LANGIT7.ID - Penulis buku Utang Republik pada Islam, Lukman Hakiem, mengingatkan, keberadaan Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peranan tokoh-tokoh Islam. Mereka bergerak dengan semangat jihad melawan segala bentuk penjajahan di bumi nusantara.
“Ketika ada anak bangsa yang mempermasalahkan jenggot, saya ingin ingatkan bahwa di antara 3 perumus teks proklamasi ada seorang bernama Ahmad Soebardjo Joyo Adi Suryo, orang Aceh, keturunan Aceh terdampar di Karawang dan tinggal di Karawang, nama aslinya Tengku Abdul Manaf,” kata Lukman Hakim dalam webinar Utang Republik untuk Islam melalui kanal youtube Pustaka Al-Kautsar, dikutip Rabu (10/11/2021).
Tengku Abdul Manaf berganti nama menjadi Ahmad Subarjo atas saran pamannya. Dia disarankan memakai nama Jawa jika ingin berkiprah ke ranah nasional. “Beliau ini berjanggut. Padahal bukan lulusan Timur Tengah, tidak pernah ngaji di pesantren salaf, beliau lulusan Belanda,” ucap Lukman Hakim.
Peristiwa perumusan naskah proklamasi merupakan peristiwa bersejarah dalam tonggak perjalanan bangsa Indonesia. Sehingga, dalam perumusan diisi tokoh-tokoh golongan muda dan golongan tua. Selain nama Ahmad Subarjo, ada pula Teuku Mohammad Hasan (anggota PPKI) dan Burhanuddin Mohammad Diah (pemuda wartawan).
Baca Juga: Detik-detik Pertempuran 10 November di Surabaya, Dari Ultimatum Sekutu Hingga Resolusi Jihad
Tiga tokoh itu berperan penting dengan cara mereka masing-masing dalam proses perumusan naskah proklamasi. Ahmad Subarjo berperan sebagai perumus naskah bersama Soekarno dan Muhammad Hatta, BM Diah mendampingi Sayuti Melik ketika mengetik naskah proklamasi, dan Teuku Mohammad Hatta memberikan saran tentang siapa tokoh yang dirasa pantas menandatangani naskah bersejarah itu.
Selain tokoh-tokoh itu, ada pula Prawoto Mangkusasmito, seorang aktivis muslim yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia kesembilan dan Ketua Umum Majelis Syuro Muslim Indonesia yang terakhir.
Beliau juga pernah menjadi pejabat Ketua Badan Pekerja KNIP selama Indonesia menjadi negara serikat menggantikan Mr. Assaat yang menjadi pejabat Presiden RIS sampai 15 Agustus 1950.
“Pak Prawoto berjenggot, beliau menghadap presiden dengan baju koko dengan sarung, dia percaya diri saja. Pak Prawoto bersama Mr. Asaat itu penjaga gawang republik. Jangan lupa, republik Indonesia itu yang kita proklamasikan, pernah menyerahkan kedaulatannya kepada Republik Indonesia Serikat, artinya RI ini pernah bubar, karena itu resmi,” ucap Lukman Hakim.
Di sisi lain, Lukman mengingatkan tulisan Muhammad Natsir berjudul Revolusi Indonesia setelah 10 tahun Indonesia merdeka. Dalam tulisan tersebut, Muhammad Natsir menggambarkan dirinya sebagai seorang muslim yang berbahagia menjadi warga negara Indonesia.
“Saya ingat betul kalimat Pak Natsir dalam tulisan itu, ‘Kita dapat menjadi seorang muslim yang baik, yang dengan riang gembira menyanyikan Indonesia Tanah Air-ku’. Artinya, tidak bisa dipisah antara eksistensi dirinya sebagai muslim dengan eksistensinya dirinya sebagai warga negara,” ucap Lukman.
Bung Hatta pernah mendeskripsikan kekuatan Partai Syarikat Islam dalam mengawal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada 1912, dia pernah menulis, “Ketika keberadaan partai politik itu masih dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda, Partai Syarikat Islam sudah eksis. Partai Syarikat Islam menjadi rumah besar bangsa Indonesia, menjadi tempat semua orang, semua golongan menumpahkan isi perutnya.”
Demikian pula Ki Hajar Dewantara yang pernah menjadi Ketua Syarikat Islam cabang Bandung. Ia terkesan dengan perjuangan Syarikat Islam dalam melawan hegemoni Belanda. Kala itu, Partai Syarikat Islam dipimpin oleh HOS Cokroaminoto.
“Ki hajar tertarik dengan Syarikat Islam, ‘Yang menarik dari Syarikat Islam adalah sifatnya yang radikal mendukung perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Jadi, kalau kita tarik jauh ke belakang, tidak ada umat Islam menarik garis pemisah dengan Indonesia. Belum ada republik, orang-orang ini sudah mendukung,” ucap Lukman.
Selain tokoh-tokoh di atas, Lukman juga menyebut beberapa tokoh muslim lain yang memiliki peran penting terhadap republik ini. Di antaranya ada nama AR Baswedan dan Mohammad Husni Thamrin.
(jqf)