LANGIT7.ID-Spanyol; Setelah beberapa bulan yang penuh liku, Yan Diomande, salah satu prospek muda terbaik di dunia sepak bola, hampir mewujudkan mimpinya untuk bergabung dengan raksasa Eropa.
Pemain berusia 19 tahun ini akan menandatangani kontrak dengan Real Madrid dalam transfer yang bisa disebut sebagai rekor.
Raksasa Spanyol itu akan membayar lebih dari £100 juta (sekitar Rp 2 triliun) untuk Diomande—menjadikannya rekor penjualan termahal bagi RB Leipzig dan ia juga diperkirakan akan menjadi rekor pembelian termahal bagi Real Madrid.
Pada saat yang sama, Diomande menjadi pemain Afrika termahal dalam sejarah.
Kenaikannya menuju puncak ketenaran terjadi dalam waktu yang terbilang singkat, karena kurang dari 18 bulan lalu ia nyaris tak dikenal.
Hanya para pencari bakat dan orang dalam yang mengetahui adanya seorang pemain sayap kurus yang sebelumnya bermain untuk DME Academy di Florida—sebuah akademi yang lebih terkenal dengan program bolanya.
Diomande pernah menjalani uji coba di Chelsea, Bournemouth, Crystal Palace, Rangers, dan Olympiacos, tetapi tetap tak kunjung dikontrak hingga akhirnya direkrut oleh klub La Liga, Leganes.
Hanya dalam beberapa bulan dan 10 pertandingan di kasta tertinggi Spanyol, nilai pasarnya melonjak drastis, hingga akhirnya ia bergabung dengan Leipzig seharga €20 juta (sekitar Rp 340 miliar).
Klub bentukan Red Bull itu percaya bahwa mereka mendapatkan berlian. Dan ternyata benar. Hampir sejak awal, Diomande tampil sebagai salah satu pemain paling menarik di Bundesliga, mencetak 13 gol dan memberikan 10 assist di berbagai kompetisi pada musim penuh pertamanya di Eropa.
Awalnya, Leipzig berniat mempertahankannya selama satu tahun lagi, berharap nilai pasarnya semakin naik, tetapi permintaan terhadapnya terlalu tinggi.
Liverpool, Paris St-Germain, dan akhirnya Real Madrid menunjukkan ketertarikan besar pada pemain sayap yang juga membela negaranya, Pantai Gading, di Piala Dunia—hingga klub Bundesliga itu harus mengalah dan menyetujui kesepakatan.
Banyak yang bisa dikatakan tentang harga yang terus melambung di pasar transfer yang overheat, di mana bahkan pemain muda pun bisa menuntut biaya mencapai sembilan digit angka. Namun Diomande istimewa. Sebagai pemain sayap yang sangat atletis dan kreatif, tidaklah berlebihan jika ia dianggap sudah termasuk salah satu penggiring bola terbaik di Eropa.
Tentu saja, permainannya masih sedikit mentah, tetapi ia membuat lompatan besar dalam 12 bulan terakhir dan tidak ada alasan ia tidak bisa berkembang lebih jauh di usia yang masih sangat muda, 19 tahun.
Kemampuan operannya juga agak terabaikan karena ia adalah gambaran pemain sayap yang mengutamakan dribel. Diomande sangat cocok bermain dengan bek kanan Ridle Baku di Leipzig dan mungkin akan tampil lebih kuat dengan dukungan pemain seperti Trent Alexander-Arnold dan Marc Cucurella.
Diomande bisa bermain di kedua sisi sayap. Bertendang kanan, ia lebih sering ditempatkan di sisi kiri oleh Leganes, tetapi menemukan rumah di sisi kanan di Leipzig. Di Piala Dunia, ia bermain di kedua posisi tersebut untuk Pantai Gading.
Semua Orang Pernah MenolaknyaDiomande tidak hanya menarik secara pemasaran sebagai tontonan aksi individu, tetapi juga karena kisah hidupnya yang benar-benar dari nol menjadi sukses.
Tumbuh besar di metropolis Abidjan, Pantai Gading, ia memutuskan sejak dini untuk menjadi pesepak bola profesional. Atau setidaknya ia bermimpi tentangnya dan rela berkorban banyak.
