Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

Sejarawan: Gerakan Melawan Penjajahan Lahir dari Para Jemaah Haji

Muhajirin Jum'at, 15 Juli 2022 - 17:13 WIB
Sejarawan: Gerakan Melawan Penjajahan Lahir dari Para Jemaah Haji
Anggota Sarekat Dagang Islam (SDI) (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Sebelum Indonesia merdeka, orang yang pergi haji tidak sekadar melakukan perjalanan spiritual saja. Namun juga sekaligus perjalanan akademik.

Sejarawan Muslim, Dr Tiar Anwar Bachtiar, menuturkan, dulu belum ada pesawat seperti sekarang ini, secara geografis orang yang menunaikan haji dianggap sebagai orang yang sangat penting dan strategis. Perjalanan haji, terutama abad ke-19 dan abad ke-20, juga menjadi perjalanan mencari ilmu dan membangun relasi internasional.

“Dulu, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tapi juga perjalanan ilmiah. Karena perjalanan menggunakan kapal itu bisa 2-3 bulan. Sampai di sana belum tentu juga musim haji sedang berjalan, jadi mereka menunggu. Rata-rata menghabiskan. Waktu satu sampai dua tahun,” kata Tiar di Persis TV, dikutip Jumat (15/7/2022).

Baca Juga: Sejarawan Bantah Asal-usul Gelar Haji di Indonesia Pemberian Belanda

Saat di Mekkah, mereka belajar kepada para ulama dan masyaikh di Masjid Haram dan Masjid Nabawi. Dari situ terbangun kesadaran tentang kondisi Tanah Air yang sedang terjajah sama seperti belahan dunia Islam lain.

Maka tak heran, bila pada masa kolonial Belanda banyak orang yang pulang haji tampil sebagai tokoh-tokoh pergerakan. Para tokoh itu mampu mempengaruhi masyarakat untuk melawan pemerintah Belanda.

Salah satunya gerakan pembaharuan Islam di Sumatera Barat yang sekaligus motor perlawanan terhadap Belanda, yakni kaum Padri.

“Mereka bergaul dengan umat Islam seluruh dunia, tahu masalah, sehingga pulang ke Indonesia mereka jadi orang-orang penting. Jadi pemimpin di masyarakatnya. Sama seperti sekarang orang pergi ambil S2-S3. pulang dapat gelar akademik,” jelas Tiar Anwar Bachtiar.

Baca Juga: Haji dan Pandemi, Sejarah Mencatat Wabah Berulang Kali Ancam Jamaah

Munculnya para pemimpin Padri dan pengaruh mereka di tengah masyarakat tidak terlepas dari pengaruh yang didapat dari kawasan Hijaz sepulang haji. Pengaruh ini bahkan semakin kuat hingga mampu menggerakkan masyarakat angkat senjata melawan Belanda pada Perang Padri (1833-1838).

Pengaruh gerakan haji semakin menguat memasuki abad ke-20. Hasil belajar di Tanah Suci membuat banyak tokoh membuat gerakan baru, yakni pendekatan politik dengan mendirikan organisasi-organisasi masyarakat.

Tercatat Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto memperluas cakupan politiknya dengan mendirikan Sarekat Islam (SI) pada 1911.

Pada 1912, Haji Ahmad Dahlan yang pernah Tinggal cukup lama di Mekkah mendirikan Muhammadiyah yang berfokus pada pendidikan dan kegiatan sosial untuk membentengi umat dari pemurtadan.

1923 di Bandung, Haji Muhammad Yunus dan Haji Muhammad Zam-Zam mendirikan Persatuan Islam (Persis) dan Haji Abdul Halim mendirikan Persyarikatan Ulama di Majalengka. Gara-gara ini juga pengasuh pesantren menempuh jalan para aktivis Islam dengan mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926.

Baca Juga: Mengenal Karakter Para Pahlawan Islam Penjaga Gawang Keutuhan NKRI

Munculnya gerakan-gerakan Islam itu semakin menekan posisi politik Belanda di Nusantara. Maka itu, Belanda berusaha untuk menekan supaya tidak berbahaya. Masuk akal jika Ordonansi Haji 1859 dari Belanda membatasi dan cenderung melarang penggunaan gelar haji, karena masyarakat sangat menghormati gelar.

Hal ini menjadi bukti kuat gelar haji bukan pemberian Belanda. Tapi budaya yang sudah melekat lama di kalangan kaum muslim di Indonesia.

“Urusan haji adalah kebiasaan masyarakat di kawasan yang jauh dari Mekah dan Madinah, untuk memberikan penghormatan kepada orang-orang yang pulang melaksanakan ibadah haji,” kata Tiar Anwar Bachtiar.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)