LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarawan Muslim,
Dr Tiar Anwar Bachtiar, mengungkapkan bahwa penulisan sejarah tidak netral.
Worldview atau ideologi berpengaruh pada metodologi penulisan sejarah. Salah satunya dilakukan gerakan
feminisme untuk mengampanyekan pemikiran mereka di tengah masyarakat.
"Kalau mengatakan sejarah itu objektif, susah. Karena setiap kelompok termasuk feminis menulis sejarah agar sejalan dengan ideologinya," kata Tiar dalam webinar Saturday Forum yang digelar Insists, Sabtu (24/12/2022).
Era penulisan sejarah zaman dulu, kata Tiar, lebih terfokus pada sosok perempuan. Seperti sejarawan Nusantara menulis tentang sosok R.A Kartini dan sejarawan muslim menulis sejarah Siti Aisyah.
“Tapi sekarang tuntutannya sudah lain lagi, sudah meningkat dari sekedar menulis perempuan di dalam sejarah menjadi mulai menggunakan perspektif, seperti perspektif gender atau feminisme di dalam menulis sejarah,” kata Tiar.
Baca Juga: CGS: Gerakan Feminis Mereduksi Nilai Agama dalam Perundangan Indonesia
Feminisme lahir dari perasaan perempuan yang tertindas oleh patriarki. Maka, feminis saat ini melakukan kajian sejarah dengan menggunakan sudut pandang perempuan sebagai kaum tertindas. Mereka tidak sekadar memunculkan tokoh-tokoh perempuan. Tetapi, perempuan dimunculkan dalam sejarah lalu diarahkan agar sesuai dengan ideologi mereka.
“Pokoknya, yang namanya perempuan sejak zaman dahulu (dianggap) pasti tertindas, sehingga perlu ada perjuangan melakukan emansipasi, melakukan pembebasan terhadap posisi gender perempuan,” kata Tiar.
Metode itu yang banyak dilakukan feminis saat ini. Maka itu, sejarah tentang perempuan saat ini banyak ditampilkan dari perspektif ketertindasan. Tiar mencontohkan sosok R.A Kartini. Dulu, sejarawan mengangkat sosok Kartini sebagai seorang pejuang yang memperjuangkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan.
“Sehingga di awal-awal penulisan tentang Kartini itu orang lebih tertarik, lebih mengeksplorasi Kartini sebagai tokoh yang mendorong para wanita untuk belajar,” kata Tiar.
Tetapi, masyarakat juga lama-kelamaan bosan dengan perspektif itu. Feminis melihat celah tersebut. Lalu, mereka mengeksplor dari sudut pandang ketertindasan R.A Kartini secara struktural.
“Biasanya pendekatan feminis, dia akan melihat struktur yang menyebabkan Kartini menjadi tidak punya
power,” ujar Tiar.
Baca Juga: Berbeda dengan Konsep Feminisme, Islam Sangat Muliakan Wanita
Tiar mencontohkan sudut pandang yang digunakan para feminis. Di antaranya perspektif struktur kuasa di kalangan keluarga bangsawan Indonesia di mana laki-laki sangat dominan. Kedua, struktur pengetahuan masyarakat yang menyebabkan perempuan tidak punya nilai.
Ketiga, struktur agama. Struktur ini yang banyak diserang, karena agama adalah kepercayaan. Misalnya kepercayaan terhadap agama tentang bolehnya nikah poligami, sehingga menyebabkan R.A Kartini yang antipoligami harus nikah sebagai istri yang ketiga.
“Struktur semacam ini dilihat dari sudut pandang feminis, yaitu struktur yang menindas,” ungkap Tiar.
(jqf)