dan kaum tua. Dua laskar sangat membantu perjuangan mengusir penjajah Barat. Aktor perang Surabaya 45 didominasi Hizbullah dan Sabilillah.

Dalam tiap tahap perjuangan bangsa, selalu ada peran ulama. Sebelum proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Ir Soekarno menemui dua ulama besar di Cianjur yakni KH Abdul Mukti dari Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama untuk meminta masukan.

Baca Juga: Jasa Ulama terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

“Jauh sebelum Indonesia merdeka, tampil tokoh-tokoh ulama yang berada di barisan terdepan membebaskan Indonesia. Syarif Hidayatullah juga seorang panglima perang yang berhasil merebut kota Jakarta dari penjajah,” kata Kholili melalui keterangan tertulis, Senin (15/8/2022).

Dulu, Jakarta bernama Batavia, nama yang khas Eropa. Pada 22 Ramadhan 933 H, Syarif Hidayatullah berhasil memerdekakan Jakarta dari penjajah. Sejarawan Mansur Suryanegara mengatakan, nama Jakarta dari Jayakarta, nama yang diberikan Syarif Hidayatullah yang berarti kemenangan sempurna.

“Syarif Hidayatullah mengangkat nama Jayakarta sebagai terjemahan dari fathan mubiina (kemenangan paripurna) yang berasal dari al-Qur’an Surat al-Fath:1: “Inna fatahna laka fathan mubiina. Demikian ini menunjukkan bahwa para ulama dahulu adalah peletak pondasi dasar dari Ibu Kota NKRI,” ucap Kholili.

Kholili mengatakan, Kerajaan Demak pernah bercita-cita menyatukan Nusantara untuk mengusir Portugis. Maka itu, misinya sampai ke Malaka (sekarang Malaysia) di bawah pimpinan Patih Unus. Ini menjadi pesan penting agar semua bangsa bersatu melawan kejahatan.

Selama berabad-abad, sejak Kerajaan Demak dan di sebagian besar wilayah Indonesia diterapkan hukum Islam. Sampai abad ke-19, penjajah Belanda menghapus syariat Islam dari Nusantara.

Paruh awal penjajahan VOC masih mengakui syariat Islam untuk umat Islam di JAwa. Ekstensi hukum Islam diakui undang-undang Belanda seperti tercantum dalam Pasal 75 R.R (Regerings Reglement) 1855:2 ayat 2.

Baca Juga: Pidato Bung Karno: Jika Kita Berjuang di Atas Dasar Agama, Kita Akan Menang

Pada 1882 di Jawa-Madura pengadilan Agama dibentuk yang memiliki wewenang mengatur hukum Islam. Pengadilan agama ini masih diakui oleh Belanda. Selama hukum Islam itu berlaku, elemen bangsa bersatu padu dalam satu kesatuan.

Atas dasar itu, sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” memiliki nilai asasi dan strategis bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, Pancasila merupakan rumus bersikap rakyat Indonesia.

“Sebagai way of life, posisi Pancasila bagaikan ‘ruh’ bangsa. Sementara sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” ditempatkan pada urutan pertama dari lima sila. Sehingga sila pertama ini adalah landasan pacu untuk melaksanakan sila-sila selanjutnya,” ujar Kholili.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)