Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 03 Juni 2026
home masjid detail berita

Di Balik Ritual Perpisahan Tanah Suci: Ini Makna Thawaf Wada

miftah yusufpati Rabu, 03 Juni 2026 - 05:13 WIB
Di Balik Ritual Perpisahan Tanah Suci: Ini Makna Thawaf Wada
Haji yang sesungguhnya baru dimulai ketika jemaah keluar dari pintu gerbang Masjidil Haram setelah thawaf wada. Ilustrasi: Aljazeera
LANGIT7.ID-Pesawat-pesawat berbadan lebar terus mendarat di bandara udara utama tanah air, menumpahkan ribuan jemaah yang baru saja menyelesaikan rukun Islam kelima. Pakaian serba putih, kalung identitas, dan wajah-wajah lelah yang dibasuh keharuan menjadi pemandangan harian yang lazim. Di ruang penjemputan, sanak keluarga menunggu dengan tak sabar, siap menyambut status baru sang haji di tengah masyarakat. Namun, di balik keriuhan perayaan fisik tersebut, sebuah pertanyaan esensial membayangi setiap langkah kaki yang kembali menginjak bumi Nusantara: apa yang sebenarnya tertinggal di Makkah, dan apa yang dibawa pulang?

Persoalan ini bukan sekadar urusan menata koper atau memilah oleh-oleh. Dalam risalah berjudul Mada Bad Al-Hajj yang disusun oleh Divisi Ilmiah Dar Al-Qasim dan diterjemahkan oleh Muhammad Lutfi Firdaus, terdapat sebuah refleksi mendalam bagi setiap jemaah. Mengambil keuntungan dari dunia sekadar batas kebutuhan hidup sehari-hari tidak akan mengotori keikhlasan ibadah. Berdagang, membeli cendera mata, atau menata kembali bisnis pasca-haji adalah perkara yang diizinkan. Namun, esensi krusialnya terletak pada bagaimana perasaan batin seorang hamba saat melangkah pergi meninggalkan tempat-tempat suci tersebut.

Perasaan kehilangan dan kerinduan mendalam itulah yang menguji kualitas spiritual seseorang. Keharusan menjaga keterikatan hati dengan Baitullah secara simbolis ditegaskan melalui ritual terakhir sebelum melangkah keluar dari Makkah, yaitu thawaf wada atau tawaf perpisahan. Ritual ini bukan sekadar formalitas pelengkap administrasi ibadah, melainkan perintah langsung dari bimbingan kenabian yang mengikat.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, disebutkan bahwa ketika orang-orang mulai bersiap dan berpaling meninggalkan kota Makkah menuju daerah asal mereka dari segenap penjuru, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan yang tegas:

لاينفرن أحد حتى يكون آخر عهde بالبيت

Artinya: Janganlah seseorang pergi meninggalkan Makkah sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah dengan melakukan thawaf wada.

Perintah ini menunjukkan bahwa momen perpisahan dengan tanah suci harus dilakukan dengan penuh penghormatan dan kesadaran spiritual yang tinggi. Baitullah harus menjadi ingatan terakhir yang melekat erat di dalam benak sebelum jemaah kembali bergelut dengan rutinitas duniawi di kampung halaman.

Jika ditarik ke dalam konteks sosiologi agama di Indonesia, kepulangan jemaah haji sering kali menghadapi benturan realitas yang tajam. Sosiolog ternama, Clifford Geertz, dalam penelitian klasiknya yang dibukukan dengan judul The Religion of Java (1960), menjelaskan bahwa gelar haji dalam struktur sosial masyarakat sering kali beralih fungsi menjadi instrumen stratifikasi sosial.

Keberhasilan menunaikan ibadah haji kerap dipandang sebagai simbol keberhasilan material sekaligus pengakuan kelas sosial baru yang lebih tinggi. Di sinilah letak bahayanya. Ketika thawaf wada hanya dimaknai sebagai penutup ritus formal, jemaah rentan terjebak dalam jebakan kesalehan artifisial yang hanya mementingkan status dan pujian sosial setelah tiba di tanah air.

Padahal, transformasi batin yang diharapkan dari ibadah ini sangat radikal. Menanggapi fenomena perubahan perilaku pasca-ibadah, sejarawan dan pemikir Islam, Nurcholish Madjid, dalam bukunya yang berjudul Islam, Doktrin, dan Peradaban (1992), menyatakan bahwa haji yang mabrur dicirikan oleh munculnya kesadaran kemanusiaan yang lebih universal.

Keikhlasan yang terjaga selama di tanah suci seharusnya mewujud menjadi kepekaan sosial, kejujuran dalam sistem kerja, dan hilangnya keserakahan. Jika sepulang dari Makkah seseorang justru semakin berambisi menumpuk harta dengan cara yang tidak benar, maka esensi dari tawaf perpisahan itu patut dipertanyakan kembali. Apakah mereka benar-benar berpisah dengan tempat suci untuk menyebarkan kesalehan, atau sekadar pulang membawa label sosial baru untuk melegitimasi kepentingan duniawi?

Maka dari itu, batas kebutuhan duniawi yang tidak merusak keikhlasan harus dipahami secara proporsional. Dunia diambil secukupnya sebagai sarana penunjang hidup, bukan sebagai tujuan utama yang mengubur nilai-nilai luhur kemanusiaan yang telah ditempa di Padang Arafah dan di depan Kakbah.

Pada akhirnya, kita ingin mengetuk kesadaran bahwa haji yang sesungguhnya baru dimulai ketika jemaah keluar dari pintu gerbang Masjidil Haram setelah thawaf wada. Rasa sedih saat meninggalkan tanah suci harus dimanifestasikan ke dalam komitmen kuat untuk mempertahankan integritas moral di tengah masyarakat.

Tanpa adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih maslahat, perjalanan jauh melintasi samudra dan benua hanya akan menjadi sebuah catatan perjalanan wisata religi yang mahal, kehilangan substansi spiritual yang hakiki. Kesalehan pasca-haji adalah ujian abadi yang membuktikan apakah Baitullah benar-benar telah tertanam di dalam dada jemaah atau hanya sekadar menjadi kenangan foto di dinding ruang tamu.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 03 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)