Kontroversi gelar Pak Haji mencerminkan kompleksitas budaya dan agama di Indonesia. Buya Yahya memaparkan dua pandangan: eksklusivitas gelar versus motivasi. Esensinya bukan pada gelar, tetapi pada perilaku pasca-haji. Perdebatan ini menunjukkan dinamika sosial-religius masyarakat yang terus berkembang, menekankan pentingnya niat baik dalam penggunaan gelar keagamaan.
Kehadiran pendakwah Mamah Dedeh di acara tedak siten putri kedua Atta Halilintar, Azzura Humaira Nur Atta, menjadi magnet tersendiri bagi keluarga Halilintar.
Sepulang dari Tanah Suci, jamaah haji di Indonesia kerap mendapat gelar haji di depan nama mereka. Namun, menurut Ajengan Wawan Gunawan Abdul Wahid, anggota Majelis Tarjih
Lebih dari 1,5 juta umat Islam di dunia melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci pada 1445 H. Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang wajibkan bagi mereka yang mampu.
Umat Islam dalam waktu dekat juga akan merayakan Idul Adha yang di dalamnya terdapat ritual ibadah haji. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Muti berseloroh
Gelar haji di Indonesia disematkan kepada seseorang yang baru pulang menunaikan ibadah di Tanah Suci Makkah. Namun bagaimana makna dari title tersebut.
Gelar haji sudah menjadi budaya yang mengakar di Indonesia. Masyarakat akan memanggil orang yang pulang dari ibadah haji dengan gelar yakni Haji untuk pria dan 'Hajjah' untuk wanita. Lalu, apakah gelar itu boleh digunakan sepulang dari ibadah haji?
Di musim haji, kerap beredar kabar bahwa gelar haji merupakan pemberian Belanda. Sejarawan Muslim, Dr Tiar Anwar Bachtiar, menegaskan, pemberian gelar haji bukan pemberian Pemerintah Kolonial Belanda pada masa penjajahan.