LANGIT7.ID- Langkah awal menuju baitullah bukanlah sekadar perjalanan fisik melintasi batas geografis. Ia adalah sebuah migrasi spiritual yang dimulai dari
miqat makani, sebuah titik koordinat di mana peradaban manusia yang penuh sekat diminta untuk berhenti sejenak. Di sana, ritual ibadah haji dimulai dengan sebuah tindakan yang amat radikal dalam kesederhanaannya: niat yang dibarengi dengan menanggalkan seluruh pakaian biasa untuk kemudian mengenakan dua helai pakaian putih tak berjahit yang dikenal sebagai ihram.
M. Quraish Shihab dalam karyanya yang dimuat dalam buku
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, menekankan bahwa makna kemanusiaan dalam haji memiliki kedalaman yang melampaui sekadar persamaan nilai antar-perseorangan. Ia mencakup seperangkat nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya, berakar pada kesadaran akan fitrah dan jati diri manusia sebagai makhluk yang memikul misi tertentu di pentas bumi. Kemanusiaan mengantar putra-putri Adam menyadari arah yang dituju serta beratnya perjuangan untuk mencapainya.
Pakaian, dalam realitas sosial maupun narasi Al-Quran, memiliki fungsi laten sebagai pembeda. Ia memisahkan seseorang atau sekelompok orang dari yang lain, menciptakan kasta-kasta status sosial, ekonomi, hingga profesi. Lebih jauh, pakaian memberikan pengaruh psikologis yang kuat, sering kali menebalkan ego atau menciptakan ilusi superioritas. Namun, di miqat, segala bentuk perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan tanpa sisa. Semua jamaah diwajibkan memakai pakaian yang sama agar pengaruh-pengaruh psikologis dari atribut duniawi itu luruh, hingga semua merasa berada dalam satu kesatuan dan persamaan yang utuh.
Narasi yang dikutip dalam buku tersebut memberikan gambaran tajam tentang transformasi ini. Di miqat, setiap ras dan suku diminta melepaskan pakaian sehari-hari yang mungkin melambangkan watak-watak kebinatangan: serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan, tikus yang mencirikan kelicikan, anjing yang menyimbolkan tipu daya, atau domba yang menjadi tanda penghambaan buta. Di sana, manusia diperintahkan untuk meninggalkan semua topeng itu dan mulai berperan sebagai manusia yang sesungguhnya.
Dua helai pakaian putih yang dikenakan di miqat sejatinya adalah pengingat akan kefanaan. Warna dan bentuknya serupa dengan kain yang akan membalut tubuh manusia ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini. Penggunaan kain putih ini seharusnya mempengaruhi jiwa sang pemakai, memaksanya menyadari kelemahan, keterbatasan, serta pertanggungjawaban besar yang akan ditunaikan kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kemanusiaan universal ini juga membawa kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendirian. Ia dituntut untuk bertenggang rasa dalam berinteraksi, menyadari dimensi ganda dirinya yang harus terus berevolusi hingga titik akhir. Di sisi Tuhan, tidak ada lagi perbedaan antara raja dan rakyat, antara si kaya dan si miskin, kecuali atas dasar pengabdian atau takwa kepada-Nya.
Prinsip ini sejalan dengan spirit Al-Quran yang menegaskan kesetaraan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجECَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُواArtinya:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Pada akhirnya, ihram adalah manifesto bahwa kemanusiaan adalah identitas tunggal yang paling mendasar. Melalui penanggalan pakaian biasa, ibadah haji mengajarkan bahwa sebelum menjadi pejabat, pengusaha, atau cendekiawan, kita hanyalah manusia yang sama-sama rentan dan sama-sama bergantung pada rahmat Sang Pencipta. Kemanusiaan inilah yang membekali manusia dengan moral untuk memimpin makhluk lain mencapai tujuan penciptaan secara beradab.
(mif)