LANGIT7.ID, Jakarta - Narasi tentang peran umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia, awalnya tak banyak tertulis di buku sejarah. Terlebih di buku-buku yang diajarkan di sekolah. Sejarawan Muslim, Dr. Tiar Anwar Bachtiar, menilai sejarawan sekuler berusaha mengelabui sejarah Indonesia dengan meminggirkan peran umat Islam.
Tiar menerangkan, peran umat Islam tidak bisa dihapus. Data-data terkait hal itu sangat kuat. Namun, para sejarawan sekuler itu memelintir di interpretasi sejarah atau tafsir sejarah. Peran-peran umat Islam dinihilkan agar kabur dari generasi muda.
“Bukan soal data, tapi soal cara membaca, interpretasi. Interpretasinya itu banyak yang berusaha mengelabui, seperti ‘ini bukan karena peran Islam, bukan jihad dan segala macam’,” kata Tiar kepada LANGIT7.ID, Rabu (17/8/2022).
Baca Juga: Kerajaan Dikooptasi Belanda, Pesantren Jadi Basis Massa Melawan Penjajah
Menurut Tiar, hal itu bisa terjadi karena sejarah Indonesia pada masa awal kemerdekaan ditulis berdasarkan paradigma sekuler. Mereka ingin mengaburkan peran umat Islam, meskipun itu tidak memiliki dasar historis.
“Ini kan soal bagaimana membunyikan fakta-fakta itu, jadi satu narasi yang lebih adil sebenarnya. Jadi, seolah-olah kalau kita ngomong agama berarti mendiskreditkan umat lain. Kita bicara fakta sejarah. Kalau pun ada kelompok-kelompok agama lain yang bergerak, silahkan aja ditunjukkan sejarahnya. Tapi itu kan sulitnya,” terang Dosen Universitas Padjajaran ini.
Di sisi lain, sejarawan muslim yang menggali sejarah Islam di Indonesia masih minim di Tanah Air pada masa kemerdekaan Indonesia. Gagasan sejarah Islam di Indonesia mulai muncul pada tahun 80-an yang digagas Azyumardi Azra.
Baca Juga: Sejarawan: Jihad Fisabilillah adalah Nasionalisme Islam Melawan Penjajah
“Tapi setelah, banyak generasi yang digali, Susah sekarang menolak peran Islam di Indonesia. Sampai, 2014 Kementerian Pendidikan menerbitkan Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia. Itu artinya bahwa sudah mulai ada perkembangan yang menarik, bahwa negara mau tidak mau harus mengakui Islam, terutama sebagai landasan kebudayaan di Indonesia,” ujar Tiar.
Kemudian, pada 2010 ada penulisan ulang sejarah Indonesia dengan judul Indonesia dalam Arus Sejarah sebanyak 9 jilid. Itu untuk memperbaharui Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang ditulis Nugroho Notosusanto.
“Makanya sejarawan SNI itu seperti pandangan umum, bahwa ini adalah nasionalisme sekuler dan segala macam, yang sebenarnya adalah Islam. Nah, setelah sejarawan banyak, riset banyak, akhirnya 2010 digagas lagi. Tidak bisa SNI itu, walapun sudah ditulis, tapi tidak mewakili gagasan sejarawan baru,” ungkap Tiar.
Baca Juga: Ulama Jadi Tumpuan Harapan dalam Perjuangan Merebut Kemerdekaan
Buku sejarah 9 jilid itu akhirnya memiliki banyak perspektif mulai dari Indonesia prasejarah, kerajaan Hindu-Budha, kedatangan dan peradaban Islam, kolonisasi dan perlawanan, masa pergerakan kebangsaan, perang dan revolusi, pascarevolusi, orde baru, hingga reformasi.
“Isinya, itu, akhirnya riset-riset terbaru tentang sejarah Indonesia dimunculkan semua, baik yang Islam maupun sekuler. Sampai konsepnya banyak perspektif. Artinya nasionalisme ala Barat tidak bisa dipertahankan. Karena semakin digali sejarah Indonesia, semakin tampak bagaimana peran Islam dan umat Islam,” pungkas Tiar.
(jqf)