Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

Haji dan Pandemi, Sejarah Mencatat Wabah Berulang Kali Ancam Jamaah

fajar adhitya Kamis, 22 Juli 2021 - 05:03 WIB
Haji dan Pandemi, Sejarah Mencatat Wabah Berulang Kali Ancam Jamaah
Jamaah haji berdoa di Jabal Rahmah saat berwukuf di Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi (19/7/2021). Foto: AFP
LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi Covid-19 membuat pelaksanaan haji dalam dua tahun terakhir menjadi sangat ketat. Kerajaan Arab Saudi menutup dua Kota Suci dari masyarakat dunia yang ingin berziarah demi mecegah penyebaran virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China tersebut.

Meski begitu, Covid-19 bukanlah wabah pertama yang memengaruhi ritual haji. Ibnu Katsir dalam Al-Bidaya wa Nihaya mencatat Makkah pernah dilanda endemi yang dikenal sebagai Al Mashri pada 968 Masehi. Wabah tersebut menewaskan banyak orang, termasuk hewan-hewan ternak penduduk.

"Sedangkan peziarah yang mampu menunaikan ibadah haji tidak lama kemudian meninggal dunia," dikutip dari Arabnews, Rabu (21/7/2021).

Beberapa sejarawan mencatat, konvoi peziarah mengalami penurunan yang signifikan selama periode tersebut. Terutama dari daerah yang dilanda endemi karena memburuknya keadaan sosial dan ekonomi yang disebabkan sejumlah lain di periode selanjutnya.

Kemudian, pada abad ke-15, Arab Saudi kembali diserang wabah penyakit. Dalam kitab ensiklopedi sejarah bertajuk Inba’ al-Ghumar bi Abna al-Umr, Ibnu Hajar mencatat, wabah tersebut mengakibatkan korban meninggal mencapai 1.700 orang.

Sebanyak 40 orang meninggal setiap hari. Kerajaan lantas menutup masjid-masjid di Makkah, termasuk Masjidil Haram untuk menyelamatkan nyawa warganya. Seiring perkembangan zaman, perjalanan haji mengalami reformasi dalam transportasi.

Namun, kemudahan transportasi justru menjadi beban ketika wabah melanda dan membuat penyakit tersebar lebih cepat. Pada abad ke-19, kolera menjangkiti Eropa hingga semenanjung Arab dan mempengaruhi jalur-jalur haji.

Wilayah Hijaz mengalami epidemi yang berulang kali melanda daerah itu melalui para peziarah dari India. Kolera mengancam rute ziarah Islam, terutama setelah pembukaan Terusan Suez yang menyebarkan penyakit di kapal dan kereta api serta memaksa peziarah untuk tinggal di karantina selama 15 hari di terusan atau Laut Merah sebelum menuju ke Hijaz.

Penyakit tersebut pertama kali muncul di Jazirah Arab pada 1821. Namun, penyakit itu tidak mencapai Hijaz setidaknya hingga 1831, ketika pertama kali muncul di Mekah. Kondisi tersebut menyebabkan kematian setidaknya tiga perempat dari para peziarah yang tiba pada saat itu. Kondisi tersebut lantas dikenal dengan sebutan epidemi India dan menyebar dengan kecepatan yang menakjubkan.

Menurut buku Sejarah Kesehatan di Asia Selatan yang diterbitkan Indiana University Press, kolera membunuh 20.000 orang di Makkah pada 1831 dan epidemi berikutnya datang ke wilayah di kota-kota suci pada 1841, 1847, 1851, 1856–1857, dan 1859.

Pada 1840, Kekaisaran Ottoman memberlakukan karantina dan mengatur pemberhentian di penyeberangan perbatasan dan di kota-kota dekat tempat suci. Kemudian, Meningitis Research Foundation yang berbasis di Inggris mencatat, epidemi meningitis telah dikaitkan dengan haji,.

Kasus penyakit tersebut juga terjadi di seluruh dunia setelah peziarah kembali ke negara masing-masing. Sejak itu, Arab Saudi mewajibkan vaksinasi meningitis untuk masuk ke Kerajaan Arab Saudi selama haji dan umrah sejak 2002. Tidak ada wabah penyakit terkait haji yang dilaporkan sejak itu.

Arab Saudi telah menghadapi berbagai epidemi dan wabah virus sejak meningitis. Pada tahun 2009, dengan menyebarnya flu babi, Kerajaan memutuskan melarang orang tua, anak-anak dan peziarah dengan penyakit kronis melakukan haji.

Selain itu, dengan eskalasi coronavirus sindrom pernafasan Timur Tengah pada 2013, Arab Saudi meminta Muslim lanjut usia dan sakit kronis untuk menahan diri dari melakukan haji, karena penyakit itu telah menewaskan puluhan orang di Kerajaan.

Selanjutnya, selama wabah Ebola di Afrika antara 2014 dan 2016, di mana 11.300 orang meninggal, Arab Saudi membuat rencana darurat khusus yang mencakup penempatan staf medis di bandara dan mendirikan unit isolasi karena hampir 3 juta Muslim dari seluruh dunia berbondong-bondong untuk melakukan haji.

(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)