Di bawah bayang-bayang bendera VOC dan Hindia Belanda, perjalanan haji bertransformasi dari sekadar rute komersial yang eksploitatif menjadi instrumen intelijen yang penuh kecurigaan politik.
Mengarungi samudra berbulan-bulan di atas palka kapal dagang, jemaah haji zaman dahulu bertaruh nyawa melawan badai dan penyakit. Sebuah riwayat pengorbanan kelas bawah yang luput dari catatan sejarah.
Rivalitas politik membara di Jawa saat Banten dan Mataram bersaing mengirim utusan ke Mekah demi gelar sultan. Misi diplomatik yang melahirkan pergeseran legitimasi spiritual dan proteksi supranatural.
Sultan Abul Mafakhir mengirim utusan ke Mekah membawa rempah dan tiga kitab keagamaan. Misi suci abad ke-17 yang memadukan pencarian legitimasi politik, pemecahan kebuntuan teologis, dan asal-usul gelar haji.
Ibadah haji di Kesultanan Banten melampaui ritus spiritual personal. Di bawah bayang-bayang ekspansi dagang VOC, pelayaran ke Mekah bertransformasi menjadi panggung diplomasi global dan poros perlawanan.
Pangeran Bratalegawa memahat sejarah sebagai Haji Purwa, perintis rukun Islam kelima dari tatar Sunda. Perjalanan lintas samudra yang mengubah bandar pelabuhan sepi menjadi episentrum peradaban baru.
Sejarawan Muslim Dr Tiar Anwar Bachtiar mengungkapkan bahwa ibadah haji di masa lalu membuat jemaah haji bisa belajar Islam lebih instens. Saat pulang ke Tanah Air, mereka membawa semangat perjuangan melawan penjajah.
Di musim haji, kerap beredar kabar bahwa gelar haji merupakan pemberian Belanda. Sejarawan Muslim, Dr Tiar Anwar Bachtiar, menegaskan, pemberian gelar haji bukan pemberian Pemerintah Kolonial Belanda pada masa penjajahan.
Arab Saudi telah menghadapi berbagai epidemi dan wabah virus sejak meningitis. Pada 2009, dengan menyebarnya flu babi, Kerajaan melarang peziarah dengan penyakit kronis melakukan haji.