LANGIT7.ID-Jakarta; Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Singgih Januratmoko, menekankan pentingnya peran Ketua Kloter dalam menjaga kelancaran pelayanan jamaah Indonesia saat memasuki fase puncak ibadah haji di Armuzna.
Menurut Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI itu, fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina menjadi tahapan paling menentukan sekaligus paling rawan dalam seluruh rangkaian ibadah haji karena jutaan jamaah dari berbagai negara akan bergerak dalam waktu bersamaan di lokasi yang sama.
“Ketua Kloter adalah ujung tombak dalam mengorkestrasi kenyamanan jamaah selama di Armuzna,” ujar Politisi Fraksi Partai Golkar ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Singgih saat memberikan keynote speech dalam Rapat Koordinasi Petugas Haji Daerah se-Provinsi Jawa Tengah di Kantor Sektor 5, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (23/5/26) dikutip, Selasa (26/5/2026).
Singgih mengingatkan bahwa tantangan di Armuzna tidak hanya berkaitan dengan kepadatan pergerakan jamaah, tetapi juga kondisi cuaca ekstrem yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Situasi tersebut, menurut dia, berpotensi memunculkan persoalan di lapangan jika koordinasi antarpetugas tidak berjalan optimal.
“Situasi di Armuzna tidak mudah. Mungkin akan dinampakkan keegoisan anggota tim kita, mungkin akan ada perdebatan dan rebutan hak tempat di maktab,” kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini.
Karena itu, ia meminta Ketua Kloter tidak hanya fokus pada pendampingan jamaah, tetapi juga aktif membangun komunikasi dengan PPIH dan pihak syarikah sebagai penyedia layanan agar seluruh kebutuhan teknis dapat dipastikan sejak awal.
Ia menekankan bahwa detail teknis menjelang keberangkatan jamaah ke Arafah harus benar-benar dipastikan secara rinci, mulai dari kesiapan armada, kapasitas bus, fasilitas yang ramah bagi jamaah lanjut usia, hingga kepastian lokasi maktab.
“Jam berapa jamaah akan diantar ke Arafah, berapa jumlah bus yang akan mengantar, apakah bus yang digunakan ramah lansia, semua harus dikoordinasikan,” tegasnya.
Selain proses mobilisasi menuju Arafah, Singgih juga meminta petugas menyiapkan pola pendampingan yang matang selama mabit di Muzdalifah dan saat pelaksanaan lontar jumrah di Mina. Ia menilai pemetaan jamaah berdasarkan skema Nafar Awal dan Nafar Tsani perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penumpukan.
Menutup arahannya, Singgih mengajak seluruh petugas menjaga kondisi fisik sekaligus memperkuat soliditas tim agar pelayanan kepada jamaah tetap maksimal hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.
“Jaga sehat, jaga semangat, bertugaslah dengan sepenuh hati, kembali ke Tanah Air dengan sehat dan selamat,” kata dia.
(lam)