Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 15 Juni 2026
home masjid detail berita

Ibadah Haji Menjadi Instrumen Penghapusan Sekat Geopolitik dan Diskriminasi Rasial Global

miftah yusufpati Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:52 WIB
Ibadah Haji Menjadi Instrumen Penghapusan Sekat Geopolitik dan Diskriminasi Rasial Global
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat padang Arafah, jutaan manusia bergerak bersama dalam satu gelombang yang teratur. Ist
LANGIT7.ID-Seorang lelaki bertubuh jangkung dengan kulit legam berdiri mematung di bawah terik matahari yang menyengat. Di sampingnya, seorang pria bermata sipit dengan kulit putih bersih sedang bersujud, merapatkan dahinya ke hamparan pasir yang hangat. Keduanya tidak saling mengenal bahasa masing-masing.

Lelaki pertama datang dari sebuah desa terpencil di pedalaman benua Afrika, sementara pria kedua menempuh penerbangan belasan jam dari pusat kota metropolitan di Asia Timur. Hari itu, identitas paspor, perbedaan warna kulit, dan sekat kelas sosial yang selama ini melekat ketat pada diri mereka runtuh seketika. Mereka menanggalkan pakaian kebesaran duniawi, lalu menggantinya dengan dua lembar kain putih tanpa jahitan yang serupa. Di tempat ini, geopolitik global tidak lagi memiliki kuasa untuk memilah manusia ke dalam kotak-kotak kepentingan nasional.

Muhammad Husain Haekal dalam karya sejarahnya yang fenomenal, Sejarah Hidup Muhammad, mengulas secara mendalam bagaimana Islam merombak konsep sekat wilayah tersebut. Dalam buku cetakan kelima tahun 1980 yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya dan diterjemahkan oleh Ali Audah, Haekal menegaskan sebuah prinsip universal.

Dalam Islam, rasa cinta demikian ini tidak seharusnya akan terhenti pada batas-batas tanah air tertentu, atau hanya terbatas pada salah satu benua. Yang seharusnya bahkan tidak boleh mengenal batas sama sekali.

Prinsip kemanusiaan tanpa batas ini bukan sekadar konsep teoretis. Haekal menjelaskan bahwa dari seluruh pelosok bumi manusia harus saling mengenal, supaya satu sama lain dapat menambah rasa cinta kepada Allah, dan rasa cinta ini akan menambah tebal iman mereka kepada Allah. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, manusia dari segenap penjuru bumi harus berkumpul dalam satu irama yang sama, tanpa diskriminasi. Tempat berkumpul yang terbaik untuk itu ialah di tempat memancarnya cinta ini, yaitu Baitullah di Mekah melalui ibadah haji.

Kesetaraan Global

Pertemuan akbar lintas benua ini membutuhkan regulasi etika yang sangat ketat agar tujuan persaudaraan universal dapat tercapai. Al-Quran mendesain ibadah haji bukan sekadar sebagai ritual fisik, melainkan sebagai ruang pelatihan moral untuk mengikis konflik horizontal yang biasa terjadi di dunia sekuler. Aturan hukum mengenai masa pengekangan ego ini tertuang dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 197.

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: Musim haji itu ialah dalam beberapa bulan yang sudah ditentukan. Barangsiapa sudah membulatkan niat selama bulan-bulan itu hendak menunaikan ibadah haji, maka tidak boleh ada suatu percakapan kotor, perbuatan jahat dan berbantah-bantahan selama dalam mengerjakan haji. Segala perbuatan baik yang kamu lakukan, Tuhan mengetahuinya. Bawalah perbekalanmu, dan perbekalan yang paling baik ialah menjaga diri dari perbuatan hina. Patuhilah Aku, wahai orang-orang yang berpikiran sehat.

Larangan bertengkar dan berbuat jahat dalam ayat ini merupakan instrumen hukum untuk menciptakan ruang aman bagi bertemunya berbagai peradaban dunia.

Di dataran tinggi tempat orang-orang beriman menunaikan ibadah haji untuk saling berkenalan dan mempererat tali persaudaraan, segala perbedaan dan diskriminasi harus hilang.

Haekal menulis bahwa di hadapan Tuhan, mereka semua adalah sama. Pertemuan umum yang luas ini melaksanakan arti persaudaraan dan persamaan semua orang beriman dalam bentuknya yang paling luas, luhur, dan bersih. Ketika cahaya iman itu bekerja, segala angan-angan kosong tentang hidup akan sirna. Kebanggaan dan kecongkakan karena harta, keturunan, kedudukan, serta kekuasaan akan lenyap tidak berbekas.