Saat berusia sembilan tahun, Diomande bermain untuk Inter Foot Sud Comoe, sebuah klub di dekat perbatasan Ghana—berjarak 70 mil dari rumahnya. Ia pada dasarnya tinggal sendiri dan harus bertahan dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Ia mengambil langkah yang lebih ekstrem ketika meninggalkan Pantai Gading pada usia 15 tahun untuk bermain sepak bola di Amerika Serikat, bersekolah di SMA sementara awalnya tidak bisa berbahasa Inggris.
Bakatnya tak terbantahkan, namun tak kurang hambatan yang menghadang jalannya menuju sepak bola profesional.
Banyak uji coba di Eropa berujung buntu. "Bahkan tim B di MLS tidak mau menerima saya," ujarnya kemudian. "Saya bahkan tidak tahu alasannya. Mereka tak pernah memberi alasan. Orang dewasa mengatur semuanya. Mereka terus membawa saya berkeliling Eropa, dan semua orang terus mengatakan tidak."
Ketika visanya habis dan ia harus pulang, nasibnya berbalik. Leganes siap mengontrak Diomande secara profesional.
Saat segalanya mulai membaik, ia harus menghadapi tragedi tak terduga ketika adik perempuannya yang berusia 15 tahun, yang sangat dekat dengannya, meninggal tak lama setelah debut La Liga-nya melawan Real Madrid di Bernabeu.
"Sekarang, aku tidak merasakan apa-apa. Aku seperti bukan manusia. Sejak kau pergi, aku hampa," tulisnya dalam surat untuk Roxanne, mendiang adiknya, yang diterbitkan oleh Players' Tribune pada bulan Juni.
Diomande mengatakan bahwa mimpinya untuk debut melawan Madrid di usia 18 tahun tiba-tiba diikuti oleh mimpi buruk.
Keadaan kematian Roxanne masih agak tidak jelas—Diomande diberi tahu bahwa itu akibat minumannya yang dicampur obat di sebuah pesta.
Sengketa Antar Agensi soal DiomandeMeskipun tragedi melanda pada musim semi 2025, itu tidak menggagalkan Diomande dari jalur profesionalnya. Ia pindah ke Leipzig setahun lalu dan kini mengambil langkah besar lainnya dengan bergabung ke Madrid.
Raksasa Spanyol itu sebenarnya tidak kekurangan pemain sayap, tetapi Diomande adalah prospek yang sangat menarik sehingga ketua Florentino Perez dan manajemen Madrid tidak mau kehilangan kesempatan.
Namun, bahwa Diomande akhirnya berlabuh di Madrid daripada Paris cukup mengejutkan. PSG adalah klub yang dikagumi Diomande sejak kecil, dengan ayahnya adalah pendukung juara Prancis 14 kali itu.
Real Madrid tentu bisa dianggap sebagai tujuan impian bagi sebagian besar pesepak bola, tetapi cara kepindahan yang diantisipasi ke PSG gagal dan bagaimana PSG menyuarakan ketidakpuasan mereka atas perilaku agen Diomande dapat menimbulkan pertanyaan.
Meskipun luar biasa di lapangan, ada cukup banyak keributan di luar lapangan seputar Diomande dan keputusannya untuk mengganti agen telah menyebabkan pengaduan diajukan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga di Lausanne.
Ia sebelumnya diwakili oleh Maxidel, sebuah agensi yang dipimpin oleh Max Gradel, mantan pemain sayap dengan caps internasional terbanyak ketiga untuk Pantai Gading, tetapi Diomande kemudian pindah ke agensi hiburan milik Jay-Z, Roc Nation, pada bulan Februari.
Wajar saja, Roc Nation memiliki minat besar untuk mengontrak Diomande dan bahkan mengirim DJ Khaled untuk membujuknya pindah. Maxidel tidak senang dan memegang teguh keabsahan perjanjian sebelumnya.
Menurut aturan FIFA, agensi diizinkan untuk mengikat pemain dengan kontrak yang menjadikan mereka satu-satunya perwakilan di suatu negara, misalnya Inggris, untuk periode waktu tertentu.
Mungkin bukan kebetulan bahwa Roc Nation sudah mewakili dua penyerang Real Madrid, Vinicius Junior dan Endrick.
Meskipun tampaknya PSG berada di posisi terdepan, juara Eropa itu secara resmi menyatakan diri keluar dari persaingan beberapa hari lalu, dengan alasan masalah dengan agensi selama negosiasi.
Adapun Diomande, lintasan menanjaknya tampaknya akan berlanjut di ibu kota Spanyol.(*/saf/bbc)
(lam)