LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Musim haji tahun 2026/1447 H bertepatan dengan masuknya siklus
musim panas di Timur Tengah. Di awal Mei 2026, suhu udara di Makkah dilaporkan mencapai 43 derajat Celcius. Cuaca panas ekstrem ini menjadi tantangan berat bagi
calon jamaah haji.
Dokter spesialis gizi klinik Dr. dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc., Sp.GK(K), MHPE mengimbau jamaah haji asal Indonesia agar mewaspadai
gejala dehidrasi saat menjalankan ibadah di tengah
suhu ekstrem di Kota Suci
Makkah dan
Madinah, Arab Saudi.
Baca juga: Rekonstruksi Makna Haji: Melacak Jejak 3600 Tahun Syariat IbrahimMenurut dr. A. Yasmin Syauki, kondisi kekurangan cairan tubuh dapat dikenali dari beberapa gejala awal seperti tubuh terasa lemah hingga perubahan warna urine menjadi lebih pekat.
"
Tanda-tanda dehidrasi itu sebenarnya lemas, kemudian kalau misalnya yang sebelum lemas mungkin kita bisa lihat warna kencing kita itu warnanya apa," kata dr. Yasmin Syauki, seperti dikutip dari Antara, Selasa (12/5/2026).
Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin itu menjelaskan bahwa warna urine bisa menjadi indikator sederhana untuk memantau kondisi cairan tubuh selama menjalani aktivitas ibadah haji.
"Ketika dia warnanya pekat, maka kemungkinan kita dehidrasi. Jadi sudah tidak terlalu kuning, bukan kuning jernih, jadi kuningnya pekat, maka itu sudah mengalami dehidrasi," katanya.
Sementara itu, dokter spesialis gizi klinik lainnya, dr. Pande Putu Agus Mahendra, menyebut dehidrasi juga dapat ditandai dengan rasa pusing, tubuh limbung, sakit kepala, mual, hingga pandangan kabur.
Baca juga: Menjelang Puncak Ibadah Haji 2026 M, Jemaah Diminta Menghemat Tenaga dan Tetap FokusApabila gejala tersebut mulai dirasakan, jamaah dianjurkan segera memperbanyak konsumsi cairan agar kondisi tubuh tidak semakin menurun.
"Kita segera menambah asupan cairan kita untuk menghindari respons dehidrasinya," kata dr. Yasmin.
Selain dehidrasi, jamaah haji juga berisiko mengalami heatstroke atau sengatan panas akibat paparan suhu tinggi dalam waktu lama. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu mengontrol suhu secara normal.
"Heatstroke itu berarti panas yang tidak bisa dikendalikan oleh tubuh, sehingga kita seperti sesak napas, kemudian pusing," katanya.
"Kemudian tubuh kita tidak bisa melakukan kompensasi, itu langsung tiba-tiba bisa sesak, lemas, pusing," ia menambahkan.
Untuk mengurangi dampak cuaca panas, jamaah disarankan menggunakan pelindung kepala saat berada di luar ruangan. Sementara ketika berada di tenda Mina yang juga terasa panas, jamaah dapat memanfaatkan kain atau kanebo basah untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
Baca juga: PPIH: Jamaah Haji dengan Komorbid Harus Lebih Waspada“Kanebo dibasahi dengan air lalu ditempelkan di kepala agar suhu tubuh tetap dingin dan tidak mudah kepanasan,” katanya.
(est)