Dekonstruksi Nasionalisme

Konsep haji sebagai penghancur batas nasionalisme eksklusif sejalan dengan pemikiran sosiolog Islam terkemuka, Profesor Dr. Ali Shariati. Dalam analisis ilmiahnya mengenai sosiologi ibadah yang dibukukan dalam rujukan pemikiran Islam, Shariati menekankan bahwa ibadah haji adalah demonstrasi anti-kelas dan anti-rasial yang paling konkret di muka bumi.

Shariati berargumen bahwa pakaian ihram adalah simbol dekonstruksi total terhadap kapitalisme dan feodalisme. Saat semua manusia mengenakan kain yang sama, sistem kasta yang diciptakan oleh peradaban modern runtuh dalam waktu satu hari.

Perspektif ini juga diperkuat oleh para intelektual muslim kontemporer di panggung digital global. Dalam sebuah kuliah ilmiah yang disiarkan oleh Institut Studi Islam melalui kanal resmi YouTube mereka, Dr. Omar Suleiman menjelaskan bagaimana ibadah haji mengubah cara pandang manusia terhadap dunia.

Suleiman mengutip catatan sejarah penting mengenai perjalanan tokoh hak asasi manusia global, Malcolm X, ke Mekah. Malcolm X yang awalnya memandang hubungan antar-ras melalui kacamata konflik hitam dan putih, mengalami transformasi pemikiran total setelah melihat jutaan manusia dari berbagai warna kulit beribadah bersama tanpa sekat rasial di Mekah. Pengalaman haji tersebut membuktikan bahwa Islam memiliki jawaban konkret atas krisis rasisme global.

Melalui akun media sosial X pribadinya, Profesor Dr. Tariq Ramadan juga sering menuliskan analisis mengenai globalisasi spiritual. Ia menegaskan bahwa jika umat Islam mampu membawa pulang semangat persamaan dari padang Arafah ke negara masing-masing, maka kebijakan luar negeri dunia Islam akan lebih mengutamakan solidaritas kemanusiaan daripada kepentingan geopolitik yang sempit. Cuitan tersebut memicu diskusi luas mengenai pentingnya mereaktualisasikan nilai haji dalam merespons krisis pengungsi lintas negara saat ini.

Menghapus Kecongkakan

Secara empiris, efektivitas ibadah haji dalam menurunkan sentimen negatif antar-etnis telah dibuktikan melalui riset kuantitatif yang dilakukan oleh para peneliti di Harvard Kennedy School. Studi ilmiah tersebut menunjukkan bahwa individu yang telah menunaikan ibadah haji menunjukkan peningkatan toleransi yang signifikan terhadap pemeluk agama lain dan kelompok etnis yang berbeda.

Mereka juga memiliki pandangan yang lebih inklusif terhadap peran perempuan dan penegakan hak asasi manusia. Data statistik ini memberikan bukti nyata bahwa latihan rohani komunal ini memiliki dampak psikososial yang dapat diukur secara ilmiah.

Melalui ibadah haji, manusia dapat menyadari arti kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang ada dalam dunia ini. Mereka dapat memahami undang-undang Tuhan yang abadi dalam semesta alam yang tidak akan pernah berubah. Kebanggaan atas dasar ras atau batas negara dinilai sebagai bentuk kenaifan berpikir di hadapan keagungan penciptaan semesta.

Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat padang Arafah, jutaan manusia bergerak bersama dalam satu gelombang yang teratur. Tidak ada lagi paspor yang diperiksa, tidak ada lagi perbedaan perlakuan berdasarkan kekayaan domestik bruto negara asal. Lelaki Afrika dan pria Asia Timur yang tadi berdiri berdampingan kini berjalan beriringan, saling melempar senyum tanpa perlu memahami bahasa verbal masing-masing.

Mereka telah disatukan oleh sebuah irama spiritual yang melampaui batas-batas benua. Di bawah langit yang mulai menggelap, kecongkakan materiil dan ilusi kekuasaan keduniawian meleleh habis. Yang tersisa hanyalah hamparan kemanusiaan yang luhur, sebuah miniatur persaudaraan universal yang membuktikan bahwa di hadapan keesaan Tuhan, seluruh anak manusia adalah setara dan saling mencintai tanpa batas.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 15 Juni 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:57
Ashar
15:18
Maghrib
17:49
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)