Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 13 Mei 2026
home masjid detail berita

Dialektika Tawaf dan Sai: Integrasi Kesadaran Ilahiah dan Ikhtiar Duniawi

miftah yusufpati Rabu, 13 Mei 2026 - 05:58 WIB
Dialektika Tawaf dan Sai: Integrasi Kesadaran Ilahiah dan Ikhtiar Duniawi
Di sana, manusia belajar bahwa ia adalah makhluk dwi dimensi yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir. Ilustrasi: Alamy
LANGIT7.ID-Di pelataran Ka'bah, ribuan manusia bergerak dalam pusaran yang sama. Tawaf menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia lain, memberikan kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama, yakni berada dalam lingkungan Allah swt. Namun, kesalehan dalam Islam tidak berhenti pada peribadatan yang bersifat kontemplatif semata. Begitu lingkaran tawaf tuntas, jamaah diarahkan menuju lintasan sai, sebuah peralihan dari keheningan spiritual menuju dinamika perjuangan fisik.

M. Quraish Shihab dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah menekankan bahwa kemanusiaan dalam haji mencakup seperangkat nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya. Melalui sai, dimunculkan kembali sosok Hajar, seorang wanita bersahaja yang diperistri Nabi Ibrahim as.. Pengalaman Hajar mencari air untuk putranya diperagakan kembali sebagai simbol kemanusiaan yang teguh. Meskipun memiliki keyakinan yang kokoh akan kemahakuasaan Allah, Hajar tidak berpangku tangan menunggu mukjizat turun dari langit di tengah lembah yang tandus. Ia berusaha dan mondar-mandir berkali-kali demi mencari kehidupan.

Napak tilas ini dimulai dari bukit Shafa, yang secara harfiah bermakna kesucian dan ketegaran. Ini menjadi lambang bahwa setiap usaha manusia dalam mencapai kehidupan harus didasari oleh niat yang suci dan mentalitas yang tegar. Perjalanan itu berakhir di Marwah, yang berarti ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Perjalanan dari Shafa ke Marwah menggambarkan evolusi moral manusia; dari keteguhan pribadi menuju kemuliaan sikap terhadap sesama.

Secara filosofis, jika tawaf menggambarkan larutnya manusia dalam hadirat Ilahi atau al-fana fi Allah, maka sai melambangkan upaya manusia mencari hidup. Keterpaduan antara keduanya menunjukkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tawaf menyadarkan manusia akan tujuan hidupnya, sementara sai menggambarkan tugas manusia untuk berupaya semaksimal mungkin di pentas bumi.

Kemanusiaan universal dalam sai juga mengajarkan bahwa hasil usaha pasti akan diperoleh, baik melalui keringat sendiri maupun melalui anugerah Tuhan yang tak terduga. Hal ini tercermin dari ditemukannya air Zamzam bagi Hajar dan Ismail. Kesadaran akan jati diri sebagai makhluk sosial yang harus bertenggang rasa dalam berinteraksi menjadi inti dari pengalaman spiritual ini.

Prinsip perjuangan dan kesetaraan ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 158:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Artinya: Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.

Ayat ini mempertegas bahwa ruang fisik antara dua bukit tersebut adalah laboratorium kemanusiaan. Di sana, manusia belajar bahwa ia adalah makhluk dwi dimensi yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir. Kemanusiaan universal dalam haji akhirnya membentuk pribadi yang memiliki moral serta kemampuan memimpin makhluk lain mencapai tujuan penciptaan melalui kerja keras yang dibalut kesucian jiwa. Melalui sai, setiap jamaah diingatkan bahwa mencari penghidupan duniawi adalah bagian integral dari pengabdian kepada Sang Pencipta.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 13 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:52
Ashar
15:13
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)